Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Penguatan CBP dari Produksi Dalam Negeri Perkuat Ketahanan Pangan

📅 Senin, 03 Jun 2024, 00:08 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Penguatan CBP dari Produksi Dalam Negeri Perkuat Ketahanan Pangan Doc: ANTARA/ASEP FATHULRAHMAN
Ket. Beras Bulog

JAKARTA - Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menekankan bahwa penguatan stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) dari produksi dalam negeri sebagai atensi utama dalam memperkuat ketahanan pangan nasional.

"Kami pahami program Banpang (bantuan pangan) beras ini terus kita jalankan dan bersumber dari stok CBP. Untuk itu, penguatan stok CBP di saat produksi dalam negeri menjadi atensi utama kami," kata Arief dalam keterangan di Jakarta, akhir pekan lalu.

Arief menyebutkan bahwa saat ini tercatat cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog sampai 28 Mei tembus hingga 1,8 juta ton. Kepala Bapanas meyakini total stok tersebut akan terus bertambah, karena Bulog secara konsisten menyerap hasil panen beras dalam negeri.

"Ini karena kita ingin di masa depan saat musim kering melanda atau terjadi suatu kondisi pangan global, kita mampu mengatasinya dengan penyaluran CBP untuk membantu masyarakat melalui berbagai program," jelas Arief.

Dia menjelaskan berdasarkan "Global Report On Food Crises 2024" yang disusun Food Security Information Network (FSIN) dan Global Network Against Food Crises, cuaca ekstrem menjadi salah satu penyebab utama kerawanan pangan akut tingkat tinggi sedikitnya bagi 18 negara dengan lebih dari 72 juta penduduknya.

Jumlah itu, lanjut Arief, meningkat dibandingkan tahun 2022 yang kala itu terdiri dari 12 negara dengan 56,8 juta penduduk yang terdampak rawan pangan akut. Namun, Arief tidak merinci negara-negara yang disebutkan itu.

Selain itu, El Nino dan fenomena cuaca perubahan iklim telah menjadikan tahun 2023 sebagai tahun terpanas yang pernah tercatat. Dalam proyeksi 2024 itu pula, tambah Arief, banjir dan cuaca ekstrem akibat angin muson dan angin topan masih menjadi kekhawatiran, terutama di kawasan Asia. "Karena itu kita pastikan untuk terus memantau dan memastikan stok CBP dalam kondisi yang baik. Per hari ini 1,8 juta ton dan ini akan terus bertambah," ungkap Arief.

Lebih lanjut, Arief mengatakan estimasi panen beras menurut Kerangka Sampel Area Badan Pusat Statistik (KSA BPS) sampai Mei, masih ada surplus terhadap konsumsi bulanan beras. "Jadi, ini memang waktunya CBP terus ditambah, sehingga nanti saat musim kemarau, pemerintah leluasa menyalurkan dalam membantu masyarakat," jelas Arief.

Arief mengatakan pula menilik data KSA BPS hasil pengamatan April 2024, produksi beras Januari sampai Juli diproyeksikan dapat mencapai 18,74 juta ton. Dari total itu diestimasi dapat terjadi surplus produksi terhadap konsumsi di angka sekitar 650 ribu ton.

Pada April 2024, estimasi produksi beras di angka 5,31 juta ton. Lalu Mei 2024, produksi diperkirakan dapat berada sampai 3,58 juta ton, dan pada Juni 2024 di 2,01 juta ton serta Juli 2024 di 2,15 juta ton.

Sementara realisasi penyerapan beras produksi dalam negeri oleh Perum Bulog sampai 26 Mei total telah menyentuh 601 ribu ton. Ini terdiri dari pengadaan untuk CBP 517 ribu ton dan beras komersial 83 ribu ton. "Sebagai komparasi, realisasi pengadaan beras dalam negeri oleh Bulog pada tahun 2023 total keseluruhan selama setahun berada di angka 1,066 juta ton," kata Arief.

Guru Besar Ekonomi Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto, mengatakan sudah menjadi cita-cita bersama Bapanas dibentuk sebagai lembaga yang bermanfaat bagi petani dan masyarakat banyak.

Dwijono mengingatkan di beberapa daerah masih ada panen padi sehingga jika ada stok beras impor dilepas ke pasar maka akan menekan harga gabah di petani. "Serap sebanyak-banyaknya beras petani dalam harga baik sehingga petani semangat menanam," kata Dwijono.

Kalah Bersaing

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

51 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

54 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.