Momentum Tepat Kembangkan Pangan Lokal
Kamis, 11 Mei 2023, 09:40 WIBJAKARTA - Fenomena cuaca ekstrem menjadi momentum bagi pemerintah mendorong pengembangan dan konsumsi pangan lokal. Sebab, penganekaragaman konsumsi pangan memiliki posisi sangat penting dalam ketahanan pangan nasional. Masyarakat tak lagi terlalu bergantung terhadap satu komoditas pangan saja.
Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menyatakan pemerintah terus mendorong penganekaragaman konsumsi pangan masyarakat. Diversifikasi pangan menjadi fondasi ketahanan pangan dan mendorong kemandirian pangan karena bisa mengurangi kebergantungan terhadap impor.
"Hal ini sejalan dengan arahan Bapak Presiden yang meminta agar kemandirian pangan di setiap daerah di berbagai wilayah Indonesia terus diperkuat dengan mengembangkan sumber-sumber pangan lokal," ujar Arief saat membuka Indonesian Chef Association (ICA) Chef Expo 2023, di Jakarta, Rabu, (10/5).
Untuk itu, Arief mengatakan melalui Kedeputian Penganekaragaman Konsumsi dan Keamanan Pangan, Bapanas menggenjot sejumlah program, seperti menggencarkan gerakan Konsumsi Pangan Beragam, Bergizi Seimbang, dan Aman (B2SA) yang telah diluncurkan pada Juli 2022, serta serangkaian sosialisasi dan edukasi lainnya.
"Untuk meningkatkan kesadaran konsumsi pangan yang beragam, kita terus sosialisasikan gerakan B2SA ke semua kalangan masyarakat utamanya ke para generasi muda bekerja sama dengan dunia akademik dan komunitas. Selain itu, kita juga gelar dan dukungan berbagai event bertema pangan yang mengusung konsep penganekaragaman konsumsi pangan. Seperti hari ini pada gelaran Chef Expo 2023," ujarnya.
Arief juga mengajak seluruh stakeholders mengembangkan dan mempromosikan potensi pangan lokal Nusantara dalam rangka mewujudkan konsumsi pangan B2SA melalui tiga langkah sederhana, yaitu cintai dan pilihlah pangan lokal Nusantara sebagai menu sehari-hari, biasakan konsumsi aneka ragam pangan dengan porsi yang cukup dengan komposisi isi piring 1/3 porsi karbohidrat, 1/3 porsi sayur mayur, 1/6 porsi lauk pauk, dan 1/6 porsi buah-buahan.
Kerawanan Pangan
Sementara itu, Dosen Sekolah Tinggi Pariwisata Trisakti yang juga Pakar Diversifikasi Pangan, Saptarining Wulan, menilai saat ini masyarakat global dihadapkan pada masalah kerawanan pangan. Hal itu terjadi karena fenomena perubahan iklim, pertumbuhan jumlah penduduk dan juga maraknya alih fungsi lahan pertanian.
Kondisi tersebut tentu mempengaruhi penurunan produksi pangan. Karena itu, sudah saatnya bagi pemerintah kembali ke spesies tanaman pangan asli, seperti sagu, sorgum, atau umbi umbian.
"Pangan asli ini sudah cocok dengan iklim di daerah-daerah tempat dia tumbuh. Mau hujan, mau kering, ia tetap tumbuh. Namun selama ini tidak dilirik, ia dilirik saat ada emergency saja. Misalnya saat Covid kali lalu, tetapi tidak ada aksi nyata," tegasnya.
Karena itu, lanjut dia, yang perlu dilakukan pemerintah agar pangan asli ini makin diminati adalah dengan memperkuas sosialisasi dari hulu sampai hilir, dari pengadaan hingga pengolahan. "Kenapa sosialisasi itu penting, karena lidah kita juga tergantung kebiasaan. Kalau lidahnya dibiasakan dengan sorgum maka sampai tua pun akan cari sorgum," papar dia.
Redaktur: Muchamad Ismail
Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini
Berita Terkait:
-
Cuaca Ekstrem hingga 24 Mei, BPBD DKI Minta Warga Waspada Banjir
-
Masuki Pancaroba, BMKG Minta Warga Bandung Raya Waspadai Cuaca Ekstrem
-
Momen Langka! Warga Bantaran Rel Sampaikan Harapan ke Presiden Prabowo Soal Tempat Tinggal.
-
Cuaca Ekstrem Berpotensi Melanda Banten pada 3-8 Mei, BMKG Minta Warga Waspada
-
Cuaca Ekstrem dan Potensi Bencana Alam
-
Angkasa Pura Indonesia dan AirNav Pastikan Operasional Bandara Soetta Tetap Terkendali Saat Cuaca Buruk
-
Kementan Gandeng Pemda Magetan Perkuat Serapan Telur Peternak Rakyat
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.