Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Waspadai Deindustrialisasi karena Berdampak pada Pertumbuhan

📅 Sabtu, 30 Mar 2024, 00:02 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Waspadai Deindustrialisasi karena Berdampak pada Pertumbuhan Doc: Sumber: BPS - kj/ones

JAKARTA - Indikasi deindustrialisasi patut diwaspadai, mengingat berdampak pada penyerapan tenaga kerja dan pertumbuhan ekonomi. Industri manufaktur menjadi andalan dalam menyerap tenaga kerja, sehingga penurunan peran industri dalam perekonomian tentu harus diwaspadai karena dapat berdampak pada angka pengangguran.

"Tren deindustrialisasi yang ada akan mengakibatkan angka kemiskinan dan pengangguran baru, karena jumlah penduduk terus tumbuh. Artinya yang tidak terserap oleh sektor ini juga terus bertambah. Ini akan membuat kesenjangan ekonomi yang sekarang sudah lebar," kata Rektor Tiga Universitas Trunojoyo Madura (UTM), Surokim Abdussalam, kepada Koran Jakarta, Jumat (29/3).

Sebetulnya, tambah Surokim, kapasitas SDM di Indonesia tidak kalah, tetapi untuk naik kelas menjadi negara maju harus ada environment investasi dan industri yang menunjang. Ini yang perlu dibenahi, termasuk sistem dan perizinan.

Sementara itu, Direktur Narasi Institut, Achmad Nur Hidayat, menyatakan Indonesia dalam beberapa dekade terakhir telah mengalami deindustrialisasi. Hal itu bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi Indonesia yang makin ke sini makin tergantung pada konsumsi domestik.

"Konsumsi domestik itu sangat tergantung pada barang-barang impor, bahkan di konsumsi paling primer yakni pangan dan sandang," kata Achmad.

Makin Bersaing

Achmad meminta para ekonom membandingkan apa yang terjadi di Indonesia dengan Vietnam dan Thailand yang produk-produknya makin bersaing di pasar Asia bahkan dunia.

Dia menyoroti angka Incremental Capital-Output Ratio (ICOR), yang merupakan indikator efisiensi investasi dalam menghasilkan output atau pertumbuhan ekonomi, Indonesia terus naik.

Menurut Achmad, ICOR dihitung dengan membagi penambahan investasi (capital) dengan penambahan output (GDP). Nilai ICOR yang rendah menunjukkan efisiensi tinggi. Artinya dibutuhkan investasi yang lebih sedikit untuk menghasilkan satu unit pertumbuhan ekonomi. Sebaliknya, nilai ICOR yang tinggi menunjukkan efisiensi investasi yang lebih rendah.

"Data yang menunjukkan ICOR Indonesia yang meningkat menjadi 7,3 di bawah kepemimpinan Presiden Jokowi sejak tahun 2014 hingga 2022, dibandingkan dengan periode sebelumnya di era Orde Baru dan pemerintahan SBY. Hal itu kan indikasi bahwa telah terjadi deindustrialisasi yang membuat daya saing kita makin lemah," tandas Achmad.

Surokim dan Achmad ini menanggapi apa yang disampaikan ekonom Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis (LPEM FEB) Universitas Indonesia (UI), Kiki Verico.

Menurut Kiki, Indonesia tidak mengalami fase penurunan kontribusi industri terhadap perekonomian atau deindustrialisasi karena sektor manufaktur terus mengalami pertumbuhan positif.

"Deindustrialisasi itu dialami oleh negara yang sudah mencapai tahap advanced manufacturing atau maju manufakturnya lalu menurun (sunset) dan mulai digantikan negara lain yang manufakturnya baru take-off (sunrise). Negara industri maju itu lalu bergeser backbone ekonominya dari industri manufaktur ke sektor jasa," kata Kiki, di Jakarta, Jumat (29/3).

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar
Advertisement
Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

Final Indonesia vs Thailand: Penjualan Tiket Dibuka Mulai Rp250 Ribu, Ini Cara Belinya!

02 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.