Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

63.000 Migran Tewas atau Hilang Selama Dekade Terakhir

📅 Rabu, 27 Mar 2024, 02:54 WIB | Oleh:
63.000 Migran Tewas atau Hilang Selama Dekade Terakhir Doc: AFP/Ben Stansall
Ket. Penyelamatan Migran l Sejumlah migran yang mencoba melintasi Selat Inggris diselamatkan oleh kapal LSM di tepi pantai Dungeness pesisir Tenggara Inggris pada Desember 2022 lalu. Laporan IOM terbaru menyatakan bahwa ada lebih dari 63.000 orang tewas atau hilang dalam jalur migrasi di seluruh dunia antara tahun 2014 dan 2023.

JENEWA - Setidaknya 63.285 orang tewas atau hilang dalam jalur migrasi di seluruh dunia antara tahun 2014 dan 2023, dengan sebagian besar kematian disebabkan oleh tenggelam, kata badan migrasi PBB pada Selasa (26/3).

Sebuah laporan yang diterbitkan oleh Organisasi Internasional untuk Migrasi (IOM) mengenai Proyek Migran Hilang menunjukkan bahwa sebagian besar kematian dan orang hilang yang jumlahnya 28.854 kasus, terjadi di Mediterania diikuti oleh Afrika dan Asia.

Hampir 60 persen kematian yang didokumentasikan terkait dengan tenggelam, dan lebih dari sepertiga kematian tersebut berasal dari negara-negara yang sedang berkonflik, termasuk Afghanistan, Myanmar, Suriah, dan Ethiopia.

Data IOM menunjukkan bahwa tahun paling mematikan bagi para migran dalam satu dekade terakhir adalah tahun 2023, ketika tercatat 8.541 kematian yang sebagian disebabkan oleh peningkatan tajam kematian di Mediterania.

"Peningkatan jumlah kematian kemungkinan besar terkait dengan peningkatan jumlah keberangkatan dan akibat kecelakaan kapal di lepas pantai Tunisia," kata laporan itu, seraya menambahkan bahwa setidaknya 729 orang meninggal di lepas pantai Tunisia pada tahun 2023, dibandingkan dengan 462 orang pada tahun 2022.

"Pada tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar kematian di Mediterania Tengah terjadi di lepas pantai Libia," imbuh IOM.

Politik Pengekangan

Ketika partai-partai anti-imigrasi terus mendapatkan pengaruh di seluruh Eropa selama bertahun-tahun, pemerintah telah berupaya untuk mengekang arus migrasi ke negara mereka dengan menjanjikan dana ke negara-negara di Mediterania seperti Tunisia dan Mesir.

Awal bulan ini, UE menjanjikan paket pendanaan sebesar 7,4 miliar euro ke Mesir yang digambarkan oleh Perdana Menteri Italia, Giorgia Meloni, sebagai cara terbaik untuk mengatasi arus migrasi.

Pemerintah beberapa negara Eropa, termasuk Italia, Hungaria dan Inggris, telah menjadikan pembatasan imigrasi sebagai prioritas utama, sementara partai-partai sayap kanan di negara lain seperti National Rally di Prancis yang dipimpin oleh Marine Le Pen, semakin populer.

Para pemimpin agama termasuk di antara mereka yang menyerukan belas kasih yang lebih besar terhadap para migran. Paus Fransiskus bahkan telah menyerukan tanggapan pan-Eropa terhadap migrasi untuk menghentikan Mediterania menjadi "lautan kematian". ST/And

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

Tak Mau Ketinggalan, Warga Yunani Juga Berunjuk Rasa Beratnya Beban Hidup

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.