BRIN Sebut Fenomena Siang Terik dan Malam Hujan Indikasi Akhir Musim Transisi
Selasa, 14 Mei 2024, 13:22 WIBJAKARTA - Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN Eddy Hermawan mengatakan fenomena panas terik saat siang hari dan hujan turun saat malam ataupun dini hari menandakan Indonesia sedang memasuki akhir transisi dari musim penghujan ke kemarau.
Prediksi Badan Meteorologi Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebutkan awal musim kemarau tahun ini terjadi sejak Mei hingga Agustus 2024.
Eddy menuturkan dunia saat ini sedang mengalami gelombang panas. Kawasan yang terpapar gelombang panas adalah kawasan atau negara yang didominasi oleh daratan, seperti India, Thailand, dan kawasan-kawasan seperti Afrika atau Brasil.
Menurutnya, gelombang panas adalah suatu kondisi di mana keadaan suhu rata-rata melebihi batas ambang normal selama lebih dari 30 hingga 40 tahun.
Bila suhu selama tiga dekade berkisar 27 sampai 28 derajat Celcius, lalu melonjak dengan deviasi di atas lima dan berlangsung permanen selama empat hingga lima hari, maka kondisi itu didefinisikan sebagai gelombang panas.
Posisi geografis Indonesia yang dua pertiga laut dan sepertiga daratan dengan lima pulau besar dan 17.548 pulau di mana masing-masing pulau menghasilkan konveksi lokal dan konveksi regional yang membentuk awan.
"Alhasil kawasan Indonesia relatif aman dari bahaya gelombang panas," ujar Eddy.
Lebih lanjut dia mengaku belum mengetahui secara pasti kapan puncak musim panas akan segera berakhir.
Hal ini diperparah dengan mulai berhembusnya angin timuran yang bergerak melintasi kawasan Indonesia seiring dengan bergeraknya posisi matahari meninggalkan garis ekuator sejak 21 Maret, bergerak semu menuju belahan bumi utara.
"Jadi, ada indikasi kuat jika kondisi panas ini akan terus berlanjut," kata Eddy.
Selain kondisi uap air di kawasan barat Indonesia yang ditarik ke arah timur pantai timur Afrika juga angin timuran yang berasal dari gurun di bagian utara Australia sudah mulai merangkak memasuki kawasan Indonesia.
Gerbang utama yang akan menerima kondisi ini adalah kawasan Nusa Tenggara Timur, diikuti Nusa Tenggara Barat, Bali, Jawa Timur, dan seterusnya.
Redaktur: Lili Lestari
Penulis: Antara
Berita Terkait:
-
Fujimori dan Sanchez Bersaing Ketat
-
HJB ke-544 Kota Bogor Siap Digelar, Ada Museum Pajajaran hingga Sunatan Massal 544 Anak
-
Kepanikan di Teluk: Kuwait Ambil Langkah Darurat Tutup Kembali Wilayah Udara
-
Kembali ke Estadio Azteca Setelah 40 Tahun, Hugo Broos Bidik Akhir Indah Bersama Timnas Afrika Selatan
-
Inovasi BRIN Dorong Energi Hidrogen Bersih
-
Inovasi dan Terobosan untuk Komoditas Cabai
-
Menanti Data Inflasi, 2 Juni 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.