AS: Pengiriman Pasukan Korut ke Russia Langgar DK PBB

Kamis, 31 Okt 2024, 02:59 WIB

WASHINGTON DC - Pemerintah Amerika Serikat (AS) menegaskan bahwa pengiriman pasukan Korea Utara (Korut) untuk membantu Russia dalam perang melawan Ukraina, merupakan pelanggaran terhadap sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB.

Dalam pengarahan pada Selasa (29/10) waktu setempat, juru bicara Kementerian Luar Negeri AS, Matthew Miller, menuturkan bahwa pemberian latihan militer dari Russia untuk pasukan Korut melanggar secara langsung sejumlah resolusi Dewan Keamanan PBB terhadap rezim Pyongyang, seperti resolusi 1718, 1874 dan 2270.

Ket. Foto: Uji Misil Balistik l ­Pemimpin Korut, Kim Jong-un (kanan) saat sedang meninjau pangkalan misil strategis di sebuah lokasi rahasia beberapa waktu lalu. Pada Rabu (30/10), kantor berita Yonhap melaporkan bahwa Korut telah menyelesaikan persiapan untuk menguji coba misil kelas ICBM dengan kemungkinan peluncuran akan bertepatan dengan pemilihan presiden AS pekan depan. — Sumber: AFP/KCNA VIA KNS

Selanjutnya ia mengungkapkan bahwa pasukan Korut yang diberikan pelatihan atau bantuan terkait penggunaan misil balistik atau senjata lainnya, juga merupakan pelanggaran lanjutan yang dilakukan Russia dan Korut terhadap embargo senjata, berdasarkan resolusi DK PBB tersebut.

Resolusi 1718 mencantumkan tindakan embargo senjata, termasuk nuklir dan misil, sementara resolusi 1874 mencakup larangan impor dan ekspor senjata dan bahan-bahan terkait, transaksi keuangan terkait pasokan, produksi dan penggunaan senjata, serta larangan penerimaan latihan dan ajaran. Sedangkan resolusi 2270 berisikan tentang pencegahan pendidikan pengembangan nuklir dan misil.

Selanjutnya, terdapat spekulasi yang menyebut bahwa sanksi terhadap Russia maupun Korut akan sulit dijatuhkan karena adanya penolakan Russia pada saat pertemuan Dewan Keamanan PBB terkait dugaan pengiriman pasukan Korut ke Russia yang digelar pada Rabu (30/10).

Namun Miller mencatat bahwa AS dan negara-negara lain akan tetap mempertahankan kemampuan untuk memberikan sanksi kepada Russia dan Korut.

Sementara itu kantor berita CNN pada Rabu melaporkan bahwa dua pejabat intelijen Barat menyebutkan bahwa pasukan Korut dalam jumlah yang kecil telah berada di dalam wilayah Ukraina.

Menurut CNN pada Selasa, para pejabat intelijen tersebut memperkirakan jumlah pasukan Korut itu akan bertambah seiring dengan selesainya latihan militer di Russia timur dan bergerak menuju garis depan di medan perang. Salah satu pejabat juga dilaporkan menyebut bahwa banyak dari mereka yang tampaknya telah beraksi di medan pertempuran.

Sebelumnya pada Selasa, badan intelijen Korea Selatan (Korsel), NIS, mengatakan bahwa sejumlah pasukan Korut, termasuk perwira tinggi militer, mungkin telah bergerak ke garis depan. Menanggapi klaim militer Ukraina bahwa sekitar 3.000 tentara Korut sedang berlatih di wilayah Kursk, NIS mengakui bahwa hal itu mungkin saja terjadi, namun menambahkan bahwa mereka belum dapat memastikannya.

Pada Senin (28/10), Kementerian Luar Negeri dan Pertahanan AS mengatakan bahwa Korut telah mengirim sekitar 10.000 tentara ke Russia untuk pelatihan, dan beberapa diantaranya telah bergerak lebih dekat ke Ukraina.

Selesaikan Persiapan

Pada Rabu, kantor berita Yonhap yang mengutip keterangan dari militer Korsel melaporkan bahwa Korut telah menyelesaikan persiapan untuk menguji coba misil kelas ICBM dengan kemungkinan peluncuran akan bertepatan dengan pemilihan presiden AS pekan depan.

"Korut juga telah menyelesaikan persiapan di lokasi uji coba nuklir Punggye-ri, sehingga meningkatkan kemungkinan uji coba nuklir ketujuh," ungkap kantor berita Korsel itu.

Dugaan persiapan Korut untuk melakukan uji coba misil l dan nuklir diuraikan kepada anggota parlemen Korsel dalam sebuah pengarahan oleh Badan Intelijen Pertahanan (DIA), demikian laporan Yonhap.

"Tampaknya persiapan hampir selesai untuk uji coba misil jarak jauh kelas ICBM, termasuk kendaraan peluncur luar angkasa," kata anggota parlemen Korsel.

Uji coba ICBM terakhir Korut dilakukan pada bulan Desember lalu ketika Pyongyang menembakkan ICBM berbahan bakar padat terbarunya, Hwasong-18.

Tidak ada penjelasan lebih lanjut mengenai uji coba nuklir yang diperkirakan akan dilakukan, namun Seoul mengatakan pada September bahwa Korut mungkin akan melakukan uji coba nuklir ketujuh setelah pemilu AS. ST/KBS/Yonhap/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

Berita Terbaru

Mau Tahu Rahasia Kecantikan Kulit dan Rambut Korea, Saksikan di BXc 2 pada 27 Agustus Mendatang

Aplikasi GoPay Hadirkan Fitur DBL Indonesia, Meriahkan Kompetisi Basket Pelajar se-Indonesia

Wujud Kepedulian BUMN, TelkomGroup Salurkan Bantuan Rp1,3 Miliar untuk Korban Gempa NTT

Resmikan Jaksinema Pasar Rumput, Wagub Rano Minta Bioskop Mini Rp15 Ribu di Tiap Rusun

Debt Collector Paksa Masuk ke Dalam Mobil, Piting Leher dan Ancam Pengemudi

TNI-Polri Bongkar Arena Judi Sabung Ayam di Gowa, Tidak Ada Orang di Lokasi

Dinsos Tanjungpinang Buka Ruang Bagi Warga untuk Perubahan Desil

Sudah 2 Hari Juanda Belum Ditemukan Akibat Terseret Arus saat Kemping di Pantai

DPR Sebut RUU Perampasan Aset Disusun dengan Hati-hati

Atasi Kebakaran Gambut di Kalimantan Barat, Wamen LH Diaz Hendropriyono Dorong Swasta Bangun Sekat Kanal

Resmikan RS Toto Tentrem, Gubernur Pramono Dorong Penguatan Layanan Stem Cell Jakarta

Apakah Rambut Botak Bisa Tumbuh Lagi? Kenali Tandanya

Sukhoi TNI AU Tergelincir di Lanud Hasanuddin Hingga Area Rumput Dekat Jalan Makassar-Maros

LRT Jakarta Pasang Tarif Promo Rp5.000! Rute Velodrome-Manggarai Siap Diresmikan

Cetak Sejarah di Paris! AG.AL Juara Club Champion EWC 2026, Kantongi Hadiah Rp110 Miliar

Paket Pernikahan Elegan di Pusat Jakarta! Mangkuluhur ARTOTEL Suites Buka Harga Mulai Rp25 Juta

Agrowisata Petik Anggur Kini Jadi Tren Wisata Baru di Kepulauan Riau

Mendagri: Korban Gempa NTT Bisa Cetak Ulang Dokumen KTP, KK, hingga BPKB Secara Gratis

BMKG: 6.409 Gempa Bumi Susulan Guncang Flores

DPR Dorong Pemerintah Buka Potensi Wajib Pajak Baru

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.