Pengembangan Pangan Lokal Kurangi Kerentanan pada Perubahan Iklim

Senin, 13 Mei 2024, 00:03 WIB

JAKARTA - Pengembangan sumber pangan lokal yang berkelanjutan dan adaptif dapat mengurangi kerentanan terhadap perubahan iklim. Selain itu, juga meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) baik wilayah seperti Maluku maupun Indonesia secara keseluruhan.

Guru Besar Studi Ketahanan Pangan Universitas Pattimura (Unpatti), La Ega, di Ambon, Maluku, akhir pekan lalu, mengatakan kualitas SDM sendiri salah satunya sangat ditentukan oleh ketersediaan pangan yang mencukupi dan merata sepanjang tahun.

Ket. Foto: LA EGA Guru Besar Studi Ketahanan Pangan Unpatti - Pemenuhan kebutuhan pangan lokal selain membuat daerah lebih kuat juga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang signifikan. — Sumber: ANTARA/IGGOY EL FITRA

"Kecukupan karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral, merupakan prasyarat terpenuhinya komponen dasar dalam menjamin pencapaian pertumbuhan fase emas generasi muda kita," kata La Ega.

Apabila kebutuhan pangan internal terpenuhi, kata La Ega, maka kualitas SDM selanjutnya akan ditentukan oleh faktor eksternal yaitu kualitas pendidikan.

Khusus di Maluku, ketahanan pangan lokalnya rata-rata masih berada pada kisaran rentan yang lebar yaitu berkisar 30-70 persen, sementara sisa ketidakcukupan dipenuhi dari kegiatan impor luar daerah.

"Pemenuhan kebutuhan pangan lokal ke depan merupakan langkah strategis, karena selain membuat daerah lebih kuat dan mandiri dalam menjamin kualitas SDM masa depan, juga tentu lebih tahan terhadap berbagai pengaruh global, serta dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi yang sangat signifikan," katanya seperti dikutip dari Antara.

Dengan memperkuat pemenuhan dua sampai tiga komoditas pangan lokal saja, lanjutnya, sudah dapat memberi kontribusi tambahan terhadap pertumbuhan ekonomi di atas 2,5 persen di tengah ketahanan pangan yang masih tergolong belum memadai dan belum merata.

Saat ini juga telah ditemukan kejadian yang memberi dampak besar bagi kualitas asupan gizi dan ASI untuk generasi emas usia 0-5 tahun yaitu tingginya angka stunting. Oleh karena itu, apa pun potensi lahan, harus dioptimalkan untuk ketahanan pangan lokal melalui program/kegiatan ekstensifikasi, intensifikasi, dan diversifikasi lahan.

"Di Maluku masih tersedia cukup luas yakni sebesar 64.111 hektare, namun untuk pemanfaatannya perlu didukung dengan penyediaan air yang lebih memadai untuk mengoptimalkan masa tanam," katanya.

Ketahanan pangan lokal, tambahnya, dapat dicapai jika dilakukan hilirisasi pertanian, terutama dengan mengembangkan pangan komposit kaya protein yang mengombinasikan berbagai potensi pangan lokal yang dimiliki, seperti beras analog, oat serealia, ubi-ubian, berbagai tepung pati termodifikasi, olahan pangan lokal yang distandardisasi dengan memperbaiki tampilan dan rasanya.

Atasi Kemiskinan

Sementara itu, Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, mengatakan saat ini pihaknya sedang mempersiapkan revisi Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 125 Tahun 2022, demi keberlanjutan bantuan pangan untuk mengatasi kemiskinan ekstrem di seluruh Indonesia.

"Badan Pangan Nasional sedang mempersiapkan revisi Perpres (Nomor) 125 Tahun 2022 mengenai Penyelenggaraan Cadangan Pangan Pemerintah, sehingga penugasan ke Bulog (penyaluran bantuan pangan untuk atasi kemiskinan ekstrem), itu bisa kita lock dalam aturan wadah yang punya kekuatan hukum," kata Arief, akhir pekan lalu.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.