Riset: Virus Korona Mampu Serang Otak

Sabtu, 12 Sep 2020, 19:16 WIB

WASHINGTON DC - Sebuah makalah riset yang dipublikasikan pada Rabu (9/9) lalu mengungkapkan bahwa virus korona bisa memperbanyak diri dalam otak dan keberadaan virus ini bisa menyebabkan sel otak kekurangan oksigen walaupun prevalensinya belum pasti. Temuan riset ini masih berupa pendahuluan, tetapi menawarkan beberapa bukti baru untuk mendukung teori sebelumnya yang sebagian besar belum teruji.

"Keluhan sakit kepala, galau, dan mengigau yang dialami oleh beberapa pasien Covid-19 bisa jadi akibat virus korona yang secara langsung menyerang otak," tulis makalah yang risetnya dipimpin oleh seorang pakar imunologi dari Yale bernama Akiko Iwasaki.

Ket. Foto: Akiko Iwasaki — Sumber: Yale School of Medicine, Yale University

Namun hal yang paling menakutkan adalah jika SARS-CoV-2 mampu menembus dinding pembuluh darah di otak, sebuah struktur yang mengelilingi pembuluh darah otak dan memiliki fungsi mencegah masuknya zat asing seperti yang mampu dilakukan virus Zika dimana virus ini bisa menyebabkan kerusakan secara signifikan terhadap otak janin.

Sejauh ini para dokter meyakini dampak neurologis yang diperlihatkan separo dari keseluruhan pasien hanya berupa respons imunitas abnormal yang dikenal dengan sebutan badai sitokin yang menyebabkan peradangan pada otak, bukannya dari serangan virus secara langsung.

Tiga Pendekatan

Dalam risetnya, Iwasaki dan rekan-rekanya melakukan 3 pendekatan untuk mengetahui bagaimana virus korona bisa menyerang otak yaitu dengan menginfeksi otak mini yang dibuat di laboratorium (otak organoid), dengan menginfeksi tikus, dan dengan memeriksa jaringan otak pasien Covid-19 yang telah meninggal.

Pada otak organoid, tim peneliti mendapati bahwa virus the SARS-CoV-2 mampu menginfeksi neuron lalu membajak mekanisme sel neuron agar bisa memperbanyak diri (replikasi). Ternyata sel-sel yang terinfeksi menyebabkan sel-sel di sekitarnya mati akibat kekurangan pasokan oksigen.

Kemudian tim peneliti melakukan percobaan pada dua kelompok tikus percobaan (mencit) dengan menginfeksi paru-paru dengan protein tingkat tinggi yang melekat pada virus korona (ACE2) pada satu kelompok mencit dan menginfeksi ACE2 pada otak kelompok mencit lainnya.

Pada mencit yang paru-parunya terinfeksi terlihat adanya tanda-tanda cedera, sementara mencit yang otaknya terinfeksi mengalami penurunan berat badan yang amat drastis dan lebih cepat mati. Ini mengindikasikan amat fatalnya jika virus masuk ke organ tersebut.

Pendekatan terakhir, tim peneliti memeriksa otak dari pasien yang meninggal akibat komplikasi dengan Covid-19 dan menemukan bukti terdapatnya virus dengan beragam tingkat keparahan.

Yang menarik perhatian bahwa area yang terinfeksi sama sekali tak memperlihatkan telah diinfiltrasi oleh sel imun seperti sel T yang lazimnya merubungi area terinfeksi untuk membasmi sel yang terinfeksi. Hal ini jadi petunjuk bahwa badai sitokin bertanggung jawab atas banyak cedera pada paru-paru dari pasien Covid-19 dan mungkin bukan penyebab utama dari timbulnya gejala-gejala neurologis.

Dalam makalah itu disinggung juga soal hipotesis bahwa hidung bisa jadi jalan menuju organ otak, namun penulis makalah ini menekankan hipotesis ini masih memerlukan validasi dengan melakukan riset lebih mendalam lagi. SB/AFP/I-1

Redaktur: Ilham Sudrajat

Penulis: AFP, Selocahyo Basoeki Utomo S

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.