Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Pangan 270 Juta Penduduk Tak Bisa Andalkan dari Impor

📅 Senin, 06 Nov 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Pangan 270 Juta Penduduk Tak Bisa Andalkan dari Impor Doc: Sumber: BPS – Litbang KJ/and - KJ/ONES

JAKARTA - Swasembada pangan sepertinya hanya tinggal slogan yang semakin sulit direalisasikan. Pemenuhan pangan khususnya kebutuhan pokok semakin bergantung pada produk impor. Maka tidak heran, kalau negara-negara eksportir pangan, seperti Thailand, Vietnam, dan kini Kamboja menjadikan Indonesia sebagai pasar yang empuk.

Pada pekan lalu, Kamboja mengekspor beras giling (milled rice) ke Indonesia untuk kali pertama, yang ditandai dengan tibanya pengiriman perdana komoditas itu di Semarang, pekan lalu.

Perdana Menteri (PM) Kamboja, Hun Manet, dalam rilisnya yang dikutip Antara mengatakan ekspor perdana beras ke Indonesia itu merupakan hasil dari negosiasi yang bermanfaat dalam membuka pasar Indonesia untuk beras giling mereka.

Ekspor komoditas itu ke Indonesi, jelasnya, akan membantu menggenjot volume ekspor negara kerajaan tersebut, dan berkontribusi pada peningkatan penghidupan para petani.

Sekitar 3.500 ton beras putih mereka ekspor ke Indonesia dalam pengiriman perdana tersebut. Ekspor itu dilakukan usai Indonesia pada Agustus lalu sepakat untuk membeli 125.000 ton beras giling dari Kamboja.

Kamboja telah mengekspor total 456.581 ton beras giling ke 57 negara dan kawasan dalam sembilan bulan pertama 2023 dengan meraup pendapatan sebesar 327,4 juta dollar AS menurut Federasi Beras Kamboja (Cambodia Rice Federation).

Tiongkok dan Eropa merupakan pasar utama untuk beras giling dari negara Asia Tenggara tersebut.

Guru Besar Fakultas Pertanian UGM, Dwijono Hadi Darwanto, memahami bahwa impor dari Kamboja pada saat ini adalah kebutuhan taktis yang harus dilakukan di tengah banyak negara pengekspor beras menghentikan ekspornya. Namun demikian, dia mempertanyakan bagaimana perencanaan pemerintah sehingga Indonesia selalu harus memilih jalan impor untuk memenuhi pangan.

"India, Thailand, Vietnam, setop ekspor. Sementara kita menghadapi El Nino dan musim tanam gadu. Desember-Januari harga memang akan melambung karena petani baru akan menanam padi, sudah tak memiliki gabah untuk dijual. Pertanyaannya, kenapa selalu kondisinya terjepit, lalu memang langkahnya harus impor?" kata Dwijono.

Andalkan Negara Lain

Keputusan Kamboja untuk mengekspor beras giling ke Indonesia adalah hasil dari negosiasi yang berhasil, tetapi menurut Dwijono, pertanyaan utama soal pangan selalu tentang bagaimana kita bisa mencukupi kebutuhan 270 juta perut secara berkelanjutan. Sebab, tidak mungkin perut sebanyak itu akan selalu bisa dicukupi dengan mengandalkan orang lain. Itu namanya menyerahkan leher atau nasib kepada pihak lain.

Maka dari itu, para pemimpin sangat penting untuk berpihak pada petani dan berinvestasi dalam pertanian lokal. Ini bukan hanya tentang memenuhi kebutuhan pangan, tetapi juga tentang mendukung penghidupan para petani Indonesia.

Situasi itu harus menjadi panggilan bagi pemerintah dan para pemangku kepentingan untuk mengambil tindakan yang nyata dalam mendukung kemandirian pangan Indonesia. Indonesia memiliki sumber daya dan potensi untuk menjadi negara produsen beras yang kuat.

"Seharusnya pemerintah segera memperbaiki saluran irigasi dan subsidi pupuk sudah seharusnya langsung ke petani bukan lagi ke pabrik pupuk. Ini jika ke depan masih mengharap para petani mau meningkatkan produksi gabahnya," tandas Dwijono.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...

Hari Santri Nasional

52 menit yang lalu | Ones

Nasional
Hari Santri Nasional

Akses permodalan UMKM melalui KUR

55 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Akses permodalan UMKM melal...
Nasional
KPK Berharap Nusron Wahid K...

Capaian realisasi investasi nasional

1 jam lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Capaian realisasi investasi...

Dua tahun pemerintahan Prabowo

1 jam lalu | Fajar Alim M

Nasional
Dua tahun pemerintahan Prabowo
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.