Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ayo Dukung Upaya Menkop UKM Teten Dorong Hilirisasi Komoditas Rempah

📅 Minggu, 13 Okt 2024, 02:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Ayo Dukung Upaya Menkop UKM Teten Dorong Hilirisasi Komoditas Rempah Doc: Antara/Pexel
Ket. Ilustrasi rempah-rempah

Jakarta - Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki menyatakan bahwa hasil-hasil bumi seperti perkebunan, pertanian, perikanan, dan rempah tidak boleh lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, tetapi harus melalui proses hilirisasi guna mendapatkan nilai tambah ekonomi.

Dalam sebuah diskusi di Bogor, Sabtu, Teten menyebut rempah bisa diolah untuk industri bumbu, selain juga untuk masuk rantai pasok bagian industri farmasi, makanan-minuman, dan industri kecantikan.

"Kita harus samakan visi semua pihak untuk merancang bangun desain program mengarah ke hilirisasi rempah," kata dia dalam siaran pers kementerian.

Menurut Teten, teknologi untuk melakukan hilirisasi rempah juga tidak sulit, terlebih Kemenkop UKM telah membangun pabrik-pabrik skala kecil dan menengah untuk mengolah sumber daya alam yang ada menjadi produk setengah jadi atau jadi.

Sebagai contoh, Teten menyebut nilam Aceh kini telah diolah menjadi minyak atsiri berkualitas tinggi yang memenuhi standar industri. Minyak nilam Aceh bahkan sudah bisa diekspor langsung ke Paris untuk digunakan sebagai bahan baku pembuatan parfum.

Indonesia, kata dia, saat ini memasok sekitar 80 persen kebutuhan nilam dunia untuk industri parfum.

Selain nilam, juga sudah ada hilirisasi komoditas cabai yang diolah menjadi pasta. Begitu juga dengan cokelat yang sudah ada pabrik pengolahannya.

"Rempah bisa dikembangkan dan diolah menjadi bumbu untuk masuk ke pasar dunia. Makanan Indonesia masih tertinggal bila dibanding Thailand dan Vietnam. Mereka jauh dikenal masyarakat dunia," kata Teten.

Ia mengakui saat ini industri rempah-rempah Indonesia masih menghadapi berbagai persoalan serius. Di antaranya, ketidakstabilan harga, kurangnya infrastruktur pendukung, permasalahan akses pasar, serta pengelolaan lingkungan yang kurang memperhatikan prinsip keberlanjutan.

"Rantai suplai yang belum terintegrasi dengan baik membuat banyak petani rempah berada dalam situasi ekonomi yang sulit. Sementara produk kita sering kali belum mencapai potensi nilai yang optimal di pasar global," ucapnya.

Pada kesempatan yang sama, Ketua Umum Dewan Rempah Kejayaan Indonesia (DRKI) Tjokorda Ngurah Agung Kusuma Yudha mengungkapkan hasil survei yang menyebutkan bahwa total perdagangan rempah dunia hampir mencapai 42 miliar dolar AS per tahun.

Namun, kata Tjokorda, 80 persen perdagangan rempah dunia dikuasai oleh China. Padahal, dari sisi produk dan industri rempah, Indonesia jauh lebih banyak.

"Mayoritas milik kita, tapi diperdagangkan di Provinsi Yulin, China," kata Tjokorda.

Oleh karena itu, Tjokorda berharap proses hilirisasi di industri rempah nasional bisa berjalan, seperti yang terjadi di hilirisasi sektor tambang.

"Sekarang ini, ekspor rempah kita masih barang mentah, dan itu sendiri-sendiri atau negara terlibat di dalamnya. Pelaku usahanya melakukan jual beli sendiri, dan kita tidak pernah mendapat nilai tambah dari rempah ini," kata Tjokorda.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

58 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1.5 jam yang lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.