Terlambat, Dampak Sistemik SVB Sudah Merambat ke Berbagai Sektor

Selasa, 28 Mar 2023, 00:03 WIB

JAKARTA - First Citizens BancShares Inc dikabarkan sedang dalam pembicaraan lanjutan untuk mengakuisisi Silicon Valley Bank (SVB). Salah seorang sumber yang mengetahui masalah tersebut kepada Reuters pada Minggu (26/3) mengatakan First Citizens dapat mencapai kesepakatan secepatnya Minggu untuk mengakuisisi Silicon Valley Bank dari Federal Deposit Insurance Corp (FDIC), seperti dilaporkan pertama kali oleh Bloomberg News.

First Citizens memiliki aset sekitar 109 miliar dollar AS dengan total simpanan sebesar 89,4 miliar dollar AS.

Ket. Foto: Kantor First Citizens BancShares Inc — Sumber: ISTIMEWA

Baik lembaga penjamin, FDIC yang sekarang mengendalikan aset Silicon Valley Bank, maupun First Citizens belum memberi tanggapan atas permintaan komentar dari Reuters seperti dikutip dari Antara.

FDIC sendiri telah mencoba menjual SVB Private bersama Silicon Valley Bank selama dua akhir pekan terakhir tetapi gagal mencapai kesepakatan untuk menjual keduanya secara bersamaan. Para investor pun pada pekan lalu meminta penawaran terpisah untuk SVB Private dan Silicon Valley Bank.

Dalam laporan terpisah dari Bloomberg pada Sabtu (25/3), selain First Citizens, Valley National Bancorp juga menjadi penawar untuk Silicon Valley Bank.

Menjalar ke Startup

Direktur Celios, Bhima Yudisthira yang diminta tanggapannya mengatakan, opsi penyelamatan SVB bank sebenarnya relatif lambat karena dampak sistemik terhadap sektor keuangan AS sudah menjalar ke berbagai sektor termasuk ke pendanaan startup dan stabilitas keuangan global.

Kondisi tersebut berbeda dengan Credit Suisse yang dilakukan penyelamatan dalam jangka waktu cepat, sehingga imbasnya tidak sampai membuat krisis keuangan di Eropa.

Lambatnya penanganan SVB bank ditengarai karena investor termasuk bank lain menganggap bahwa risiko di pendanaan digital masih cukup tinggi.

Oleh sebab itu, dia mengimbau Bank Indonesia (BI) dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) harus mewaspadai dampak ketidakpastian di sektor keuangan AS yang masih berlanjut. "Rupiah dan suku bunga perbankan masih bisa terimbas dari risiko gagal bayar perbankan di AS," kata Bhima.

Meluasnya krisis perbankan juga terlihat dengan adanya kabar dari Eropa mengenai naiknya biaya credit default swap salah satu bank besar Eropa, Deutsche Bank. Kenaikan itu karena kekhawatiran gagal bayar di tengah krisis perbankan dan laporan terkait penarikan deposit oleh nasabah di bank-bank kecil AS.

Kekhawatiran krisis perbankan berpotensi meluas itu mendorong pelaku pasar masuk ke aset aman lagi sehingga dapat menekan kurs mata uang negara-negara berkembang termasuk rupiah. Kekhawatiran potensi penularan di luar bank regional, terutama ke rekan-rekan mereka yang lebih besar memicu aksi jual saham bank Eropa. Aksi jual itu didorong oleh meningkatnya biaya untuk mengasuransikan utang Deutsche Bank.

Redaktur: Vitto Budi

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.