Ketakutan Kaum Perempuan atas Masa Depan Pendidikan di Afghanistan
📅 Sabtu, 03 Jul 2021, 06:13 WIB | Oleh: Ilham Sudrajat
Doc: AFP/JEFF PACHOUD
Ketika pasukan Amerika Serikat (AS) dan NATO menarik diri dari Afghanistan, tiga perempuan dari tiga generasi membagikan pendapat mereka tentang ketakutan akan masa depan. Mereka itu adalah seorang guru berpengalaman, lulusan universitas, dan siswa sekolah, yang semuanya menggambarkan bagaimana selama pandemi mereka tidak hanya harus berjuang melawan kesenjangan digital, tetapi juga ketidaksetaraan gender, dan konflik.
Ini bukan pertama kalinya Shahla Fareed mulai menyembunyikan buku. Ini juga bukan pertama kalinya dia mulai merencanakan sekolah rahasia. Bagi Shahla dan banyak perempuan lain di Afghanistan, pendidikan untuk putri mereka sekali lagi berada di bawah ancaman.
Shahla yang sebelumnya guru sekolah, sekarang mengajar di Universitas Kabul, di ibu kota negara itu. Selama lockdown, dia terus memberikan pelajaran virtual, tetapi mengatakan banyak muridnya berjuang untuk menempuh pendidikan secara daring.
"Sebagian besar mahasiswi saya tidak memiliki smartphone, dan keluarga mereka juga tidak mengizinkan mereka menggunakan internet," ucap Shahla.
Tapi, bukan hanya kesenjangan digital yang menghambat perempuan. Konflik Afghanistan yang sedang berlangsung antara pemerintah dan pasukan Taliban, sekarang berada pada titik kritis. Saat penarikan pasukan AS berlanjut, banyak yang khawatir akan kebangkitan kelompok Islam garis keras.
Taliban telah mengklaim menguasai beberapa wilayah teritorial dalam beberapa bulan terakhir. Taliban memaksakan aturan patriarki yang ekstrem dan sebelumnya melarang semua pendidikan perempuan. Mereka juga tidak mengizinkan perempuan untuk bekerja atau meninggalkan rumah mereka tanpa kerabat dekat laki-laki.
Namun, bagi banyak pendukung hak-hak perempuan termasuk Shahla, ada ketakutan besar, akses pendidikan perempuan akan ditutup lagi. Shahla, sekarang di usia 60-an, menjelaskan bagaimana dia membuka sekolah rahasianya sendiri untuk anak perempuan pada era '70-an, ketika Taliban telah menguasai seluruh negeri.
Murid-muridnya berusia antara sembilan dan 10 tahun, yang kebanyakan belajar dengan mengenakan burka biru tradisional. Dia selalu memberitahu mereka untuk menyembunyikan buku teks bahasa Inggris di dalam sampul buku-buku Islam lainnya. Shahla mengajari muridnya dengan papan tulis kecil di taman belakang, di bawah naungan pohon dan tenda kain kecil.
"Saya memulai sekolah dengan 20 anak perempuan tetapi hanya berhasil menamatkan masa pendidikan dengan empat murid. Dua di antaranya adalah putri saya sendiri," kata Shahla, menggambarkan betapa sulitnya membuat murid-muridnya tetap belajar.
Dia mengatakan Taliban sering menggeledah rumah untuk mencari bukti sekolah, tetapi hanya sekali mereka berhasil menutup 'sekolah rahasianya'. "Namun (penutupan itu hanya) untuk sementara," imbuh dia.
Sekarang, lima puluh tahun kemudian, Shahla berjaga-jaga untuk membuka sekolah rahasianya lagi. Ia mengatakan hatinya hancur karena dia harus mulai mengumpulkan buku-buku untuk sekolah rahasia itu.
Sementara itu seorang siswa sekolah bernama Wahida, 16 tahun, menceritakan keinginannya untuk pergi ke sekolah telah menghancurkan hubungan dia dengan keluarganya. Ayah dan kakeknya benar-benar berhenti berbicara dengannya. "Mereka mengatakan saya harus meninggalkan sekolah dan menikah," kata dia.
Wahida mengatakan hanya berkat dukungan kakak dan ibunya, dia bisa melanjutkan sekolah. Wahida yang tinggal di sebuah rumah yang letaknya tujuh jam berkendara dari rumah Shahla pun menceritakan bahwa setiap hari ia harus berjalan kaki ke sekolah bersama kakak laki-lakinya.
Wahida tinggal bersama keluarganya di Provinsi Kandahar, tempat kelahiran Taliban dan di mana sebagian besar distrik tetap berada di bawah kendali mereka. Dari 17 kabupaten di provinsi tersebut, hanya tiga yang memiliki sekolah untuk anak perempuan.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!