Pemerintah Harus Kerja Keras Tarik Investor Agar Ekonomi bisa Tumbuh 6-7 Persen

Sabtu, 31 Agu 2024, 00:04 WIB

Surabaya - Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menyatakan apabila ekonomi Indonesia ingin tumbuh 6 persen sampai 7 persen per tahun maka rasio investasi terhadap pertumbuhan PDB (produk domestik bruto) harus mencapai 40,8 persen sampai 47,6 persen.

Hal itu dikemukakan Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani dalam Rapat Kerja dan Konsultasi Nasional (Rakerkonas) Apindo, di Surabaya, Jawa Timur, belum lama ini. "Jika Indonesia ingin tumbuh 6-7 persen, maka rasio investasi terhadap pertumbuhan PDB harus mencapai 40,8 persen sampai 47,6 persen," kata Ketua Umum Apindo Shinta W Kamdani dalam Rakerkonas Apindo, di Surabaya, Jawa Timur, Kamis.

Ket. Foto: Shinta W Kamdani Ketua Umum Apindo - Indonesia harus berlari kencang dalam menjemput investasi yang tinggi melalui beberapa upaya meningkatkan produktivitas. — Sumber: ISTIMEWA

Shinta menuturkan hal tersebut lantaran kondisi ekonomi makro Indonesia dan global saat ini menunjukkan bahwa Incremental Capital Output Ratio (ICOR) Indonesia sebesar 6,8 yang meningkat dari periode 2016-2023. ICOR adalah angka rasio dari investasi terhadap PDB yang merupakan salah satu indikator makro dari tingkat efisiensi suatu perekonomian.

Semakin rendah nilai ICOR, semakin tinggi tingkat efisiensi investasi. Dari ICOR tersebut berarti setiap 1 persen pertumbuhan PDB, maka Indonesia membutuhkan 6,8 persen kenaikan investasi. Oleh sebab itu, Shinta menegaskan Indonesia harus berlari kencang dalam menjemput investasi yang tinggi melalui beberapa upaya meningkatkan produktivitas yaitu seperti dengan membangun infrastruktur. Selain itu, RI juga perlu mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM), memperbaiki tata kelola pemerintahan, sekaligus menarik penanaman modal asing (PMA), dan penanaman modal dalam negeri (PMDN).

Shinta pun optimistis target pertumbuhan ekonomi dengan rasio investasi ini akan tercapai seiring dengan adanya sinergi yang baik dan erat antara pemerintah serta dunia usaha. Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Katolik Atmajaya Jakarta, YB Suhartoko, kepada Koran Jakarta, Jumat (30/8) mengatakan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi Indonesia sebesar 6-7 persen, butuh kerja keras dari semua pihak terkait. Suhartoko mengatakan, pemerintah harus mampu meningkatkan investasi, baik domestik maupun asing yang cukup besar.

Dalam jangka pendek ini, tambah Suhartoko, situasi ekonomi dunia yang melemah, menggaet investor asing perlu usaha yang lebih keras terutama dalam hal infrastruktur, perizinan, keamanan, dan kepastian hukum. "Tanpa itu semua, sulit mengharapkan investasi akan meningkat secara signifikan," tegas Suhartoko.

Khusus terkait investasi, papar dia, bagi negara sedang berkembang, teknologi yang digunakan harus mampu meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan pada gilirannya meningkatkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) secara signifikan. "Investasi juga harus mempunyai backward dan forward linkage untuk mendorong pertumbuhan industri lain," ucapnya.

Serapan Tenaga

Kerja Dari Yogyakarta, Peneliti Mubyarto Institute, Awan Santosa, mengatakan untuk meningkatkan pertumbuhan juga perlu didorong investasi ekonomi rakyat seperti koperasi dan UMKM. Sebab, kata Awan, serapan tenaga kerja dari investasi besar luar negeri tidak sebanyak serapan tenaga kerja dari investasi ekonomi rakyat ini. Apalagi selama ini yang masuk cenderung investasi padat modal sehingga tidak berpengaruh meningkatnya daya beli masyarakat.

"Seharusnya pemerintah mendorong peningkatan investasi ekonomi rakyat tersebut melalui insentif produksi, pemasaran, dan fiskal, serta mengembangkan skema dan platform- platform investasi ekonomi rakyat tersebut melalui crowdfunding dan skema lainnya. Managing Director Political Economy and Policy Studies (PEPS), Anthony Budiawan, mengatakan target pertumbuhan ekonomi 6-7 persen bagi Indonesia sangat mungkin sekali dicapai.

Kenapa itu bisa, karena Vietnam saja bisa mencapai pertumbuhan ekonomi lebih dari 6 persen untuk periode 2014-2019. "Pemerintahan Jokowi tidak mampu karena kebijakan ekonominya asal-asalan dan ugal-ugalan," tegasnya. Kondisi ini diperparah dengan pejabat kementerian bidang ekonomi terdiri dari politisi yang tidak mengerti bidangnya, sehingga kebijakannya lebih diwarnai nepotisme dan mementingkan para kroni dan kerabat.

Redaktur: Marcellus Widiarto

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

Tips Mengelola Bisnis Kos-Kosan

Fulham Andalkan Serangan Balik untuk Atasi Kreativitas Chelsea 

Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW: Akhlak, Ilmu, dan Kesejahteraan Umat .

Gawat Teror Melanda Thailand Selatan! Puluhan Ledakan Terjadi Hanya dalam Sehari

Kegiatan melukis caping di Kota Solo

Kenapa Awan Makin Jarang Terlihat? BMKG Sebut Monsun Australia dan El Nino yang Jadi Penyebabnya

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.