Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai Risiko Rupiah Melemah hingga Rp17.000/Dollar AS

📅 Rabu, 03 Jul 2024, 09:21 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Risiko Rupiah Melemah hingga Rp17.000/Dollar AS Doc: istimewa

JAKARTA - Pemerintah dan Bank Indonesia (BI) perlu mewaspadai pelemahan rupiah sepanjang tahun ini. Bahkan, rupiah berpotensi melemah hingga jauh meninggalkan level yang ditargetkan.

Sepanjang semester I-2024, kurs rupiah terhadap dollar AS melemah 976 poin atau 6,34 persen. Bahkan, kurs rupiah terhadap dollar AS pada perdagangan Selasa (2/7) sore, ditutup melemah 75 poin atau 0,46 persen dari sehari sebelumnya menjadi 16.396 rupiah per dollar AS.

Angka tersebut jauh meninggalkan level dalam asumsi dasar ekonomi makro pada APBN 2024, yakni di posisi 15.000 rupiah per dollar AS. Bahkan, pelemahan tersebut diperkirakan masih berlanjut ke depan.

Gubernur Bank Indonesia Periode 1993-1998, J Soedradjad Djiwandono, memperingatkan nilai tukar rupiah berpotensi menembus 17.000 rupiah per dollar AS jika bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Fed kembali menaikkan suku bunganya.

"Jika the Fed naikkan suku bunga, itu yang ditakuti ya," ujar Soedradjad dalam acara MRI Banking Service Excellence 2024, Selasa (2/7).

Peneliti Ekonomi Celios, Nailul Huda, mengatakan sangat dimungkinkan rupiah tembus 17.000 rupiah per dollar AS, sekalipun hanya pernyataan the Fed tidak akan menurunkan suku bunganya dalam satu tahun ini.

"Apalagi jika menaikkan suku bunga acuan, sudah pasti tembus 17.000 rupiah per satu dollar AS bahkan bisa lebih parah dari itu," ujarnya kepada Koran Jakarta, Selasa (2/7).

The Fed, terang Huda, memegang kendali dalam nilai tukar di tingkat global, begitu menyatakan menahan atau menaikkan suku bunga acuan, permintaan dollar akan meningkat.

"Jadi, BI harus hati-hati menyikapi ini jangan langsung ambil langkah gegabah dengan memperhatikan pasar global dan kekuatan devisa kita," tegas Huda.

Rekan Huda di Celios, Bhima Yudisthira, menambahkan kenaikan suku bunga AS hanyalah pemicu, tetapi akar masalahnya ada di fundamental ekonomi yang rapuh.

Menurutnya, deindustrialisasi menciptakan kebergantungan terhadap impor bahan jadi, sementara importasi pangan melonjak. Faktor lainnya utang luar negeri yang sebagian untuk belanja konsumtif dan terlambat mengambil transisi energi sehingga beban impor bahan bakar minyak (BBM) besar sekali.

"Penyakitnya sudah sangat kompleks sehingga kena serangan dari luar seperti suku bunga AS dan geopolitik timur tengah langsung rupiah melemah," ungkap Bhima.

Dia menambahkan, faktor tidak jelasnya belanja negara dan APBN secara umum pada 2025 membuat khawatir investor. "Masalah ini tentu akan jadi tantangan rupiah paling besar tahun ini dan tahun depan," papar Bhima.

Devisa Tergerus

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

24 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

33 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
Olahraga
Formula 1: Antonelli Harus ...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.