Pemanasan Global Memperburuk Kesenjangan Sosial Terutama Perempuan Miskin

Kamis, 07 Mar 2024, 00:03 WIB

ROMA - Laporan Organisasi Pangan dan Pertanian PBB atau United Nations Food and Agriculture Organisation (FAO) yang dirilis pada Selasa (5/3), menyebutkan, panas ekstrem membuat sebagian perempuan termiskin di dunia menjadi semakin miskin. Kesimpulan itu mengacu pada data cuaca dan pendapatan di 24 negara berpenghasilan rendah dan menengah.

Seperti dikutip dari The Straits Times, laporan tersebut melengkapi penelitian yang menunjukkan bagaimana pemanasan global, yang disebabkan oleh pembakaran bahan bakar fosil memperbesar dan memperburuk kesenjangan sosial yang ada.

Ket. Foto: Perubahan iklim — Sumber: ISTIMEWA

Laporan juga menyimpulkan bahwa meskipun tekanan panas menimbulkan kerugian bagi semua rumah tangga di perdesaan, namun dampaknya jauh lebih besar bagi rumah tangga yang dikepalai oleh seorang perempuan. Rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan kehilangan 8 persen lebih banyak pendapatan tahunan mereka dibandingkan dengan rumah tangga lainnya.

Artinya, cuaca panas yang ekstrem memperlebar kesenjangan antara rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan dan rumah tangga lainnya. Hal itu karena adanya kesenjangan yang mendasarinya.

Meskipun perempuan bergantung pada pendapatan dari sektor pertanian, mereka hanya mewakili 12,6 persen pemilik tanah secara global. Hal itu berarti rumah tangga yang dikepalai perempuan kemungkinan besar tidak memiliki akses terhadap layanan-layanan penting, seperti pinjaman, asuransi tanaman, dan layanan penyuluhan pertanian untuk membantu mereka beradaptasi terhadap perubahan iklim.

Laporan juga didasarkan pada data survei rumah tangga antara tahun 2010 dan 2020, yang digabungkan dengan data suhu dan curah hujan selama 70 tahun. Dampak jangka panjang dari pemanasan global juga sangat terasa.

Rumah tangga yang dikepalai oleh perempuan kehilangan pendapatan 34 persen lebih banyak, dibandingkan dengan rumah tangga lain, ketika suhu rata-rata jangka panjang meningkat sebesar 1 derajat Celsius.

Cuaca Ekstrem

Suhu rata-rata global dilaporkan telah meningkat sekitar 1,2 derajat Celsius sejak dimulainya era industri. Banjir pun memberikan tekanan yang lebih besar terhadap pendapatan rumah tangga yang dikepalai perempuan dibandingkan dengan jenis rumah tangga lainnya, meskipun intensitasnya lebih rendah dibandingkan dengan panas.

"Seiring dengan semakin seringnya peristiwa ini terjadi, dampaknya terhadap kehidupan masyarakat juga akan semakin besar," kata Nicholas Sitko, ekonom FAO dan penulis utama laporan tersebut.

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan perhatian terhadap dampak buruk cuaca ekstrem yang tidak proporsional, terkadang diperburuk oleh perubahan iklim, terhadap negara-negara berpendapatan rendah yang menghasilkan emisi gas rumah kaca per orang yang jauh lebih sedikit dibandingkan negara-negara maju dan kaya.

Hal yang jarang dibahas adalah kesenjangan dalam suatu negara. Kesenjangan gender sering kali merupakan hal yang paling sulit diukur.

"Perempuan dan anak perempuan terkena dampak bencana iklim secara tidak proporsional, bukan hanya karena kesenjangan sosio-ekonomi, namun juga karena norma-norma budaya yang mengakar dan kurangnya akses terhadap sumber daya dan proses pengambilan keputusan," kata Ritu Bharadwaj, peneliti dampak gender dan iklim di Institut Internasional untuk Lingkungan dan Pembangunan, yang tidak terlibat dalam laporan FAO.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Karya Tangan Badui Unjuk Gigi di Bazar Harkop Harnas 2026

Jelang Laga Kontra Liverpool, Newcastle United Resmi Perluas Kapasitas St James' Park

Musim Durian Tiba, Kantong Warga Lebak Ikut Berbuah

3 Tantangan Berat Trent Alexander-Arnold Usai Putuskan Hengkang dari Liverpool

Virus Zika Jadi Sorotan, Dispar Bali Minta Wisman Tetap Santai Berwisata

PLN dan YBM PLN Hadirkan Layanan Kesehatan hingga Promo Tambah Daya untuk Warga Lenteng Agung.

Era AI Datang, Wamenekraf Tantang Desainer Tingkatkan Kompetensi hingga Bisnis

Bukan Lagi Sekadar Cangkul, Teknologi Bantu Petani Bantul Kelola 200 Hektare Lahan Bawang Merah

Wali Kota Jakarta Barat Beri Penghargaan kepada PLN atas Kontribusi Cegah Kebakaran.

Pesawat Listrik Terbesar Dunia X1 Sukses Terbang Perdana, Biaya Cas Cuma Rp88 Ribu!

Siagakan 93.782 Ton Beras, Bulog Antisipasi Krisis Pangan Pascagempa NTT

PLN Hadir di Kantor Wali Kota Jakarta Utara, Ada Promo Merdeka Daya Diskon 50 Persen

Ganjil Genap Jakarta Ditiadakan Selasa 25 Agustus 2026, Ini Daftar 25 Ruas Jalan

Beroperasi 26 Agustus 2026, Ini Daftar 5 Stasiun Baru LRT Jakarta Kelapa Gading-Manggarai

TPOS Gedebage Ditargetkan Rampung 2027, Bandung Siapkan Teknologi Baru Olah 300 Ton Sampah per Hari

Desainer Masa Depan Wajib Kuasai AI hingga Bisnis, Kampus Diminta Jadi Ruang Eksperimen Kreatif

Bapemperda DKI Minta Naskah Akademik 16 Ranperda Prioritas 2027 Disiapkan Sejak Awal

Kemenhut Kerahkan 1.000 Polisi Hutan untuk Padamkan Karhutla di Kalimantan

67 Ribu Ton Beras Digerakkan ke NTT! BULOG Kirim Bantuan dari 4 Provinsi untuk Korban Bencana

Kurangi Kesenjangan, DPRD Jabar: Pembangunan di Jabar Harus Merata baik Perkotaan dan Pedesaan

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.