Gerakan Hidangan Berkelanjutan di Peru untuk Atasi Kelaparan dan Limbah Makanan

Sabtu, 20 Apr 2024, 02:15 WIB

Seorang juru masak asal Peru bernama Isabel Santos, terlihat sibuk menyiapkan salad dengan kulit wortel dan kulit kacang polong di sebuah dapur komunitas di Lima, Peru. Ia adalah seorang pengikut gerakan hidangan berkelanjutan yang berupaya mengatasi kelaparan dan limbah makanan pada saat yang bersamaan.

Bersama lima rekan perempuan lainnya, dia bekerja membuat 150 porsi lezat dan kaya vitamin yang mencakup kulit kentang, kacang polong, wortel, daun bawang, dan jahe, yang biasa kami buang, kata perempuan berusia 76 tahun itu kepadaAFP.

Ket. Foto: Kuliner Daur Ulang | Juru masak Isabel Santos sibuk menyiapkan hidangan dari sisa sayuran yang biasa dibuang di dapur umum Maria Parado de Bellido di Villa el Salvador, pinggiran selatan Lima, pada 5 April lalu. Dengan menggunakan teknik kuliner daur ulang, Santos berhasil mengoptimalkan bahan makanan yang biasanya berakhir di tempat sampah dan diubah menjadi hidangan lezat.  — Sumber: AFP/ERNESTO BENAVIDES

Santos adalah pengikut konsep "Dapur Optimal" yang diusung oleh koki terkenal asal Peru, Palmiro Ocampo, yang mempromosikan konsep memasak dengan tanpa menyisakan bahan makanan apapun sebagai bagian dari upaya makanan ramah lingkungan yang semakin banyak mendapat pengikut di seluruh dunia.

"Tidak ada yang namanya sampah," kata Ocampo, 40 tahun, kepadaAFPsaat berkunjung baru-baru ini ke dapur umum Maria Parado de Bellido tempat Santos memasak di sebuah distrik miskin di Lima bagian selatan.

"Suatu bahan harus digunakan secara keseluruhan," tutur Ocampo, seraya menyatakan bahwa di dunia saat ini ada sepertiga makanan terbuang dan 800 juta orang kelaparan.

Palmiro dan istrinya, Anyell San Miguel, melatih juru masak agar bisa membuat sup khas Peru dan dapur-dapur komunitas, bahkan berbagi resep melalui proyek mereka,Ccori, yang berarti emas dalam bahasa pribumi Quechua, dimana proyek ini telah didirikan 11 tahun lalu untuk mempromosikan gerakan kuliner daur ulang.

"Hasilnya, lebih dari satu ton bahan yang biasanya berakhir di sampah telah diubah menjadi makanan lezat," kata sang koki.

Tidak hanya enak tapi juga menyehatkan, banyak dari makanan ini yang sebelumnya dibuang, memiliki lebih banyak nutrisi yang penting untuk memerangi penyakit seperti anemia, yang saat ini mempengaruhi lebih dari dua dari lima anak di Peru.

"Kulit pisang misalnya, mengandung banyak magnesium dan seng dan kulit kacang kaya akan zat besi, menurut sang koki.

Pada awalnya, tidak mudah untuk meyakinkan orang, tambah Ocampo, yang menggambarkan dirinya sebagai pendaur ulang profesional.

"Orang-orang mengatakan kepadanya bahwa tidak mempunyai uang adalah suatu hal, tetapi kami tidak akan memakan sampah," tutur dia.

Lezat dan Sehat

Konsep "Dapur Optimal" tersebut saat ini sepertinya sudah mengakar di Peru. "Saladnya tampaknya enak dan bergizi bagi saya," kata Demostenes Parinan, seorang sopir ojek berusia 75 tahun kepadaAFPdi dapur Santos, di mana hidangan utama yaitu sup dan minuman dijual dengan harga sekitar 1,30 dollar AS saja.

Yang juga ditawarkan hari itu adalah bubur yang dibuat dari batang brokoli, kulit kacang polong dan nasi, serta minuman yang dibuat dari kulit lemon dan seledri.

"Babi biasanya makan lebih baik daripada kita karena mereka memakan semua sisa makanan yang kita buang padahal kaya akan nutrisi," kata Santos.

Anita Clemente dari dapur umum "La Amistad" di bagian lain di Lima mengatakan bahwa proyek Ocampo ini telah mengajarkan kita untuk menciptakan hidangan sehat dengan bahan-bahan yang pernah dibuang.

"Pelanggan juga akhirnya bisa menghemat uang karena mereka belajar mengkonsumsi keseluruhan produk yang mereka beli," kata Clemente kepadaAFP.

Menurut Program Lingkungan PBB, umat manusia membuang setara dengan satu miliar makanan setiap hari pada tahun 2022.

Konsep Ocampo bergantung pada tiga elemen utama yaitu pengawetan makanan melalui metode seperti fermentasi, daur ulang kuliner untuk mengekstrak lebih banyak bahan yang sudah digunakan, dan memasak dengan bagian yang sebelumnya dianggap tidak dapat dimakan.

Penerima manfaat lainnya adalah planet Bumi, karena semakin banyak nutrisi yang dapat diperoleh dari satu tumbuhan atau hewan, semakin sedikit kebutuhan yang harus ditanam, sekaligus mengurangi gas rumah kaca yang dilepaskan dari penguraian sampah organik. AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.