Panel Surya Transparan, Alternatif Memanen Energi dari Jendela
Rabu, 17 Apr 2024, 06:25 WIBPara ilmuwan di Michigan State University (MSU) merinci dalam sebuah makalah di jurnalNature Energybagaimana penerapan energi surya yang sangat transparan dapat nyaris memenuhi kebutuhan listrik Amerika Serikat (AS) dan secara drastis mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil.
"Kami akan melihat produk komersial tersedia dalam beberapa tahun ke depan," Richard Lunt, profesor Teknik Kimia dan Ilmu Material di MSU, mengatakan kepadaNewsweekbeberapa waktu lalu. "Kami baru saja mulai mencapai metrik kinerja yang masuk akal untuk ditingkatkan," imbuh dia.
Lunt dan rekan-rekannya di MSU sebelumnya telah mempelopori teknologi surya yang mengumpulkan energi dari panjang gelombang cahaya yang tidak terlihat sehingga tidak mengganggu pandangan saat diletakkan di atas jendela.
Sistem ini menggunakan material untuk menangkap panjang gelombang ultraviolet dan inframerah dekat, yang dipandu ke tepi permukaan tempat material tersebut berada untuk diubah menjadi listrik melalui strip tipis sel surya fotovoltaik.
Panel surya ultra-tipis dan transparan berpotensi dipasang pada gedung pencakar langit dan ponsel pintar, sehingga jendela dan layar tidak perlu diganti untuk menghasilkan listrik dari gedung atau perangkat elektronik. Dibandingkan dengan sel surya tradisional, teknologi transparan masih memiliki beberapa hal yang harus dilakukan. Panel surya atap biasanya memiliki efisiensi antara 15 dan 18 persen, sedangkan sel surya tembus pandang mencatat efisiensi sekitar 5 persen. Namun, Lunt memperkirakan akan terjadi peningkatan tiga kali lipat dalam efisiensi sel surya transparan.
"Meskipun penerapan fotovoltaik konvensional pada atap rumah dan pembangkit listrik tenaga surya telah berkembang pesat dalam dekade terakhir, masih terdapat banyak peluang untuk perluasan," tutur dia seperti dikutip dari makalahNature Energy.
"Teknologi tenaga surya tembus pandang dengan transmisi cahaya parsial yang dikembangkan selama 30 tahun terakhir telah memulai metode integrasi yang tidak mungkin dilakukan dengan modul konvensional," imbuh Lunt.
Potensi listrik yang belum dimanfaatkan dari sumber energi ini, menurut para peneliti, sangat besar. Diperkirakan 5 miliar hingga 7 miliar meter persegi permukaan kaca di AS dapat digunakan untuk memenuhi 40 persen kebutuhan energi negara tersebut, atau "mendekati 100 persen" jika penyimpanan energi ditingkatkan.
"Itulah yang sedang kami upayakan. Aplikasi tenaga surya tradisional telah diteliti secara aktif selama lebih dari lima dekade, namun kami baru mengerjakan sel surya yang sangat transparan ini selama sekitar lima tahun," ucap Lunt.
"Pada akhirnya, teknologi ini menawarkan jalan yang menjanjikan menuju penerapan tenaga surya yang murah dan luas pada permukaan kecil dan besar yang sebelumnya tidak dapat diakses," pungkas dia. newsweek/I-1
Berita Terkait:
-
Perpusnas Dapat Hibah Ratusan Buku Berbahasa Korea dari KCCI dan Kedubes Korea Selatan
-
Bupati Karawang Lepas Keberangkatan Jamaah Calon Haji Kloter 4
-
Waspada Hantavirus, Pemkot Surabaya Imbau Masyarakat Batasi Aktivitas Luar Rumah
-
Polda Metro Jaya Ungkap Kasus Begal Terbanyak di Wilayah Penyangga dan Jakbar
-
Kunjungan Perdana, Wapres Gibran Disambut Tari Gale-Gale di Raja Ampat
-
Green Financing Dibuka! Proyek Hijau RI Kini Gampang Dapat Modal, ESG-IN Gandeng IDCTA
-
Festival Humanoid Kota Tua 2026
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.