Sejarah 8 Februari: Polisi Tembaki Pemuda Kulit Hitam, Bukti Rasisme di AS
Rabu, 08 Feb 2023, 00:05 WIBTanggal 8 Februari 1968, menjadi saksi kekerasan polisi dan diskriminasi rasial terhadap orang kulit hitam atau Afrika-Amerika di Orangeburg, Carolina, Amerika Serikat (AS). Setidaknya 3 pemuda Afrika-Amerika tewas dan 30 lainnya terluka usai diberondong tembakan polisi.
Meskipun Orangeburg merupakan rumah bagi dua perguruan tinggi kulit hitam dengan mayoritas populasinya merupakan kulit hitam, kekuatan ekonomi dan politik di kota itu tetap dipegang orang kulit putih.
Insiden pembunuhan berdasarkan diskriminasi rasial itu terjadi ketika anak muda di Orangeburg menggelar aksi protes menentang segregasi atau pemisahan ras, usai seorang veteran perang Vietnam berkulit hitam tidak diberi akses ke arena bowling terdekat. Meski segregasi ras di AS telah dihapuskan melalui Undang-Undang Hak Sipil tahun 1964, banyak orang kulit putih di wilayah selatan Carolina, AS, yang masih melanggengkan praktik serupa.
Sebagai informasi, segregasi ras di AS mencakup pemisahan fasilitas dan jasa seperti perumahan, perawatan medis, pendidikan, pekerjaan, dan transportasi berdasarkan pada ras. Dengan kata lain, orang Afrika-Amerika tidak diperbolehkan menggunakan atau menikmati fasilitas publik yang sama seperti orang kulit putih di sana.
Perkelahian dengan polisi tak terhindarkan. Polisi dilaporkan memukuli dua mahasiswi yang kemudian memicu amarah banyak mahasiswa yang kemudian memecahkan jendela-jendela bisnis milik orang kulit putih di sepanjang jalan kembali ke South Carolina State University (SCSU).
Gubernur Carolina Selatan mengirim polisi negara bagian dan Garda Nasional. Menjelang malam tanggal 8 Februari 1968, tank-tank tentara dan lebih dari 100 petugas penegak hukum bersenjata lengkap disiagakan untuk menutup kampus. Sementara lebih dari 450 petugas keamanan ditempatkan di pusat kota Orangeburg.
Menurut Zinn Education Project, sebuah truk pemadam kebakaran dengan pengawalan petugas bersenjata dikirim kemudian memasuki wilayah South Carolina State University (SCSU), yang menjadi lokasi di mana sekitar 200 mahasiswa berkumpul.
Tanpa peringatan, rentetan tembakan memberondong para mahasiswa yang berkumpul di area api unggun kampus. Akibatnya, dua puluh delapan mahasiswa terbaring di kampus dengan banyak luka tembak, sementara tiga lainnya telah terbunuh.
Tiga pemuda yang dibunuh adalah Henry Smith dan Samuel Hammond, yang merupakan mahasiswa SCSU. Sedangkan datu korban tewas lainnya, Delano Middleton adalah siswa di Wilkinson High School, yang tengah menunggu ibunya pulang kerja.
Pihak kepolisian kemudian mengklaim bahwa tembakan itu dilepaskan sebagai bentuk pertahanan diri karena para mahasiswa melempari mereka dengan bom molotov dan tambakan.
Meski pembunuhan rasial itu memicu kemarahan di seluruh negeri, Gubernur Carolina Selatan menyalahkan para demonstran kulit hitam.
Menurut History, penembakan di perguruan tinggi dan sekolah menengah terus mewabah di AS seperti halnya kekerasan polisi terhadap orang Afrika-Amerika di sana, di mana hampir 1.000 orang kulit hitam dibunuh oleh polisi setiap tahunnya. Pria kulit hitam 2,5 kali lebih mungkin meninggal di tangan penegak hukum daripada pria kulit putih.
Redaktur: Fiter Bagus
Penulis: Suliana
Berita Terkait:
-
Ini Jadwal Misa Natal di Gereja Katedral Jakarta pada 24-25 Desember 2025
-
Dorong Substitusi Impor, Kemenperin Pertemukan Industri Produsen dan Pengguna Pati Ubi Kayu
-
Jelang Wajib Halal 2026 pada Oktober Nanti, BPJPH Perkuat Sinergi dengan Kemenkes dan BPOM
-
Turun Tipis, Harga Emas Antam Hari Ini Rp2.340.000 per Gram
-
Polisi Ungkap Fakta Baru Pembunuhan Alvaro, Ada Peran Besar Saksi Kunci Ungkap Kasus Ini
-
Kronologi Anggota Pasukan Bela Diri Jepang Masuk Tanpa Izin ke Kedubes China
-
Real Madrid Kirim Bukti ke UEFA Terkait Dugaan Rasisme terhadap Vinícius Júnior
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.