Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Vaksin DBD Resmi Beredar, Bisakah Indonesia Bebas Demam Berdarah?

📅 Jumat, 14 Jul 2023, 12:00 WIB | Oleh: Tim Penulis
Vaksin DBD Resmi Beredar, Bisakah Indonesia Bebas Demam Berdarah? Doc: The Conversation/Getty Images
Ket. Vaksin dengue menjadi salah satu terobosan untuk penyelesaian DBD di berbagai negara endemik.

Arif Nur Muhammad Ansori, Universitas Airlangga; Arli Aditya Parikesit, Indonesia International Institute for Life Sciences, dan Yulanda Antonius, Universitas Surabaya

Demam Berdarah Dengue (DBD) telah lama menjadi penyakit endemik di Indonesia.

Iklim tropis merupakan lingkungan yang sangat mendukung perkembangbiakan vektor nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus dengan cepat.

Dalam lima tahun terakhir, Indonesia telah mengalami peningkatan kasus DBD jika dibandingkan dengan data dua dekade yang lalu.

Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan bahwa kasus DBD meningkat secara signifikan dari tahun 2021 (sekitar 73.500 kasus dengan 705 kematian) dan 2022 (sekitar 131.200 kasus dengan 1.183 kematian).

Dengan gejala yang serius dan berpotensi fatal, DBD menjadi ancaman nyata bagi kesehatan masyarakat, terutama bagi anak-anak dan dewasa muda. Maka, persetujuan edar vaksin dengue untuk usia 6-45 tahun di Indonesia pada September 2022 menjadi kabar baik yang dinantikan.

Saat ini, vaksin dengue QDENGA® telah beredar di Indonesia. Vaksin tersebut terdaftar atas nama PT Takeda Indonesia dan diproduksi oleh IDT Biologika GmbH Jerman.

Namun, apakah dengan vaksin tersebut maka Indonesia akan terbebas dari DBD dalam waktu dekat? Apalagi, vaksinasi untuk DBD belum termasuk dalam vaksin wajib bagi anak-anak hingga saat ini.

Epidemiologi DBD di Indonesia

DBD adalah masalah kesehatan yang signifikan di Indonesia.

Sebagai negara tropis dengan iklim yang hangat dan lembap sepanjang tahun, Indonesia menjadi tempat yang ideal untuk perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus, vektor untuk penyebaran virus dengue (Gambar 1).

Geografis Indonesia yang luas dan beragam juga berperan dalam epidemiologi (penyebaran penyakit) DBD di negara ini. Beberapa area dengan populasi padat seperti Bandung, Jakarta Timur, dan Bogor serta infrastruktur sanitasi yang kurang memadai memiliki risiko tinggi untuk penyebaran penyakit ini.

Selain itu, faktor iklim, seperti curah hujan dan suhu, juga memengaruhi penyebaran dan perkembangbiakan nyamuk -pada akhirnya mendorong penyebaran DBD di masyarakat.

DBD di Indonesia memiliki pola musiman. Peningkatan kasus biasanya terjadi pada musim hujan (Oktober-Maret), kondisi lembab dan adanya genangan air membuat lingkungan yang ideal bagi nyamuk untuk berkembang biak. Namun, DBD tetap bisa terjadi sepanjang tahun.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Pasar Eropa Terbuka Lewat IEU-CEPA, Industri Tekstil Indonesia Punya Peluang Baru
    Artikel yang sangat mencerahkan. Sepakat dengan pandangan Kadin ...
  • Produksi Kapal Baru RI Melonjak 251 Persen, Menperin: Negara Maritim Jangan Kalah di Laut Sendiri
    Menanggapi lonjakan produksi kapal baru hingga 251 persen ...
  • Bidik Transformasi Industri Indonesia, Danantara Gelar Forum Teknologi dan Investasi Global
    Fokus Danantara pada industrialisasi inovasi dalam forum DTIIF ...
  • Produksi Dipangkas 50 Persen, Industri Keramik Terancam Lumpuh Gara-Gara Gas!
    Membaca kondisi industri keramik yang terpaksa memangkas kapasitas ...
  • Gelombang Tsunami Setinggi 18 Meter Mengancam Pantai Selatan Kebumen
    Membayangkannya saja sudah bikin takut. Apalagi ada keluarga ...
Advertisement
Homedec Detail Sidebar
pasang iklan di koran jakarta
pasang iklan di koran jakarta
Advertisement
Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

Kebiasaan Bangun Paling Pagi Bikin Kita Banyak Rezeki, Benarkah?

22 Oct 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.