Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Kusta, Penyakit Kuno yang Masih Mengancam

📅 Selasa, 19 Mar 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Kusta, Penyakit Kuno yang  Masih Mengancam Doc: afp/ Issouf SANOGO

Para ahli memperingatkan penyakit kusta bukan hanya ada di sejarah kuno seperti digambarkan kitab suci dan para sejarawan. Adanya lonjakan kasus yang terjadi di AS membuktikan penyakit ini bukan hanya diderita penduduk miskin di negara berkembang.

Kusta atau lepra yang juga dikenal sebagai penyakit Hansen (HD), adalah infeksi jangka panjang yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae atau Mycobacterium lepromatosis. Infeksi bakteri ini dapat menyebabkan kerusakan pada saraf, saluran pernapasan, kulit, dan mata.

Kerusakan saraf tersebut dapat mengakibatkan kurangnya kemampuan untuk merasakan nyeri. Selanjutnya dapat menyebabkan hilangnya bagian ekstremitas seseorang akibat cedera berulang atau infeksi melalui luka yang tidak disadari.

Orang yang terinfeksi penyakit menular ini dapat mengalami kelemahan otot dan penglihatan yang buruk. Gejala kusta mungkin mulai muncul dalam waktu satu tahun, namun bagi sebagian orang, gejalanya mungkin memerlukan waktu 20 tahun atau lebih untuk muncul.

Kusta boleh dikatakan merupakan penyakit kuno. Penyakit ini pernah mempengaruhi umat manusia selama ribuan tahun dan disebutkan dalam beberapa kitab suci. Istilah lepra mengambil nama dari kata Yunani yaitu lépr? berasal dari kata lepís yang artinya bersisik.

Sedangkan istilah kusta sendiri berasal dari bahasa sansekerta yaitu kustha yang memiliki arti sekumpulan gejala yang terdapat pada kulit. Sementara itu untuk penyakit Hansen diambil dari nama dokter Norwegia, Gerhard Armauer Hansen.

Kusta secara historis dikaitkan dengan stigma sosial karena penyakit dosa dan lainnya. Hal ini terus menjadi hambatan dalam pelaporan mandiri dan pengobatan penyakit sejak dini. Penularan penyakit tropis ini umumnya terjadi pada kelompok masyarakat yang paling rentan, termasuk migran dan masyarakat miskin.

Sekarang penyakit ini masih terdapat di 120 negara, namun penyakit ini juga diderita oleh warga negara maju seperti Amerika Serikat (AS). Baru-baru ini Negara Bagian Florida mengalami peningkatan kejadian kusta yang merupakan penyebab banyak kasus baru yang didiagnosis di AS.

Meski Organisasi Kesehatan Dunia meluncurkan rencana pada 2021 untuk mencapai nol kusta, namun lonjakan kasus baru di Florida tengah menyoroti kebutuhan mendesak bagi penyedia layanan kesehatan untuk segera melaporkannya. Pelacakan kontak sangat penting untuk mengidentifikasi sumber dan mengurangi penularan.

Faktor risiko tradisional termasuk paparan zoonosis dan baru-baru ini tinggal di negara endemis kusta. Brasil, India, dan Indonesia masing-masing mencatat lebih dari 10.000 kasus baru sejak 2019, menurut data Organisasi Kesehatan Dunia. Lebih dari selusin negara telah melaporkan antara 1.000 hingga 10.000 kasus baru dalam periode waktu yang sama.

"Penyakit kusta telah distigmatisasi pada zaman alkitab. Bukti menunjukkan bahwa penyakit kusta telah menjangkiti peradaban setidaknya sejak milenium kedua SM. Sejak saat itu hingga pertengahan abad ke-20, pengobatan yang tersedia terbatas, sehingga bakteri dapat menyusup ke dalam tubuh dan menyebabkan kelainan fisik yang menonjol seperti cacat tangan dan kaki," kata Robert A Schwartz, profesor dan kepala dermatologi di Rutgers New Jersey Medical School, Rutgers University, dalam tulisannya di laman The Conversation.

Kasus kusta stadium lanjut menyebabkan ciri wajah manusia menyerupai singa. Banyak kelainan kulit yang merugikan dan menyusahkan seperti kanker kulit dan infeksi jamur dalam juga disalahartikan sebagai kusta oleh masyarakat umum.

"Ketakutan akan penularan telah menyebabkan stigmatisasi dan pengucilan sosial yang luar biasa," ungkap Schwartz.

Penelitian menunjukkan bahwa kontak langsung dalam waktu lama melalui percikan pernapasan adalah cara utama penularan, dibandingkan melalui kontak normal sehari-hari seperti berpelukan, berjabat tangan, atau duduk di dekat penderita kusta. Penderita kusta umumnya tidak menularkan penyakitnya begitu mereka memulai pengobatan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • FIFA Asean Cup 2026: Sembilan Gol Antarkan Indonesia ke Final, Thailand Menanti
    Laga ini adalah salahsatu pertandingan bola paling menegangkan ...
  • Pembalakan Liar di TN Berbak-Sembilang Terbongkar, Ratusan Kayu dan Rel 1 Km Dimusnahkan.
    Pecuri kayu sampai membangun rel? Ini sih terang2an ...
  • Dagelan Tak Mutu Lapas Cibinong, Bisa Bangun 10 Rumah Sultan, tak Ada Anggaran Beli CCTV Rp200.000  
    Aparat dan pejabat di negeri ini makin terang2an ...
  • MSI Apresiasi Menteri Pertanian Amran Sulaiman Terkait Penghentian Impor Singkong
    Sangat menginspirasi melihat bagaimana kebijakan tegas menyetop impor ...
  • Kebangkitan UMKM dan Penetrasi E-Commerce jadi Katalisator Pertumbuhan Industri Percetakan di Indonesia
    ehadiran platform pameran B2B bertaraf internasional seperti ALLPrint ...
Advertisement
Inacraft Detail Sidebar

Belajar merangkai kain batik di Semarang

55 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Belajar merangkai kain bati...
Rona
Nekat Bolos Wamil, Mino WIN...
Daerah
DPRD DKI: Digitalisasi Park...
Advertisement
FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

FIFA Harus Menyelediki Sepak Bola Gajah yang Dimainkan Singapura dan Malaysia

03 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.