UNHCR Hadapi Lonjakan Pengungsi Tersulit

Selasa, 10 Okt 2023, 02:45 WIB

JENEWA - Kepala badan pengungsi PBB (UNHCR) pada Senin (9/10) mengatakan bahwa organisasi yang dipimpinnya tersebut sedang menghadapi salah satu momen tersulit dalam sejarahnya, karena harus menghadapi tantangan lonjakan sekitar 110 juta orang mengungsi di seluruh dunia dan kekurangan dana yang besar.

"Tugas yang Anda percayakan kepada UNHCR berada pada salah satu momen tersulit dalam sejarah kita," kata Filippo Grandi kepada Komite Eksekutif UNHCR pada pertemuan di Jenewa, Swiss. "Dunia semakin terpecah, terfragmentasi, dan (banyak negara) lebih mementingkan situasi masing-masing," imbuh dia, mengacu pada banyak negara yang kian memperketat perbatasannya.

Ket. Foto: Kepala UNHCR, Filippo Grandi — Sumber: AFP/SERGEI SUPINSKY

Konflik dari Ukraina hingga Sudan, menurut Grandi, telah berkontribusi pada pengungsian sekitar 110 juta orang di seluruh dunia pada saat banyak negara, termasuk negara yang pernah menerima negara seperti Jerman, berada di bawah tekanan untuk bersikap lebih keras terhadap pencari suaka.

Beberapa negara seperti Slovakia misalnya telah memperketat kontrol perbatasan sementara Presiden Amerika Serikat (AS), Joe Biden, berencana untuk melanjutkan tembok perbatasan untuk mencegah masuknya kaum migran.

Dalam pidatonya dihadapan badan pimpinan UNHCR, Grandi mendesak negara-negara untuk menghormati hak-hak orang yang melarikan diri dari konflik atau penganiayaan yang dijamin berdasarkan Konvensi Pengungsi tahun 1951 yang mana badan tersebut dibentuk untuk mengawasinya.

Kekurangan Dana

Dalam penuturannya, Grandi juga menyatakan bahwa organisasinya menghadapi kekurangan dana sebesar 650 juta dollar AS tahun ini dan prospek tahun 2024 bahkan lebih mengkhawatirkan. Negara pendonor utama UNHCR adalah AS dan Jerman.

Kurangnya bantuan menyebabkan sejumlah pengungsi, seperti mereka yang melarikan diri dari konflik Sudan, melakukan perjalanan berbahaya ke Tunisia dan Italia, kata Grandi.

"Sedihnya, hal ini mengingatkan kita pada situasi tahun 2015, ketika ribuan pengungsi Suriah dan pengungsi lainnya pindah dari Timur Tengah ke Eropa ketika bantuan mulai menurun," tutur Grandi.

Dengan tingginya angka kematian di dua jalur migrasi paling berbahaya di dunia, Darien Gap dan penyeberangan laut Mediterania ke Eropa, Grandi menyerukan solusi bagi seluruh rute yang baru.

Grandi, tanpa menyebutkan nama negara, mengatakan negara-negara mempunyai hak untuk menerapkan pengendalian perbatasan, namun menggambarkannya sebagai tindakan yang tidak praktis dan tidak berpandangan sempit jika hanya fokus pada pengendalian tersebut. ST/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: Ilham Sudrajat

Berita Terbaru

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

Bye-Bye Kabel Ruwet! Pemkot Banjarmasin Siapkan Sanksi Tegas Buat Provider Nakal!

BNPB Minta Malaysia dan Singapura Tidak Saling Menyalahkan Soal Asap Karhutla

Ratusan Pasukan BKO Diterjunkan! Kodam XII/Tanjungpura Siaga Satu Hadapi Karhutla Kalbar!

Budaya Lokal Jadi Senjata Baru Mandalika untuk Gaet Wisatawan

Unik! Pemanasan di Kolam Hangat Tropis Malah Bikin Es Antarktika Tak Mudah Mencair

Ini 8 Penyebab AC Mobil Anda Tak Dingin, Simak Cara Mengatasinya!

Brasil Desak PBB Gelar Sidang Luar Biasa, Dunia Sudah Lelah dengan Konflik Global

Wamenekraf Tegaskan Desainer Harus Kuasai AI hingga Bisnis di Masa Depan

Ilmuwan Kembangkan Cip Pintar: Performa Maksimal, Minim Daya

Pendaftaran Seleksi Petugas Haji Kloter & PPIH Arab Saudi Tahun 2027 Dibuka Kemenhaj, Catat Link dan Tanggalnya!

Harga Sembako di Lebak Terkerek Naik Dikit, Efek Kemarau Walau Pasokan Melimpah

Bandung Great Sale 2026 Resmi Dibuka! 171 UMKM Dilibatkan Dongkrak Ekonomi Daerah

Sulbar Darurat Internet: 30,25 Persen Desa Masih "Blank Spot"

Wadoh, Investor Korea Selatan Diduga Jadi Korban “Mafia Legal Formal”

Shin Tae-yong Puas Pola Permainan Persija Nyaris Sempurna Jelang Liga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.