Korut: Presiden Korsel Telah Tingkatkan Risiko Perang Nuklir

Senin, 04 Nov 2024, 02:59 WIB

SEOUL - Media pemerintah Korea Utara (Korut) pada Minggu (3/11) merilis buku putih yang menuduh Presiden Korea Selatan (Korsel), Yoon Suk-yeol, telah membahayakan negaranya terhadap perang nuklir melalui kebijakannya terhadap Korut.

Buku putih tersebut, yang disusun oleh Institut Studi Negara Musuh Korut dan dirilis oleh kantor berita KCNA, mengkritik pernyataan sembrono Presiden Yoon tentang perang, mengabaikan elemen-elemen perjanjian antar-Korea, terlibat dalam perencanaan perang nuklir dengan Amerika Serikat (AS), dan mengupayakan hubungan yang lebih dekat dengan Jepang dan NATO.

Ket. Foto: Latihan Bersama l ­Sejumlah helikopter tempur AH-64 Apache milik Angkatan Udara Korsel dan AS tinggal landas dari sebuah lokasi saat helikopter tersebut diterjunkan dalam latihan tempur bersama di Pocheon, Korsel, pada Rabu (30/10) pekan lalu. Pada Minggu (3/11), Kepala Staf Gabungan (JCS) Korsel melaporkan bahwa AS, Korsel, dan Jepang, kembali menggelar latihan tempur udara sebagai tanggapan atas peluncuran misil balistik antarbenua oleh Korut baru-baru ini. — Sumber: AFP/Jung Yeon-je

"Tindakan militernya yang semakin memburuk hanya menghasilkan konsekuensi paradoks yang mendorong (Korut) untuk menimbun senjata nuklirnya pada tingkat eksponensial dan lebih jauh mengembangkan kemampuan serangan nuklirnya," tulis surat kabar itu.

Presiden Yoon yang adalah seorang konservatif, telah mengambil garis keras terhadap Korut karena telah terus mengembangkan persenjataan nuklir dan misil balistik yang menentang resolusi Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa.

Pemerintahannya menyalahkan Korut karena meningkatkan ketegangan dengan uji coba senjata dan memberikan bantuan militer dan pasukan untuk membantu perang Russia di Ukraina.

Sebelumnya pada Sabtu (2/11), Korut mengatakan bahwa mereka tidak punya pilihan selain melanjutkan upaya untuk membangun kemampuan membela diri dan menuduh AS dan Korsel mendorong Semenanjung Korea ke dalam skenario perang.

"Korut akan lebih mengintensifkan upaya praktisnya untuk mencegah ancaman militer dari pasukan musuh dan menjaga keseimbangan kekuatan di kawasan," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Korut seperti dilaporkan kantor berita KCNA.

Juru bicara tersebut menyalahkan Washington DC dan Seoul karena menggelar berbagai macam rencana perang lebih dari 20 kali pada tahun 2024, sehingga tidak ada pilihan bagi Pyongyang selain mencegah sepenuhnya bahaya pecahnya perang nuklir.

Latihan Gabungan

Kedua Korea secara teknis masih berperang setelah perang tahun 1950-53 berakhir dengan gencatan senjata, bukan perjanjian damai.

Pyongyang telah mengambil langkah-langkah untuk memutuskan hubungan antar-Korea, mendefinisikan ulang Korsel sebagai negara musuh yang terpisah dan bermusuhan, sejak pemimpin Korut, Kim Jong-un menyatakannya sebagai musuh utama pada awal tahun 2024 dan mengatakan penyatuan kembali Korea tidak mungkin lagi.

Korut pun diketahui telah meledakkan sebagian jalan antar-Korea dan jalur kereta di sisinya di perbatasan yang dijaga ketat antara kedua Korea pada bulan Oktober, dan citra satelit menunjukkan sejak itu negara itu telah membangun parit besar di bekas persimpangan tersebut.

Sementara itu pada Minggu, AS mengerahkan bomber B-1B untuk latihan udara gabungan dengan Korsel dan Jepang, sebagai tanggapan atas peluncuran misil balistik antarbenua oleh Korut baru-baru ini, menurut Kepala Staf Gabungan (JCS) Korsel dalam sebuah pernyataan.

"Latihan militer tersebut menunjukkan komitmen kuat ketiga negara untuk menanggapi ancaman nuklir dan misil Korut melalui kerja sama," kata JCS seraya menyatakan bahwa ini adalah kedua kalinya pada tahun 2024 ketiga negara melakukan latihan udara gabungan dan keempat kalinya AS mengerahkan pesawat bomber strategisnya di Semenanjung Korea. ST/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Dinkes Lebak Mencatat Pelaksanaan CKG Capai 47,52 Persen dari Jumlah Penduduk

Incar Dana Segar, Perusahaan Milik Kampus UGM Siap IPO di Pasar Modal

BPBD Sulteng: Sanksi Pidana Akan Diberikan Terkait Pembakaran Lahan dan Hutan

BMKG: Kabut Asap Selimuti Pekanbaru dengan Kualitas Udara Berbahaya

Chelsea Menang 3-2 atas Fulham pada Pertandingan Pertama Liga Inggris

Panglima TNI Dampingi Presiden Prabowo Tinjau Penanganan Karhutla di Riau dan Sumsel.

Karhutla Riau Meluas, TNI Kerahkan Satgas Khusus untuk Percepat Penanganan.

Komandan Lanud Sjamsudin Noor Dampingi Pangkodau II Tinjau Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan.

Liga Italia: AS Roma Hancurkan Fiorentina 4-0, Donyell Malen Cetak Hattrick

BMKG Prakirakan Cuaca Sebagian Besar Daerah di Wilayah Indonesia Cerah hingga Berawan Tebal

Jangan Biarkan Karhutla Meluas! KSP Minta Penanganan Cepat dan Tegas

NBA Rilis Jadwal Musim 2026-27, Laga Ulangan Final dan Reuni Para Bintang Jadi Sorotan

BMKG Beberkan Cuaca Hari Ini, Mayoritas Wilayah Diprediksi Cerah hingga Berawan

Butter Baby Hadirkan Klepon Donut, Jajanan Tradisional Indonesia dalam Semangat Kemerdekaan.

Calon Penumpang Tak Sabara Tunggu Operasi LRT dari Kelapa Gading ke Manggarai Mulai Besok

Manchester United Bersaing dengan Aston Villa dan Benfica untuk Boyong Alejandro Balde

Utang Whoosh Rp116 Triliun Disorot, Pemerintah Diminta Uji Risiko APBN

Busyet… 150 Roda Dua Dikandangkan dari Balap Liar di Jambi

Pelatih Mengeklaim, Tim Panahan Masih Bisa Bersaing di Asian Games Jepang

Jaga Elang Jawa, PGE Raih Penghargaan dari Kementerian Kehutanan di HKAN 2026.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.