Mengenal Kelahiran Mati yang Menghantui Ibu di Negara Berkembang

Sabtu, 21 Jan 2023, 14:47 WIB

UNICEF melaporkan setidaknya satu bayi lahir dalam keadaan mati atau stillbirths setiap 16 detik sekali, atau sekitar 2 juta kematian setiap tahun. Kelahiran mati sendiri didefinisikan sebagai bayi yang lahir tanpa tanda-tanda kehidupan setelah ambang tertentu, biasanya terkait dengan usia kehamilan atau berat bayi.

Angka ini merujuk pada kriteria kelahiran mati yang dirumuskan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), di mana kelahiran mati didefinisikan sebagai kematian janin pada masa kehamilan akhir yang terjadi pada atau setelah usia kehamilan 28 minggu. Dengan begitu, jumlah kematian lahir itu tidak mencakup kematian janin yang terjadi pada usia kehamilan lebih awal. UNICEF pun menyebut banyak kasus di mana kelahiran mati tak dilaporkan sehingga jumlahnya mungkin lebih banyak.

Ket. Foto: Ilustrasi. — Sumber: Freepik/Senivpetro

Kelahiran mati terjadi dengan frekuensi yang mengkhawatirkan di banyak negara. Meski beberapa kemajuan telah dicapai demi mengurangi tingkat kelahiran mati global, hasilnya tidak merata. Rata-rata, risiko lahir mati tujuh kali lebih tinggi di negara berpenghasilan rendah dengan 21 kematian per 1.000 total kelahiran.

Angka ini amat jauh jika dibandingkan dengan jumlah kasus kelahiran mati di negara berpenghasilan tinggi yang hanya mencatat sekitar 3 kematian per 1.000 total kelahiran. Pada tahun 2021, sekitar setengah dari semua kelahiran mati terjadi di enam negara, yakni India, Pakistan, Nigeria, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, dan Bangladesh.

Kesenjangan juga terjadi di dalam negara itu sendiri, di mana tingkat kelahiran mati atau stillbirths lebih tinggi di daerah pedesaan daripada di daerah perkotaan. Status sosial ekonomi juga dilaporkan terkait dengan insiden kelahiran mati yang lebih tinggi. UNICEF mencatat, etnis minoritas di negara berpenghasilan tinggi juga rentan akan kelahiran mati karena tidak memiliki akses ke perawatan kesehatan yang berkualitas.

Populasi Inuit di Kanada misalnya. Mereka dilaporkan memiliki tingkat kelahiran mati hampir tiga kali lebih tinggi daripada wilayah Kanada lainnya, dan wanita Amerika-Afrika di Amerika Serikat (AS) juga memiliki risiko lahir mati hampir dua kali lipat dibandingkan dengan wanita kulit putih di sana.

Lebih tragisnya, mayoritas kematian lahir dapat dicegah melalui perawatan berkualitas selama kehamilan dan saat melahirkan. Melansir laman UNICEF, penyebab kelahiran mati umumnya disebabkan oleh komplikasi selama persalinan, pendarahan sebelum melahirkan, infeksi, dan komplikasi kehamilan dengan hambatan pertumbuhan janin sebagai penyebab umum yang mendasari. Faktor yang berhubungan dengan ibu, seperti usia dan kebiasaan merokok juga dapat meningkatkan risiko penyakit ibu dan kelahiran mati sang bayi. Diperkirakan 10 persen kelahiran mati di seluruh dunia disebabkan oleh ragam penyakit tidak menular (PTM).

Di luar hilangnya nyawa yang menghancurkan, kelahiran mati sering dianggap sebagai kesalahan ibu, yang mengakibatkan rasa malu di depan umum atau perasaan bersalah atau malu individu yang mencegah duka publik atas kehilangan mereka. Padahal, kelahiran mati dapat memicu depresi, kecemasan, dan gejala psikologis lain yang lebih tinggi yang mungkin bertahan lama bagi orang tua. Tak sedikit dari mereka yang mungkin menghindari orang atau aktivitas sosial, mengasingkan diri secara sosial dan memperburuk gejala depresi dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Dari apa yang kita ketahui tentang penyebab lahir mati, jelas bahwa memberikan perawatan berkualitas, dukungan, dan sumber daya yang mendorong gaya hidup sehat dan kehamilan dapat sangat mengurangi risiko lahir mati pada wanita. Sistem atau fasilitas kesehatan yang lebih baik dan perawatan antenatal dan persalinan berkualitas tinggi juga sangat penting untuk mengakhiri kasus kelahiran mati yang dapat dicegah.

Redaktur: Fiter Bagus

Penulis: Suliana

Berita Terbaru

Jangan Lupa Kenakan Masker! Kualitas Udara Jakarta Senin Pagi Tak Sehat, Warga Diminta Waspada

Luar Biasa Barcelona Bantai Elche 5-0! Raphinha dan Fermin Sama-Sama Cetak Brace

Motor Pedagang di Kelapa Gading Hilang Akibat Ditipu, Modusnya Bikin Kaget

Kabar Besar untuk Warga Bogor Barat, Pemkab Bocorkan Rancang 6 Stasiun Baru

Drama 4 Gol dan Kartu Merah! Atletico Madrid Gagal Menang atas Villarreal

Hobi Unik Febry Arnold, Diaspora Indonesia yang Gemar Taklukkan Maraton

Juventus Start Sempurna Raih Tiga Poin! Frosinone Jadi Korban di Pekan Pertama Serie A

Sempat Unggul, Liverpool Gagal Menang! Newcastle Paksa The Reds Berbagi Poin

Gempa M 5,2 Guncang Manggarai NTT, Ada Potensi Tsunami? Ini Penjelasan BMKG

Menang Dramatis! Lando Norris Rebut Juara GP Belanda 2026, Verstappen Tersingkir Usai Kecelakaan

Karya Kreatif Indonesia dan Karya Kreatif Benuanta 2026, Dorong kebangkitan UMKM dan Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

Karhutla di Tengah El Nino Ancam Ekonomi, Dampaknya Bisa Lebih Besar dari Nilai Hutan yang Terbakar

Pameran Arsip Asrul Sani Telusuri Jejak Kreatif Maestro Sastra dan Film

Kabut Asap Karhutla Selimuti Palembang, Jarak Pandang Kurang dari 50 Meter dan Kualitas Udara Berbahaya

QRIS Menjangkau 65,77 Juta Pengguna, Mayoritas Merchant Merupakan UMKM

Penyerapan Gabah Petani Capai 3,67 Juta Ton, Bulog Dekati Target 4 Juta Ton

Mendadak Gelar Ratas pada Malam Hari di Waktu Libur! Presiden Bahas Karhutla dan Bencana di NTT

Daun Pandan Tak Sekadar Aroma Khas, Ada Ikatan antara Hainan dan Indonesia yang Terjalin Semakin Erat

Kegiatan Gratis di HBKB Kenalkan Bahasa Isyarat kepada Masyarakat

Banten Siapkan Fasilitas Hoki Baru 2027, Target Cetak Atlet untuk PON 2032 hingga

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.