Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Memangsa 2.000 Spesies Liar, Kucing Jadi Spesies Invasif Paling Bermasalah di Dunia

📅 Jumat, 15 Des 2023, 00:00 WIB | Oleh:
Memangsa 2.000 Spesies Liar, Kucing Jadi Spesies Invasif Paling Bermasalah di Dunia Doc: AFP/RITA QIAN
Ket. Seekor kucing di penampungan hewan di Taicang, Provinsi Jiangsu, Tiongkok, baru-baru ini. Penelitian yang dilakukan oleh jurnal Nature ini merupakan penelitian pertama yang mengukur apa yang dimakan kucing dalam skala global.

LONDON - Sebuah studi yang diterbitkan oleh Nature Communications, pada Selasa (12/12), menyebutkan kucing memakan lebih dari 2.000 spesies satwa liar di seluruh dunia, termasuk ratusan spesies yang menjadi perhatian konservasi.

Dikutip dari The Straits Times, ini merupakan penelitian pertama yang mengukur apa yang dimakan kucing dalam skala global.

Kucing diketahui memakan 981 spesies burung, 463 reptil, dan 431 mamalia, menurut makalah Desember. Mereka juga ditemukan mengonsumsi 119 spesies serangga dan 57 amfibi.

Para peneliti mengatakan apa yang dimakan kucing berdampak signifikan terhadap satwa liar. "Kucing sebagai salah satu spesies invasif yang paling bermasalah di dunia," katanya.

Sekitar 350 atau 17 persen, dari spesies yang diuraikan dalam makalah ini merupakan spesies yang menjadi perhatian konservasi, kata para peneliti.

Spesies ini terdaftar sebagai hampir terancam, terancam atau punah dalam Daftar Merah Spesies Terancam Punah dari Persatuan Internasional untuk Konservasi Alam.

"Di antara 347 spesies yang menjadi perhatian konservasi, burung merupakan spesies dengan jumlah terbesar di semua kategori, diikuti oleh mamalia dan reptil," kata para peneliti.

"Salah satu atribut yang memungkinkan kucing menjadi penyerbu yang sukses adalah pola makan mereka yang bersifat umum."

Ratusan Penelitian

Para ilmuwan, yang angkanya didasarkan pada ratusan penelitian yang ada, mengatakan mereka yakin perkiraan akhir akan lebih tinggi, seiring dengan semakin banyaknya penelitian yang dilakukan.

"Meskipun penelitian mengenai pola makan kucing tersebar secara global, sebagian besar berasal dari Australia dan Amerika Utara, sedangkan Afrika, sebagian Eurasia, dan Amerika Selatan kurang terwakili," kata mereka.

"Dengan demikian, ada kemungkinan besar bahwa ketika penelitian dilakukan di lokasi yang kurang terwakili dan di pulau-pulau yang belum dievaluasi, akan ada lebih banyak spesies yang menjadi perhatian konservasi yang akan ditambahkan ke dalam daftar kami."

Menurut para peneliti, kucing adalah salah satu spesies yang paling banyak tersebar di planet ini, dapat ditemukan di setiap benua, kecuali Antartika dan telah menyebar ke ratusan pulau.

Singapura melancarkan perang terhadap tumbuhan dan spesies hewan invasif yang menimbulkan kerugian bagi kota-kota di seluruh dunia.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Megapolitan
Warga Bekasi Akan Dihibur B...
Advertisement
Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

Kronologi Kecelakaan Maut Honda Mobilio Tabrak Pick Up di Rasuna Said, 1 Orang Tewas

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.