Menikmati Sejarah dan Kuliner Kota Solo
Selasa, 06 Okt 2020, 01:00 WIBSolo merupakan sebuah kota yang terkenal akan budayanya. Wisata sejarah mengakar kuat di sana. Begitu juga dengan kulinernya yang terkenal lezat. Solo memang ngangeni.
Siapapun yang ingin menikmati wisata sejarah dan budaya, maka saat ke kota Solo di Jawa Tengah, semua itu akan terpenuhi. Salah satu pusat budaya yang masih tetap utuh terjaga adalah Keraton Solo. Keraton tersebut menyimpan banyak sejarah dan tentunya budaya dari nenek moyang zaman dahulu. Di sini terdapat banyak peninggalan-peninggalan sejarah yang terkenal.
Kota Surakarta atau juga disebut Solo atau Sala merupakan wilayah otonom dengan status kota di bawah Provinsi Jawa Tengah. Kota ini juga merupakan kota terbesar ketiga di pulau Jawa bagian selatan setelah Bandung dan Malang berdasarkan jumlah penduduk. Sisi timur kota ini dilewati sungai yang terabadikan dalam salah satu lagu keroncong, Bengawan Solo. Bersama dengan Yogyakarta, Surakarta merupakan pewaris Kesultanan Mataram yang dipecah melalui Perjanjian Giyanti, pada tahun 1755.
Beberapa tempat yang sudah dibuka seperti tempat rekreasi keluarga Taman Satwa Taru Jurug (TSTJ) kembali dibuka mulai bulan Juni Jumat. Direktur Perusahaan Daerah (PD) TSTJ, Bimo Wahyu Widodo Dasir Santoso, mengatakan TSTJ kembali buka dan menerima kunjungan dengan menyediakan berbagai sarana untuk pendukung penerapan protokol kesehatan. Sekitar 100 orang telah melakukan konfirmasi kunjungan hari pertama pembukaan kembali TSTJ melaluiwww.solozoo.id.
Hal lain yang juga harus diperhatikan saat berwisata ke Solo adanya peraturan untuk tetap megikuti protokol kesehatan, seperti menggunakan masker saat berwisata, menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun.
Keraton Kasunanan Surakarta
Tempat paling terkenal di Solo ialah Keraton Kasunan Surakarta yang merupakan tempat bersejarah yang menyimpan berbagai budaya keraton yang masih berjalan hingga sekarang. Ada beberapa peraturan yang harus ditaati ketika berkunjung ke sini. Semua itu harus ditaati karena lingkungan Keraton sangat dijaga.
Keraton ini merupakan peninggalan masa lalu. Sebuah kerajaan Jawa yang memerintah beberapa abad yang lalu telah menjadi ikon Kota Solo. Kerajaan ini bernama Keraton Kasunanan, didirikan oleh Susuhan Pakubuwono II (Sunan PB II) pada tahun 1744 sebagai pengganti Keraton Kartasura yang rusak akibat Geger Pecinan pada tahun 1743. Menara ini didirikan oleh Sri Susuhan Pakubuwono III pada tahun 1782. Menara setinggi 30 meter ini berfungsi sebagai menara dan tempat memata-matai Belanda pada masa penjajahan.
Ketika berkunjung ke Keraton Kasunanan ada beberapa tempat yang tidak boleh dimasuki yaitu kediaman Raja Pakubuwono. Area di Keraton Kasunanan yang boleh dikunjungi publik salah satunya adalah pendopo besar, di dalam Sasana Sewaka, dimana pertunjukan tari dan gamelan disuguhkan di tempat itu.
Lokasi Keraton Kasunanan Surakarta di Baluwarti, Kec. Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah. Jam operasional, hari Senin - Kamis: 09.00 - 14.00 WIB. Hari Sabtu - Minggu: 09.00 - 15.00 WIB. Hari Jumat: tutup
Istana Mangkunegaran
Selain Keraton Kasunanan, Kota Solo juga memiliki istana yang indah dan megah yaitu Pura Mangkunegaran. Nama Pura berasal dari bahasa Jawa yang artinya istana atau kerajaan. Pura Mangkunegaran menjadi pusat budaya dan seni di Kota Solo. Berbagai koleksi berharga yang ada di dalam istana dipercaya berasal dari Kerajaan Mataram dan Majapahit.
Pura Mangkunegaran didirikan pada tahun 1757 melalui sejarah yang cukup panjang. Setelah kematian Amangkurat IV dari Kerajaan Mataram, kerajaan ini selalu diintervensi oleh penjajah Belanda dan berhasil menempatkan Adipati Anom (PB II) sebagai pewaris kerajaan padahal Pangeran Arya Mangkunegaran adalah pewaris sah tetapi menentang Belanda sehingga memunculkan perang saudara. Raden Mas Said, anak Arya Mangkunegaran melakukan perlawanan terhadap Belanda hingga akhirnya melalui perjanjian Giyanti, Raden Mas Said mendapat bagian wilayah Surakarta bagian utara dan berkedudukan di Pura Mangkunegaran dengan gelar Mangkunegaran I.
Selama berkunjung ke Pura Mangkunegaran, wisatawan akan ditemani seorang pemandu. Begitu memasuki area Puro Mangkunegaran, akan melihat hamparan halaman yang luas dan terlihat bangunan bergaya Eropa bertuliskan Kavalerie-Artillerie, yang menjadi tempat pasukan berkuda Mangkunegaran. Begitu memasuki pintu gerbang langsung disuguhkan arsitektur pendopo bergaya Jawa-Eropa. Pendopo biasa digunakan untuk pertunjukkan tari dan wayang yang biasanya diiringi dengan satu set gamelan bernama Kyai Kanyut Mesem. Setelah melewati pendopo, pengunjung akan menuju Pringgitan, tempat di mana keluarga kerajaan tinggal dan Rekso Pustoko, tempat koleksi benda-benda kerajaan seperti koleksi topeng, kereta dan berbagai koleksi lainnya.
Lokasi Istana Mangkunegara ini di Jalan Ronggowarsito No.83, Keprabon, Kec. Banjarsari, Kota Surakarta. Agar bisa masuk ke istana ini harap perhatikan jam buka Pura Mangkunegaran. Hari Senin - Jumat: 08.30 - 14.00 WIB. Hari Minggu: 08.30 - 13.00 WIB.
Kampung Batik Kauman
Ketika berada di Solo, banyak wisatawan yang sengaja untuk berbelanja. Seperti belanja batik menjadi kegiatan pertama wisatawan karena terdorong pada sejumlah faktor. Pertama batik Solo harganya relatif murah. Selain itu banyaknya tawaran lokasiproduksi batik di Solo juga menjadi penguat aktivitas belanja batik wisatawan. Tercatat di Solo ada tiga kampung penghasil batik yakni Laweyan, Sondakan, dan Kauman.
Di Solo ada Kampung Batik Kauman yang terletak di pusat kota Solo. Kampung Batik ini merupakan tempat yang harus kunjungi jika sedang berkunjung ke Solo. Tentunya semua batik di Kampung Batik Kauman ini dibuat dengan tangan sendiri alias homemade. Tak heran jika harga satu baju batik di sini sangat fantastis. Pelanggan dari tempat ini pun kebanyakan berasal dari luar negeri yang sudah jatuh hati melihat keindahan batik buatan Kampung Batik Kauman ini.
Kampung Batik Kauman juga menjadi pusat batik tertua di Kota Solo. Berlokasi tidak jauh dari jalan utama Slamet Riyadi dan Jalan Rajiman. Menurut sejarah Kampung Batik Kauman dulunya adalah pemukiman kaum abdi dalem Keraton Kasunanan dengan mempertahankan tradisi dengan cara membatik. Bisa dikatakan motif batik Kauman lebih merepresentasikan motif batik yang dikenakan di Keraton Kasunanan.
Batik Kauman memiliki 3 jenis batik yaitu batik klasik dengan motif pakem (batik tulis) yang menjadi produk unggulan. Ada batik cap dan batik kombinasi cap dan tulis. Terdapat lebih dari 30 industri batik di Kampung Batik Kauman. Keunikan yang ditawarkan di Kampung Batik Kauman adalah pengunjung dan penjual batik bisa berinteraksi dan bertransaksi langsung, dengan mengunjungi rumah industri batik mereka dan melihat proses produksi batik serta belajar membatik.
Kalau datang ke Kampung Batik Kauman sebaiknya berjalan kaki atau naik becak, karena akses jalan di kampung ini berupa gang-gang sempit. Dengan berjalan kaki wisatawan bisa menikmati bangunan tua dengan gaya arsitektur Jawa-Belanda, rumah joglo dan limasan. Kalau dengan bus atau kendaraan pribadi, bisa parkir di gedung atau perkantoran di sekitar Jalan Cakra Kauman, Pasar Kliwon, Surakarta, Jawa Tengah. ars
Redaktur: Redaksi Koran Jakarta
Penulis: Tim Koran Jakarta
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.