5 Negara Asia Bertanggung Jawab atas Pembangkit Listrik Batubara

Kamis, 01 Jul 2021, 00:56 WIB

JAKARTA - Lembaga think-tank Carbon Tracker melaporkan, ada lima negara Asia yang bertanggung jawab atas 80 persen pembangkit listrik tenaga batubara baru, yang direncanakan di seluruh dunia, Rabu (30/6). Proyek-proyek itu dianggap mengancam tujuan untuk memerangi krisis iklim.

Carbon Tracker mengatakan, Tiongkok, India, Indonesia, Jepang, dan Vietnam berencana membangun lebih dari 600 pembangkit listrik batubara. Pembangkit-pembangkit tersebut akan menghasilkan total 300 gigawatt energi, setara dengan sekitar seluruh kapasitas pembangkit listrik Jepang.

Ket. Foto: — Sumber: istimewa

Proyek-proyek tersebut sedang diupayakan meskipun ada ketersediaan energi terbarukan yang lebih murah, dan mereka mengancam upaya untuk memenuhi tujuan Kesepakatan Iklim Paris untuk membatasi pemanasan hingga 1,5 derajat Celsius, kata studi tersebut.

"Benteng terakhir tenaga batubara ini berenang melawan arus, ketika energi terbarukan menawarkan solusi yang lebih murah yang mendukung target iklim global," kata Kepala Penelitian Carbon Tracker, Catharina Hillenbrand Von Der Neyen.

"Investor harus menghindari proyek batubara baru," ujarnya.

Para pakar melihat penghapusan batubara, yang menghasilkan gas rumah kaca karbon dioksida, sebagai kunci dalam memerangi krisis iklim yang dampaknya, mulai dari kepunahan spesies hingga kondisi panas yang tidak layak huni, diperkirakan akan meningkat tajam.

Tetapi banyak negara di kawasan Asia Pasifik, yang telah lama bergantung pada bahan bakar fosil untuk menggerakkan ekonomi mereka yang sedang berkembang pesat, lambat bertindak, bahkan ketika Eropa dan Amerika Serikat (AS) mempercepat transisi mereka ke energi yang lebih bersih.

Menurut tinjauan statistik perusahaan raksasa BP tentang energi dunia, negara-negara dan wilayah Asia Pasifik mengonsumsi lebih dari tiga perempat dari semua batubara yang digunakan secara global pada tahun 2019.

Menurut Carbon Tracker, Tiongkok, konsumen batubara dan penghasil gas rumah kaca terbesar di dunia, menduduki puncak daftar negara yang merencanakan pembangkit listrik batubara baru. Negara ini memiliki 368 pembangkit listrik di dalam pipa dengan kapasitas 187 gigawatt, meskipun ada janji oleh Presiden Xi Jinping bahwa Tiongkok akan menjadi netral karbon pada tahun 2060.

Sedangkan India, merencanakan 92 pembangkit listrik dengan kapasitas sekitar 60 gigawatt, berfokus pada dampak transisi energi di pasar keuangan. Indonesia merencanakan 107 pabrik baru, Vietnam 41, dan Jepang 14, katanya.

Harus Serius

Sementara itu, pengamat energi dari Universitas Brawijaya (UB) Malang, Dicky Edwin Hindarto, mengatakan pemerintah harus serius dalam memulai upaya transisi energi menuju energi baru terbarukan (EBT) dengan sesegera mungkin meninggalkan penggunaan fosil seperti batubara.

Menurutnya, masalah utama dari kelambanan transisi energi adalah pada persoalan kebijakan harga atau energy pricing. "Harus ada carbon pricing yang memberikan denda terhadap jenis energi fosil. Pengenaan tarif emisi karbon harus dilakukan untuk mengurangi dampak pemanasan global," tutur Dicky Edwin.

Sebagaimana diketahui, peningkatan suhu 1 derajat Celsius dapat menyebabkan naiknya permukaan laut, cuaca lebih ekstrem, hingga berkurangnya es di laut Arktik. Sementara itu, aktivitas manusia berpotensi meningkatkan 1,5 derajat Celsius antara 2030-2052

Namun sayangnya, rencana pemerintah menerapkan pajak karbon mulai tahun depan dinilai masih terlalu rendah. Kalau tarifnya 75 rupiah per kilogram karbon dioksida ekuivalen (CO2e), per ton hanya 75 ribu rupiah atau setara dengan 5 dollar AS. Rencana pemerintah tertuang dalam Revisi Undang-Undang Ketentuan Umum dan Tata Cara Perpajakan (RUU KUP).

Redaktur: PEMRED

Penulis: CNA, Selocahyo Basoeki Utomo S

Berita Terbaru

Wagub Rano Karno Sapa Peserta Jamnas XII, Dorong Pramuka Jadi Agen Perubahan

Operasi Lutut Lebih Aman dan Terukur, RS Premier Bintaro Hadirkan Teknologi ROSA

Esports Nations Cup Ditunda ke November 2027, Ini Alasan Resmi EF

Purbaya: Insentif Motor Listrik Rp5 Juta Paling Cepat bisa Berlaku September 2026

Ajang Lari Cirebon QRIS Run 2026, Sarana Pemkot Cirebon Gencarkan Penggunaan QRIS

Inovasi Investasi dan Layanan Privilege Antarkan Danamon Raih Dua Penghargaan

Dompet Dhuafa Siapkan 81 Ton Bantuan untuk Penyintas Gempa NTT

Purbaya: Insentif Motor Listrik Sudah Bisa Berlaku Mulai September 2026

7.000 Warga Pulau Palue Butuh Air Bersih, KemePU Kerahkan Tandon dan Survei Geolistrik

Gempa Flores Rusak 4 Pasar Tradisional, Mendag: Pasar Inpres Ruteng Ditutup Sementara

OT Group Konsisten Gelar Upacara Kemerdekaan di Pabrik dan Depo

LG Perkuat Pemasaran WashTower, Gandeng Dealer Spesialis untuk Perluas Edukasi Konsumen

Nelayan Kendari Diimbau Waspadai Gelombang Tinggi dan Angin Kencang pada 19 hingga 22 Agustus 2026

KAI Bangun 8 Tower Rusun MBR di Manggarai, Harga dan Skema Kredit Jadi Sorotan

Triwulan II-2026, Sektor Transportasi dan Pergudangan Tumbun 5,65%

InJourney Destination Bantu Rehab Rumah Nenek Kroniah di Sleman Agar Layak Huni

Driver Ojol Ikut Punya Suara! Pemerintah Libatkan Pengendara dalam Aturan Tarif Baru

Pascagempa di NTT, Kemenhub Pastikan Seluruh Bandara di Flores dan Sekitarnya Tetap Beroperasi Normal

Sumatera Utara Diprediksi BMKG Masih Berpotensi Hujan Sepekan ke Depan

Sejarah Mencatat! Akan Ada Pemain Indonesia Pertama Berlaga di Liga Champions

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.