- Home
-
- Luar Negeri
-
- Ilmuwan: Lapisan Ozon Kian...
Ilmuwan: Lapisan Ozon Kian Tipis Terutama di Kutub Selatan Antartika
Kamis, 19 Sep 2024, 08:46 WIBISTANBUL - Lapisan ozon terus menipis sejak 2020 terutama di Kutub Selatan dan Antartika, kata seorang ilmuwan Turki.
Prof. Mete Tayancdari Universitas Marmara di Istanbulmengatakan bahwa lapisan ozon seperti perisai yang menghalangi sinar ultraviolet(UV) yang berbahaya dari matahari, tetapi meneruskan cahaya yang bisa kita lihat dan penting bagi kehidupan di Bumi.
Tayanc mengatakan jika tidak ada lapisan ozon, manusia akan mengalami dampak negatif seperti penuaan kulit dini, berbagai macam kanker, gangguan sistem kekebalan tubuh, dan katarak dini. Proses fotosintesis pada tumbuhan juga akan terganggu.
Menurut dia, ada tiga faktor utama yang menyebabkan penipisan lapisan ozon: klorofluorokarbon (CFC), partikel halus, dan sinar matahari.
Tayanc memperingatkan bahwa Protokol Montreal tentang Zat Perusak Lapisan Ozon telah mendasari upaya untuk menghapus secara bertahap berbagai zat yang merusak lapisan ozon.
Protokol itu, yang diadopsi pada 16 September 1987 dan mulai berlaku pada 1 Januari 1989, adalah perjanjian internasional yang bertujuan melindungi lapisan ozon dengan menghilangkan zat-zat perusak ozon secara bertahap.
"Ketika Protokol Montreal pertama kali disusun, bahan kimia perusak ozon diperkirakan akan berkurang hingga 50 persen pada 1999. Namun, target ini kemudian direvisi," kataTayanc.
Amandemen London, yang ditandatangani pada 1990, menetapkan target baru pelarangan semua gas perusak ozon pada 2000.
"Meskipun emisi zat-zat tersebut telah berkurang secara signifikan, beberapa di antaranya masih digunakan dalam jumlah kecil hingga saat ini," katanya.
Sejak 2020, penipisan lapisan ozon terus berlangsung secara signifikan, kata Tayanc.
"Total level ozon terus menurun, dan karena kita sekarang berada di bulan September, area yang terkena dampak semakin meluas," kata ilmuwan itu.
"Hingga 9 September 2024, luas lubang ozon telah mencapai lebih dari 10 juta kilometer persegi," kata dia.
PBB menetapkan 16 September sebagai Hari Internasional Pelestarian Lapisan Ozon.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Padukan Seni, Teknologi, dan AI: Sampoerna University Pamerkan 11 Proyek Akhir Mahasiswa VCD
-
Kisah Tragis Orangutan Sempurna di Ketapang, Ditemukan Kritis hingga Akhirnya Mati.
-
Kebakaran Hutan di Kalimantan: Bencana atau Terencana.
-
JIF 2026: Buka Peluang Investasi Rp115 Triliun, 37 Proyek dan 13 Kawasan Ditawarkan
-
BMKG Prakirakan Sebagian Besar Wilayah Indonesia pada Rabu (26/8), Cerah Berawan
-
Samuel Eto’o Minta Federasi Sepak Bola Afrika Dukung Gianni Infantino
-
Lautaro Martinez Putuskan Bertahan di Inter Milan, meski Diincar Barcelona
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.