Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Krisis Air Ancam Produksi Pangan Global

📅 Jumat, 18 Okt 2024, 02:55 WIB | Oleh: Tim Penulis
Krisis Air Ancam Produksi Pangan Global Doc: AFP/Idrees MOHAMMED
Ket. Kelangkaan Air l Seorang perempuan mengisi tangki penampungan setelah ia menerima jatah air bersih dari truk pembawa air saat terjadi kelangkaan air di Bengaluru, India, pada Maret lalu. Dalam laporannya, Komisi Global tentang Ekonomi Air menyatakan bahwa tidak adanya penanggulangan terhadap krisis air dapat membahayakan lebih dari setengah produksi pangan dunia pada 2050.

PARIS - Tidak adanya penanggulangan terhadap krisis air dapat membahayakan lebih dari setengah produksi pangan dunia pada 2050. Para ahli memperingatkan hal itu dalam sebuah laporan utama yang diterbitkan pada Kamis (17/10).

"Hampir 3 miliar orang dan lebih dari setengah produksi pangan dunia kini berada di wilayah-wilayah di mana total penyimpanan airnya diperkirakan mengalami penurunan," kata laporan oleh Komisi Global tentang Ekonomi Air (GCEW).

"Perubahan iklim, penggunaan lahan yang merusak, dan salah urus yang kronis telah menempatkan siklus air global di bawah tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya," ungkap GCEW yang merupakan sebuah inisiatif penelitian dua tahun yang dibentuk oleh Belanda pada tahun 2022.

Laporan tersebut juga memperingatkan bahwa krisis air dapat menyebabkan penurunan PDB rata-rata sebesar delapan persen untuk negara-negara berpendapatan tinggi pada 2050 dan sebanyak 15 persen untuk negara-negara berpendapatan rendah. "Gangguan siklus air memiliki dampak ekonomi global yang besar," imbuh laporan tersebut.

Laporan GCEW juga menerangkan bahwa penurunan ekonomi juga akan menjadi konsekuensi dari dampak gabungan dari perubahan pola curah hujan dan peningkatan suhu akibat perubahan iklim, bersama dengan penurunan total penyimpanan air dan kurangnya akses ke air bersih dan sanitasi.

Dalam menghadapi krisis tersebut, laporan itu menyerukan agar siklus air dipandang sebagai komoditas umum global dan melakukan transformasi tata kelola air di semua tingkatan.

"Biaya yang dikeluarkan dalam tindakan ini sangat kecil dibandingkan dengan kerugian yang akan ditimbulkan oleh ketidakpedulian yang terus-menerus terhadap ekonomi dan kemanusiaan," demikian penuturan laporan tersebut..

Langka dan Mahal

Meskipun air sering dianggap sebagai anugerah alam yang melimpah, laporan tersebut juga menekankan bahwa air itu langka dan mahal untuk diangkut.

Oleh karenanya laporan tersebut menyerukan penghapusan subsidi yang merugikan di sektor-sektor yang membutuhkan banyak air atau mengalihkannya ke solusi penghematan air dan memberikan dukungan yang tepat sasaran bagi masyarakat miskin dan rentan.

"Kita harus memadukan harga air dengan subsidi yang tepat," kata Direktur Jenderal Organisasi Perdagangan Dunia, Ngozi Okonjo-Iweala, salah satu ketua GCEW, selama pengarahan daring.

Wakil ketua GCEW, Presiden Singapura, Tharman Shanmugaratnam, menegaskan perlunya melihat air sebagai masalah global, untuk berinovasi dan berinvestasi guna menyelesaikan krisis dan menstabilkan siklus hidrologi global. AFP/I-1

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Industri Akomodasi Melaju Kencang, Efek Berganda Pariwisata Dinanti
    Membaca data penyerapan tenaga kerja hingga hampir 26 ...
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta

Jakarta Merintis Diri Menjadi Hub Ekonomi Kreatif

22 menit yang lalu | Aloysius Widiyatmaka

Megapolitan
Jakarta Merintis Diri Menja...
Daerah
Mau Tahu Alasan Dedi Mulyad...
Ekonomi
GoPay Permudah Masyarakat I...
Megapolitan
Waoooww….Warga Bandung ak...
Luar Negeri
Gempa Tibet Tewaskan 16 Ora...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

Sabet 14 Medali Sehari, Indonesia Makin Kokoh di 9 Besar Asian Para Games 2026

23 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.