Butuh 'Political Will' untuk Mewujudkan Keadilan Sosial

Jumat, 02 Jun 2023, 00:04 WIB

» Jokowi mengajak seluruh bangsa menolak ekstremisme, politisasi identitas, dan agama jelang Pemilu 2024.

» Pembangunan lebih berorientasi pada pertumbuhan, tapi minus pemerataan.

Ket. Foto: UPACARA PERINGATAN HARI LAHIR PANCASILA I Presiden Joko Widodo didampingi Wakil Presiden Ma’ruf Amin tiba di lokasi upacara peringatan hari lahir Pancasila di Monas, Jakarta, Kamis (1/6). Peringatan hari lahir Pancasila tahun 2023 mengangkat tema gotong royong membangun peradaban dan pertumbuhan global. — Sumber: ANTARA/AKBAR NUGROHO GUMAY

JAKARTA - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam peringatan Hari Pancasila di Jakarta, Kamis (1/6), mengatakan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila seperti toleransi, persatuan, dan gotong royong relevan untuk dunia.

Dengan ideologi Pancasila kepemimpinan Indonesia diterima dan diakui dunia. Presidensi G20 yang telah sukses dilaksanakan pada tahun lalu, kemudian dilanjutkan dengan memegang Keketuaan Asean pada tahun ini merupakan bukti nyata bahwa Pancasila relevan tidak hanya untuk Indonesia, tetapi juga untuk dunia.

Menurut Presiden, kunci untuk membangun bangsa yang kokoh adalah dengan dengan mengamalkan nilai-nilai Pancasila, seperti toleransi, persatuan, dan gotong royong.

Oleh karena itu, Jokowi mengajak seluruh bangsa untuk menolak ekstremisme, menolak politisasi identitas, dan menolak politisasi agama, terutama menjelang Pemilihan Umum 2024.

"Mari kita menyambut pesta demokrasi Pemilu 2024 dengan kedewasaan, dengan suka cita, dengan memegang teguh nilai Pancasila, memperjuangkan Indonesia maju yang sejahtera, serta adil berwibawa di kancah dunia," kata Presiden.

Sementara itu, Menteri Koordinator bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Mahfud MD, mengajak seluruh komponen bangsa untuk menyukseskan penyelenggaraan Pemilu 2024 sebagai perwujudan nilai-nilai luhur Pancasila.

Ajakan itu disampaikan Menko Polhukam saat menyampaikan amanat Presiden RI Joko Widodo dalam Upacara Peringatan Hari Lahir Pancasila di Lapangan Pancasila, Ende, Nusa Tenggara Timur.

"Saya mengajak kita semua untuk bersama-sama menyukseskan pemilu yang jujur aman dan damai. Kita harus menjaga kerukunan dan keutuhan untuk menciptakan suasana yang kondusif. Ini adalah aplikasi dan pengamalan nilai Pancasila," kata Mahfud seperti dikutip Antara dari keterangan tertulisnya.

Mahfud menegaskan bahwa jiwa dan semangat Pancasila harus diaktualisasikan dalam kerangka berpikir, bertindak, dan bermasyarakat setiap individu agar terwujud nilai kemanusiaan dan solidaritas bangsa.

Pedoman Hidup

Staf Khusus Ketua Dewan Pengarah Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), Antonius Benny Susetyo, mengatakan Pancasila bersifat final, sehingga seluruh sila yang dijabarkan dalam UUD 1945 harus menjadi pedoman hidup berbangsa dan bernegara.

Salah satu masalah krusial dari bangsa ini yang sampai sekarang masih terus stagnan adalah pengentasan kemiskinan dan pengurangan ketimpangan di mana hal itu tidak sesuai dengan sila ke-5 dan UUD 1945 Pasal 33.

"Butuh political will untuk mewujudkan keadilan sosial dan mengatasi masalah kesenjangan sosial. Kita perlu estafet kepemimpinan yang makin memperbaiki masalah keadalilan sosial tersebut," kata Benny.

Negara, katanya, harus hadir melalui penguasaan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak. Pangan misalnya, tidak bisa negara mengandalkan impor. Sebaliknya negara harus melakukan empowering pada pelaku produksi pangan dalam negeri yakni para petani yang tinggal di perdesaan.

Regulasi ekonomi, terutama sandang, pangan, dan papan, negara harus memastikannya berpihak pada rakyat kecil yang lemah. Apa yang sudah dikerjakan Presiden Jokowi dengan melakukan hilirisasi di tambang harus diteruskan dan diperluas ke sektor pertanian khususnya pangan di mana pelaku utamanya adalah rakyat kecil di perdesaaan.

"Kekuatan desa harus jadi basis ekonomi dan negara tidak boleh mengutamakan segelintir importir ketimbang rakyat petani di perdesaan," tandas Benny.

Secara terpisah, pengamat politik dari Universitas Wijaya Kusuma, Surabaya, Umar Sholahudin, mengatakan implementasi keadilan sosial saat ini bukan bagi seluruh rakyat Indonesia, tapi bagi segelintir rakyat Indonesia.

"Ketimpangan/kesenjangan sosial ekonomi kita sangat memprihatinkan, sudah terlalu lebar. Kebijakan pembangunan ekonomi lebih banyak memberikan privalage kepada segelintir orang/ pemilik modal, terutama kroni. Kebijakan pembangunan kita masih berkarakter kapitalistik liberalistik. Pembangunan lebih berorientasi pada pertumbuhan, tapi minus pemerataan," kata Umar.

Sila ke-4 yang berisi demokrasi ekonomi tidak berjalan yang mengakibatkan runtuhnya sila ke-5. Para elite harus melakukan aksi nyata mengevaluasi kebijakan pembangunan ekonomi agar lebih berkeadilan bagi seluruh rakyat.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Eko S, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

LG Borong 17 Penghargaan IDEA 2026, Perkuat Prestasi Triple Crown di Ajang Desain Global

Trump Sumringah, Mahkamah Agung AS Izinkan Kembali Pembangunan Ballroom Gedung Putih

Uniqlo Fall/Winter 2026 Hadirkan Gaya Urban Fleksibel, Temani Aktivitas dari Kerja hingga Traveling

Terisolasi Usai Gempa M 7,7! Kemen ESDM Beberkan Kondisi Listrik dan BBM di Manggarai!

Ramaikan GBK, Lebih dari 5.000 Peserta Tumpah Ruah di BrookFarm Almond Run 2026

Siap Duduk Satu Meja? Pertemuan Putin dan Donald Trump di KTT APEC Tinggal Menunggu Waktu!

Mencekam! Lahan Gambut Pinggir Jalan Tol Mendadak Terbakar, Petugas Bertarung Tengah Malam!

Harga Bahan Pokok Lebak Merangkak Naik, Ada Apa dengan Pasar?

Tinggalkan Cara Lama! UMKM Papua Dipaksa Naik Kelas Lewat Jurus Digital BI!

Ekspedisi Patriot Gebrak di Kawasan Transmigrasi Simeulue, Budi Daya Ikan Dibidik Jadi Mesin Ekonomi

Omzet UMKM di KKI 2026 Tembus Rp144,2 Miliar, Produk Lokal Makin Menggigit

TP PKK dan Pemkab Banjar Buka Akses Layanan Operasi Bibir Sumbing Berkelanjutan

Bangkit dari Cedera Langsung Juara Dunia! Keajaiban An Se-young Hancurkan Mimpi Rekor Akane!

Magetan Tak Mau Ketinggalan, Peta Jalan Ekraf 2027 Disiapkan untuk Gebrak Ekonomi Kreatif

Jalan-Jalan Makin Nyaman, Bogor Siapkan Bus Listrik untuk Rute Wisata

Bukan Kaleng-Kaleng! KOI Bongkar Alasan Kejurnas Hoki 2026 Lebih Bergengsi dari SEA Games!

Pemkot Ambon Pastikan Pembangunan Infrastruktur Berdasarkan Skala Prioritas

Kebakaran Desa Adat Sade Jadi Alarm Keras: Pariwisata Harus Tangguh Hadapi Bencana

Anjlok ke Titik Terendah! Kebijakan Ekstrem PM Jepang Sanae Takaichi Bikin Rakyat Cemas!

Bandung Great Sale 2026 Gebrak Pasar, 171 UMKM Siap Unjuk Produk

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.