Guru Besar ITS Kembangkan Obat Antikanker dari Spons Laut Situbondo
Kamis, 04 Jan 2024, 15:35 WIBSURABAYA - Penyakit kanker merupakan salah satu dari lima jenis penyakit penyebab kematian terbesar di Indonesia. Prihatin hal tersebut, Guru Besar ke-191 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Awik Puji Dyah Nurhayati, dari Departemen Biologi mencoba meneliti obat baru antikanker dari sumber daya laut Indonesia.
Guru Besar bidang ilmu biologi kanker dan imunologi ini menerangkan, Indonesia sebagai negara yang 70 persen wilayahnya adalah perairan memiliki tingkat biodiversitas yang sangat tinggi. Atas hal tersebut, pemanfaatan sumber daya laut dapat menjadi potensi pengembangan obat kanker. "Salah satunya dari spons laut," sebut Awik.
Spons sendiri merupakan biomassa terbesar di perairan dengan perkiraan jumlah spesies di Indonesia sebanyak 4.000 - 6.000 jenis. Dengan berlimpahnya spesies tersebut, juga ditemukan bahwa spons dapat bersimbiosis dengan mikroorganisme laut yang bisa menghasilkan metabolit sekunder yang tinggi serta memiliki kemampuan untuk mensintesis bermacam-macam komponen organik. "Komponen organik tersebut dapat digunakan sebagai bahan obat-obatan," paparnya lewat keterangan tertulis, Kamis (4/1).
Adapun dalam penerapannya, Awik menggunakan metode mechanisme based assay atau metode berbasis mekanisme aksi yang spesifik terhadap target antitumor. Tak hanya itu, mekanisme apoptosis sel juga menjadi aspek terpenting dalam pengembangan riset ini. "Apoptosis merupakan sistem kematian sel terprogram," jelasnya.
Lebih lanjut, imbuh Awik, dalam proses penelitiannya telah dilakukan berbagai macam uji yaitu, in vitro, in vivo, hingga uji in silico. "Sampai tahap uji in vivo, kami menemukan bahwa spesies spons A. suberitoides di Pasir Putih Situbondo, Jawa Timur, memiliki aktivitas antikanker yang paling tinggi," ungkap ibu tiga anak tersebut.
Dengan adanya inovasi riset keilmuan yang berhasil dirancangnya, Awik berharap agar pemanfaatan produk-produk obat yang berasal dari bahan alam laut tersebut dapat terus dikembangkan. "Tak hanya itu, saya berharap agar penemuan ini dapat meningkatkan pemanfaatan, perlindungan, dan konservasi keanekaragaman biota laut secara berkelanjutan," pungkasnya.
Redaktur: Selocahyo Basoeki Utomo S
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
-
Polda Sumsel Sikat Komplotan "Pak Ogah" yang Resahkan Warga
-
Kenali Gejala Kanker Tiroid, Benjolan di Leher Bisa Jadi Tanda Awal
-
Harga Emas Antam Kamis Pagi Ini Turun Kembali ke Rp2,850 Juta/Gr
-
BMKG Prakirakan Hujan Lebat hingga Sangat Lebat Berpotensi Terjadi di Sejumlah Wilayah Indonesia
-
Pemkab Bogor Jadikan Sukamakmur Pusat Ekonomi Baru Dukung CDOB Bogor Timur
-
Diduga Jaringan Narkoba, AS Bombardir Sebuah Kapal di Pasifik Timur
-
Palu Mulai Terapkan Aturan Baru: ASN Harus Berangkat Pakai Transportasi Umum
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.