Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Ledakan Populasi Runtuhkan Dinasti Qing

📅 Selasa, 12 Sep 2023, 06:10 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Ledakan Populasi Runtuhkan Dinasti Qing Doc: AFP/ China OUT

Dinasti Qing pernah berkuasa selama 250 tahun dan menciptakan stabilitas di Tiongkok. Namun akibat tingginya populasi, dinasti ini kemudian runtuh.

Dinasti Qing yang merupakan dinasti asing, berhasil menciptakan stabilitas di Tiongkok dalam waktu lama. Setelah berkuasa selama 250 tahun, dinasti ini runtuh pada 1912 karena kompleksitas yang dihadapi akibat tingginya populasi.

Dinasti Qing juga dikenal sebagai Dinasti Manchu adalah salah satu dari dua dinasti asing yang memerintah di Tiongkok setelah Dinasti Yuan Mongol. Dinasti ini sekaligus menjadi dinasti kekaisaran yang terakhir berkuasa, sebelum berganti menjadi sistem republik.

Alasan kemunduran sistem kekaisaran memang telah lama diperdebatkan. Namun sebuah studi baru yang dilakukan oleh para peneliti dari Universitas Osaka di Jepang, Universitas Normal Shanghai di Tiongkok, Institut Evolusi dan Universitas Washington di AS, dan Pusat Sains Kompleksitas Wina di Austria, menyoroti tiga faktor penting yang berperan dalam kejatuhan Dinasti Qing.

Mereka menggunakan teori struktural-demografis (SDT) untuk memetakan kejatuhan ekonomi Dinasti Qing. Teori ini didasarkan pada model matematika ini membagi masyarakat menjadi empat bagian pertama negara, elite, populasi generasi, dan komponen tambahan yang mengukur ketidakstabilan politik. Setiap bagian mempengaruhi bagian lainnya secara dinamis.

"Kami berpendapat bahwa ledakan populasi sebanyak empat kali lipat yang mencapai puncaknya pada abad ke-19, meningkatnya persaingan untuk mendapatkan sejumlah posisi elite yang stagnan, dan meningkatnya tekanan fiskal negara, semuanya menghasilkan ketidakpuasan masyarakat dan elit, sehingga menyebabkan pemberontakan internal yang signifikan," tulis para peneliti seperti dikutip Live Science.

Menurut para peneliti pertumbuhan populasi menyebabkan kepadatan penduduk, kemiskinan, dan melimpahnya birokrat berkualitas yang tidak mampu meningkatkan jabatannya. Biaya untuk menjaga ketertiban, menambah beban yang terkait dengan menipisnya cadangan perak dan impor opium, semakin memperburuk masalah ini.

Tampaknya para penguasa Qing sepenuhnya menyadari masalah ini, hanya saja mereka tidak bertindak cukup cerdas dan cepat. Kombinasi pemberontakan internal dan tantangan geopolitik eksternal pada akhirnya menentukan nasib dinasti tersebut.

"Hal ini jelas menunjukkan bahwa perekonomian mana pun harus waspada karena keadaan dapat berubah, dan terkadang dengan cepat," kata Georg Orlandi, dari Universitas Osaka.

Tim ini menarik persamaan antara kondisi jatuhnya Dinasti Qing dan beberapa permasalahan serta ketidakstabilan dalam masyarakat saat ini, termasuk meningkatnya kesenjangan dan berkurangnya peluang untuk maju, permasalahan yang sebaiknya ditangani oleh pemerintah.

Tapi itu lebih mudah diucapkan daripada dilakukan. Tekanan-tekanan ini seringkali muncul dalam jangka panjang, sedangkan pemerintahan pada umumnya berubah dan berkembang dalam jangka pendek, dan hal ini berarti nasib Dinasti Qing bisa saja terulang di tempat lain. "Sangat penting untuk memahami asal mula ketidakstabilan tersebut," kata Peter Turchin, dari Complexity Science Hub di Wina, Austria.

Faktor Stabilitas

Dinasti Qing didirikan oleh para pejuang Manchu, dan pernah menjadi kekuatan kontinental yang patut diperhitungkan. Kekuasaannya membentang dari Asia timur hingga hampir seluruh bagian timur Eurasia, dengan ters memperluas wilayah.

Perlawanan dari Dinasti Qing menggantikan Dinasti Ming yang jatuh pada 1616. Pasukan Manchuria dari Asia timur laut mengalahkan tentara Ming dan menduduki beberapa kota di perbatasan utara Tiongkok. Invasi besar-besaran pun terjadi, sehingga Dinasti Ming berhasil dikalahkan pada 1644.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
Nasional
Unjuk rasa mahasiswa dan ma...
Daerah
Peluncuran bus listrik proy...

Pembukaan Festival Budaya Kerinci 2026

25 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Pembukaan Festival Budaya K...
Megapolitan
Aksi desak evaluasi perdaga...

Peremajaan lahan perkebunan kelapa

34 menit yang lalu | Wahyu AP

Daerah
Peremajaan lahan perkebunan...
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.