• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Lama Melajang akan Membuat...

Lama Melajang akan Membuat Anda Bahagia, Benarkah?

Rabu, 08 Mei 2024, 11:17 WIB

Christopher Pepping, Griffith University; Geoff Macdonald, University of Toronto; Tim Cronin, La Trobe University, dan Yuthika Girme, Simon Fraser University

Apakah semua orang lajang merasa insecure? Ketika kita berpikir tentang orang-orang yang sudah lama melajang, kita mungkin berasumsi bahwa itu karena para lajang tersebut memiliki rasa tak yakin dengan dirinya sendiri sehingga sulit menemukan pasangan atau mempertahankan hubungan.

Namun, benarkah demikian? Bisakah orang yang sudah lama melajang merasa aman dan berkembang?

Ket. Foto: Ilustrasi. — Sumber: The Conversation/Shutterstock/Marvin

Penelitian terbaru kami yang dipublikasikan di Journal of Personality menunjukkan bahwa hal tersebut mungkin. Namun, tidak semua orang berhasil dalam kehidupan lajangnya. Studi kami menunjukkan bahwa faktor krusial penentunya adalah gaya keterikatan seseorang.

Status lajang sedang menjadi tren

Status lajang sedang meningkat di seluruh dunia. Di Kanada, tempat kami mengajar, status lajang di kalangan dewasa muda berusia 25-29 tahun meroket dari 32% pada 1981 menjadi 61% pada 2021. Jumlah orang yang tinggal sendirian pun menanjak dari 1,7 juta orang pada tahun 1981 menjadi 4,4 juta orang pada 2021.

Orang melajang karena berbagai alasan: ada yang memilih untuk tetap single, ada yang fokus pada tujuan dan aspirasi pribadi, ada yang mengatakan bahwa berkencan menjadi lebih sulit, dan beberapa menjadi lajang lagi karena putusnya hubungan.

Orang-orang juga mungkin tetap melajang karena gaya keterikatan mereka.

Teori keterikatan adalah model tentang bagaimana kita membentuk hubungan dengan orang lain yang populer dan banyak diteliti. Pencarian Amazon untuk teori keterikatan menghasilkan ribuan judul. Di TikTok saja, tagar #attachmenttheory telah dilihat lebih dari 140 juta kali.

Kata teori keterikatan tentang hubungan

Teori keterikatan menunjukkan bahwa hubungan kita dengan orang lain dibentuk oleh tingkat "kecemasan" (attachment anxiety) dan "penghindaran" (attachment avoidance).

Kecemasan terhadap keterikatan adalah jenis perasaan tak aman yang membuat orang merasa cemas tentang hubungan dan khawatir ditinggalkan. Sementara, penghindaran terhadap keterikatan membuat orang merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan.

Orang yang memiliki tingkat kecemasan dan penghindaran keterikatan yang rendah dianggap "terikat secara aman". Mereka merasa nyaman bergantung pada orang lain, termasuk dalam hal memberi dan menerima keintiman.

Orang lajang sering kali distereotipkan sebagai orang yang terlalu melekat atau tidak bisa berkomitmen. Penelitian yang membandingkan orang lajang dan berpasangan menunjukkan bahwa orang lajang memiliki tingkat ketidakamanan keterikatan yang lebih tinggi dibandingkan dengan orang yang sedang menjalin hubungan.

Pada saat yang sama, bukti menunjukkan banyak orang lajang memilih untuk terus sendirian dan tetap menjalani hidup bahagia.

Orang lajang bisa merasa aman maupun tidak

Dalam penelitian terbaru kami, tim psikolog sosial dan klinis kami meneliti gaya keterikatan orang lajang dan bagaimana kaitannya dengan kebahagiaan dan kesejahteraan mereka.

Kami melakukan dua penelitian, satu terhadap 482 orang yang masih single di usia muda dan yang lainnya terhadap 400 orang yang sudah lama melajang. Kami menemukan secara keseluruhan 78% dikategorikan "insecure", dan 22% lainnya dikategorikan "secure" atau yakin terhadap diri dan pilihannya.

Pengamatan lebih dekat atas hasil ini menunjukkan empat subkelompok lajang yang berbeda:

  • lajang yang secure relatif nyaman dengan keintiman dan kedekatan dalam hubungan (22%)
  • para lajang yang cemas (anxious) mempertanyakan apakah mereka dicintai oleh orang lain dan khawatir ditolak (37%)
  • para lajang yang menghindar (avoidant) merasa tidak nyaman berada dekat dengan orang lain dan memprioritaskan kemandirian mereka (23% dari para lajang yang lebih muda dan 11% dari para lajang yang lebih tua dan sudah lama tinggal)
  • para lajang yang takut (fearful) memiliki kecemasan akan pengabaian, namun sekaligus merasa tidak nyaman dengan keintiman dan kedekatan (16% dari para lajang yang lebih muda dan 28% dari para lajang yang lebih tua dan sudah lama lajang).

Kehidupan lajang itu menantang, tetapi para lajang juga bisa merasa aman dan berkembang

Temuan kami juga mengungkapkan bahwa subkelompok lajang yang berbeda-beda ini memiliki pengalaman dan hasil yang berbeda pula.

Para lajang yang secure dan merasa senang menjadi lajang memiliki lebih banyak hubungan nonromantis dan hubungan yang lebih baik dengan keluarga dan teman. Mereka memenuhi kebutuhan seksualnya di luar hubungan romantis dan merasa lebih bahagia dengan kehidupan mereka secara keseluruhan. Menariknya, kelompok ini memiliki minat yang moderat untuk menjalin hubungan romantis di masa depan.

Para lajang yang cemas cenderung menjadi orang yang paling khawatir menjadi lajang, tak percaya diri, merasa kurang didukung oleh orang-orang terdekat, dan memiliki tingkat kepuasan hidup yang paling rendah di antara semua subkelompok.

Para lajang yang menghindar menunjukkan minat yang paling kecil untuk menjalin hubungan romantis dan dalam banyak hal tampak puas dengan kehidupan lajang. Namun, mereka juga memiliki lebih sedikit teman dan hubungan dekat, dan umumnya kurang puas dengan hubungan ini dibandingkan para lajang yang secure. Para lajang yang menghindar juga melaporkan bahwa hidup mereka kurang bermakna dan cenderung kurang bahagia dibandingkan para lajang yang aman.

Para lajang yang merasa takut mengalami lebih banyak kesulitan dalam menjalani hubungan dekat dibandingkan para lajang yang merasa aman. Misalnya, mereka kurang mampu mengatur emosinya, dan kurang puas dengan kualitas hubungan dekat mereka agar tetap melajang. Mereka juga melaporkan tingkat kepuasan hidup terendah di seluruh subkelompok.

Kehidupan lajang tidak melulu suram

Temuan-temuan ini harus dipertimbangkan bersamaan dengan beberapa poin yang relevan. Pertama, meskipun sebagian besar lajang dalam sampel kami merasa insecure (78%), cukup banyak orang yang merasa aman dan bahagia (22%).

Lebih jauh lagi, menjalin hubungan romantis bukanlah obat mujarab. Berada dalam hubungan yang tidak bahagia dikaitkan dengan kepuasan hidup yang lebih buruk dibandingkan menjadi lajang.

Penting juga untuk diingat bahwa orientasi keterikatan tidak selalu tetap. Orientasi bisa berubah sebagai respons terhadap peristiwa kehidupan.

Demikian pula, perilaku sensitif dan responsif dari orang terdekat dan merasa dicintai dan diperhatikan oleh orang terdekat dapat meredakan kekhawatiran mendasar akan keterikatan dan menumbuhkan keamanan keterikatan seiring berjalannya waktu.

Penelitian kami adalah penelitian pertama yang meneliti keragaman gaya keterikatan di antara orang dewasa lajang. Temuan kami menyoroti bahwa banyak orang lajang merasa aman dan berkembang. Namun, lebih banyak lagi upaya yang dapat dilakukan untuk membantu para lajang yang merasa tidak aman menjadi lebih aman dan bahagia.The Conversation

Christopher Pepping, Associate Professor in Clinical Psychology, Griffith University; Geoff Macdonald, Professor of Psychology, University of Toronto; Tim Cronin, Lecturer in Clinical Psychology, La Trobe University, dan Yuthika Girme, Associate Professor, Department of Psychology, Simon Fraser University

Artikel ini terbit pertama kali di The Conversation. Baca artikel sumber.

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

Berita Terbaru

Mengkhawatirkan! Burung Ekek Keling Sunda Terancam Punah, Populasinya Kian Menurun

Perusahaan Milik Kampus UGM Go Public! Target IPO Capai Rp45 Miliar

Tinjau Karhutla Kalsel, Menhut Raja Antoni: Api Sudah Tak Terlihat, tapi Gambut Masih Berasap.

Dalang Karhutla Diburu! Komisi III DPR Apresiasi Langkah Tegas Polri

Coco Gauff Juara Cincinnati Open untuk Kedua Kalinya, Masuk Klub Elite WTA

Gratis dan Siaga 24 Jam! Pertamina Buka Posko Medis bagi Warga Manggarai NTT

Formula 1: Norris Menangi GP Belanda, Verstappen Kecelakaan di Depan Pendukung Sendiri

TNI AU Gerak Cepat! 6 Pesawat Bawa Bantuan Kemanusiaan ke NTT dan Kalimantan

Liga Inggris: Manchester City Menang Dramatis di Awal Era Maresca, Liverpool Selamat dari Kekalahan

Terungkap! Kebakaran Rumah di Tebet Diduga Dipicu Mesin Fotokopi

Serie A: Amorim Buka Era Baru dengan Kemenangan, Milan Tundukkan Torino; Juventus Menang Tipis atas Frosinone

Karhutla Meluas, Gubernur Kalsel Desak Masyarakat Lindungi Diri dari Paparan Asap

La Liga: Barcelona Pesta Gol di Kandang Elche, Atletico Madrid Selamat dari Kekalahan

Kementerian Kebudayaan akan revitalisasi situs budaya di Malut

Mengerikan Tragedi Kebakaran Rumah di Tebet, 4 Orang Tewas

Arthur Fils Juara Cincinnati Masters 1000, Tekuk Tiafoe dalam Final Bersejarah

Presiden Prabowo Pimpin Ratas di Hambalang, Bahas Karhutla dan Dampak Bencana NTT.

Kodaeral XIII Gelar Lomba Speedboat di Tarakan, Dorong Potensi Kemaritiman Kaltara.

Takdir Geografis Gambia, Negara Terkecil Afrika yang Terjepit Senegal

Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H, Munafri Arifuddin Ajak Masyarakat Perkuat Persatuan.

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.