Ekonomi Berkelanjutan Sangat Dipengaruhi Daya Pikir dan Teknologi

Jumat, 06 Jan 2023, 00:03 WIB

JAKARTA - Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Faisal Basri, menyampaikan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh unsur daya pikir dan teknologi.

"Pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan sangat dipengaruhi oleh unsur teknologi, semakin banyak pakai komponen otak, semakin kencang pertumbuhan ekonomi itu. Semakin banyak pakai otot, pertumbuhannya melambat terus," kata Faisal Basri dalam diskusi bertajuk "Catatan Awal Ekonomi Tahun 2023" oleh Indef di Jakarta, Kamis (5/1).

Ket. Foto: FAISAL BASRI Ekonom Senior Indef - Terjadi pelemahan terus menerus di teknologi dan informasi, kondisi pasar dan ekonomi, serta budaya dan society. — Sumber: ISTIMEWA

Dia menjelaskan penggunaan daya pikir suatu masyarakat tecermin dari indeks Total Faktor Productivity (TFP), yang mana Indonesia cenderung mengalami penurunan dalam kurun waktu 50 tahun terakhir.

Asia Productivity Organization (APO) mencatat indeks TFP Indonesia berada di angka 1,5 poin pada 1980, kemudian turun di angka 1,0 poin pada tahun 2000, dan turun di angka 0,8 poin pada tahun 2020. "Kita mengalami penurunan yang terus menerus," kata Faisal Basri.

Pada 2020 Indeks TFP RI berada di bawah negara-negara Asia Tenggara lain, seperti Thailand, Malaysia, dan Filipina di angka 1,0 poin, serta Vietnam di angka 1,2 poin.

Faisal Basri menjelaskan penggunaan daya pikir masyarakat sangat dipengaruhi oleh tiga faktor, di antaranya teknologi dan inovasi, kondisi pasar dan ekonomi, serta budaya dan society (masyarakat). "Tiga faktor inilah yang terjadi pelemahan terus-menerus," kata Faisal Basri.

Secara agregasi pertumbuhan ekonomi Indonesia sebagian besar dikontribusikan oleh modal fisik, dibandingkan modal daya pikir atau teknologi selama periode 2000-2020.

Selama periode tersebut APO mencatat kontribusi modal berbasis non-IT terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia naik sebesar 71 persen dan kontribusi modal berbasis IT naik 6 persen.

Selain itu, lanjutnya, kontribusi tenaga kerja penuh waktu naik 14 persen dan kontribusi tenaga kerja berkualitas naik 29 persen, sedangkan kontribusi TFP atau daya pikir minus 19 persen selama periode tersebut.

"Hampir tiga per empat pertumbuhannya disumbangkan oleh modal fisik, seperti infrastruktur. Sumbangan otak dalam pertumbuhan ekonomi Indonesia minus (19 persen) selama periode 2000-2020," ujar Faisal Basri sebagaimana dikutip Antara.

"Human Investment"

Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Mercu Buana Yogyakarta, Awan Santosa, sepakat dengan apa yang disampaikan Faisal Basri.

Menurut Awan untuk meningkatkan daya saing, diperlukan politik anggaran yang pro investasi manusia (human investment) termasuk bagi sektor ekonomi kreatif.

"Selanjutnya, penguatan modal manusia (human capital) melalui gerakan pendidikan kerakyatan (popular education) bagi pelaku ekonomi rakyat (UMKM & koperasi), dukungan bagi pengembangan koperasi platform," ungkap Awan.

Adapun human investment yang dimaksudkan Awan ialah untuk pendidikan formal dan informal, kesehatan, Research & Development atau penelitian dan pengembangan.

Lalu, perlu juga investasi dari sisi inovasi, teknologi tepat guna, dan kewirausahaan. Terakhir lanjutnya perlu ada juga dukungan inovasi dan pengemban koperasi.

Redaktur: Redaktur Pelaksana

Penulis: Erik, Fredrikus Wolgabrink Sabini

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.