Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Masalah Data Sangat Krusial

8 Kamis, 14 Nov 2024, 00:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Masalah Data Sangat Krusial Masalah Data Sangat Krusial Doc: Antara
Ket. BPS Gunakan Standar Lama Tentukan Kelompok Rakyat Miskin Ekstrem

Jika masalah data tak kunjung teratasi, maka kebijakan yang diambil dikhawatirkan tidak akurat.

JAKARTA – Masalah data masih menjadi pekerjaan rumah (PR) pemerintah lantaran selama dua dekade terakhir persoalan ini tak kunjung terselesaikan. Dikhawatirkan, permasalahan tersebut dapat membuat kebijakan yang diambil kurang akurat.

Guru Besar Tetap Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Rizal Edi Halim, mengatakan masalah data memang tidak pernah tuntas, dari 2014 sejak pencanangan Satu Data Indonesia. Namun sampai sekarang, masalah data ini tidak kunjung teratasi.

Selama dua dekade, pemerintah tak kunjung menyelesaikan sinkronisasi data, baik dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Badan Pusat Statistik (BPS), Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil), Kementerkan Kesehatan, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan. Semua data berbeda sehingga pengambilan kebijakan sektoral akan kontradiksi antara satu sektor dengan sektor lain.

"Saya pikir penyelarasan data ini krusial sebab ketika data ini tidak sinkron dan keliru maka proses pengambilan kebijakan pun juga keliru. Maka proses validasi kembali data ini penting sehingga ketika disodorkan ke Presiden Prabowo kebijakan yang diambil tetap guna, tepat sasaran dan tepat waktu," ucap Rizal Edi kepada Koran Jakarta, Rabu (13/11).

Seperti diketahui, Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/bKepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN/Bappenas), Rachmat Pambudy, dalam peluncuran buku Tabel Morbiditas Penduduk Indonesia di Jakarta, Senin (11/11), menyampaikan angka kemiskinan dan angka kecukupan gizi (AKG) di Indonesia sangat kontradiktif.

Menurut dia, apabila rakyat tidak miskin, seharusnya AKG juga bagus. Namun, AKG di Indonesia yang masuk kategori kurang gizi lebih dari 180 juta jiwa, walaupun mereka tidak tergolong kelompok miskin. Jika angka-angka tersebut dijadikan acuan maka kondisi kesehatan di Tanah Air perlu dicek ulang.

Peneliti Mubyarto Institute Awan Santosa dihubungi terpisah mengatakan perlu diverifikasi lagi. Dia menambahkan patokan garis kemiskinan kemungkinan terlalu rendah sehingga nampak tidak sinkron dengan AKG.

"Sekiranya menggunakan garis yang lebih tinggi, seperti halnya standar Bank Dunia barangkali akan lebih relate dengan AKG," ucapnya.

Di samping itu perlu dikaji lagi kaitan pola konsumsi dengan angka kecukupan gizi (AKG). Pada 2018, hasil studi menemukan 30 persen anak orang kaya mengalami stunting. Hal ini karena pola asuh dan konsumsi tidak memperhatikan asupan gizi memadai.

"Artinya, pendekatannya harus sejak dalam kandungan. Perlu pendekatan multi-aspek terkait literasi, ekonomi, kesehatan, agama, dan sosial-budaya," jelasnya.

Data Lama

Soal masalah data ini juga disoroti DPR RI. Wakil rakyat menilai BPS menggunakan standar lama internasional dalam menentukan kelompok rakyat miskin ekstrem. Padahal, standar garis kemiskinan terbaru versi Bank Dunia mengacu angka pendapatan baru sebesar 3,2 dollar AS per kapita per hari. Ukuran ini diadopsi sejak 2022 melalui angka Purchasing Power Parity (PPP) 2017 dari sebelumnya PPP 2011.

Anggota Komisi X DPR RI Agung Widyantoro menyoroti standar pengukuran kelompok masyarakat miskin yang dilakukan BPS tersebut. Menurutnya, angka kemiskinan yang dikeluarkan tidak sesuai dengan fakta yang ada di lapangan.

“Contohnya rumah masyarakat yang layak huni tetapi sudah ditempelkan stiker tidak mampu, kemudian sebaliknya. Hal ini yang memicu terjadinya kesalahan dalam menyalurkan bantuan,” ungkapnya dalam Rapat Kerja Komisi X dengan Kepala BRIN dan Kepala BPS di Ruang Rapat Komisi X, Gedung Nusantara I, DPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (12/11)

BPS hingga kini belum ada rencana melakukan pengubahan metodologi pengukuran standar kelas miskin ekstrem sesuai standar baru Bank Dunia itu.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Angkatan Darat AS Berlatih Menggali Kuburan Massal untuk Skenario Perang dengan Banyak Korban
    Apa mungkin AS akan melakukan invasi darat ke ...
  • Satgas Penertiban Kawasan Hutan Selidiki Perusahaan AK, Jejak Hubungan dengan Oknum Aparat Didalami
    Ditanya siapa ak itu kq malah balik bertanya? ...
  • Andrea Bocelli Bikin Jakarta Terpukau! Konser Romanza Hadirkan Malam Penuh Keajaiban
    Salut banget dengan konser Andrea Bocelli sangat mengharumkan ...
  • Kapasitas Produksi Menganggur, Industri Didesak Bangkit
    Berita yang sangat melegakan bagi kita yang bergerak ...
  • Jakarta Timur Bersiap Jadi Magnet Investasi Baru, Kawasan 370 Hektare Ini Dilirik
    Tidak akan sukses. Catat ini. Ormas sm warlok ...
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Luar Negeri
Mengejutkan! Moldova Disebu...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

Mengagetkan Fakta Ini, Hampir 30 Persen Penduduk Kanada Alami Kesulitan Keuangan Rumah Tangga

08 Nov 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.