- Home
-
- Luar Negeri
-
- Uji Coba Obat Covid-19 Kur...
Uji Coba Obat Covid-19 Kurangi Risiko Rawat Inap
Jumat, 10 Feb 2023, 00:01 WIBWASHINGTON DC - Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan, pada Rabu (8/2), uji klinis skala besar pengobatan antivirus injeksi tunggal untuk pasien Covid-19 terbaru, mampu mengurangi setengah risiko rawat inap.
"Obat baru itu menunjukkan manfaat besar bagi orang yang divaksinasi dan tidak divaksinasi," kata peneliti dari Universitas Stanford, Jeffrey Glenn, yang menjadi rekan penulis studi yang diterbitkan di New England Journal of Medicine (NEJM).
Dikutip dari The Straits Times, sementara jumlah orang Amerika yang meninggal setiap hari karena virus korona telah turun menjadi sekitar 500, pengobatan untuk penyakit ini tetap terbatas. Salah satu yang paling umum, Paxlovid yang dibuat oleh Pfizer, menunjukkan penggunaan 30 pil selama lima hari.
Perawatan baru ini melibatkan satu dosis pegylated lambda-interferon, versi sintetik dari protein alami yang dikeluarkan sel yang terinfeksi untuk bertahan melawan infeksi virus.
"Apa yang dilakukannya adalah mengikat reseptor pada permukaan sel yang mengaktifkan mekanisme pertahanan antivirus kita sendiri," kata Glenn, ahli mikrobiologi dan imunologi yang mengepalai Stanford Biosecurity and Pandemic Preparedness Initiative.
"Jadi jika virus telah menginfeksi sel maka akan menghidupkan proses yang bertujuan menghancurkan replikasi virus tersebut. Itu juga akan mengirimkan sinyal ke sel tetangga untuk memperingatkan mereka bahwa virus sedang dalam perjalanan dan bersiap untuk membela diri," tutur dia.
Menurut Glenn, reseptor untuk interferon lambda terutama berada di lapisan paru-paru, saluran udara, dan usus, tempat utama Covid-19 menyerang.
"Kami menyalakan mekanisme antivirus ini di dalam sel, paru-paru, tempat infeksi terjadi," katanya.
Uji Coba Fase 3
Uji coba fase 3 obat tersebut, yang dilakukan antara Juni 2021 dan Februari 2022, melibatkan hampir 2.000 pasien dengan gejala Covid-19 di Brasil dan Kanada, sekitar 85 persen di antaranya telah divaksinasi.
Sebanyak 931 pasien Covid-19 yang baru terinfeksi diberi suntikan tunggal interferon lambda sementara 1.018 peserta diberi plasebo.
Menurut para peneliti, risiko rawat inap atau kematian terkait Covid-19 dari penyebab apa pun adalah 47 persen lebih rendah pada kelompok interferon daripada kelompok plasebo.
Dua puluh lima dari 931 orang yang menerima suntikan dalam waktu tujuh hari setelah menunjukkan gejala Covid-19 dirawat di rumah sakit dibandingkan dengan 57 dari 1.018 yang menerima plasebo.
Pasien yang divaksinasi yang diobati dengan interferon lambda mengalami penurunan rawat inap sebesar 51 persen dibandingkan dengan kelompok plasebo. Ada 89 persen pengurangan rawat inap di antara pasien yang tidak divaksinasi yang dirawat dalam tiga hari pertama setelah timbulnya gejala Covid-19 dibandingkan dengan kelompok plasebo.
Glenn mengatakan interferon lambda terbukti efektif melawan semua varian Covid-19 yang diuji, termasuk Omicron, dan efek samping pada kelompok yang menerima suntikan tidak lebih besar daripada di antara penerima plasebo.
Glenn adalah pendiri perusahaan bioteknologi kecil bernama Eiger Biopharmaceuticals yang memperoleh interferon lambda untuk mengembangkan obat untuk virus hepatitis delta.
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Selocahyo Basoeki Utomo S
Berita Terkait:
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.