- Home
-
- Luar Negeri
-
- Jurnal 'Lancet' Ragukan Ri...
Jurnal 'Lancet' Ragukan Riset Hydroxychloroquine
Jumat, 05 Jun 2020, 06:00 WIBJurnal medis terkemuka, Lancet, mempertanyakan studi terhadap hydrochloroquine bagi melawan virus korona.
PARIS - Jurnal medis Lancet edisi Selasa (2/6) mempertanyakan studi besarbesaran yang dipublikasikan bulan lalu yang mengakibatkan penundaan sementara uji coba obat hydroxychloroquine. Hal itu dilaporkan bersamaan dengan dilanjutkannya uji coba hydroxychloroquine oleh World Health Organization (WHO) pada Rabu (3/6). dalam jurnalnya, Lancet mengungkapkan rasa kekhawatirannya yang amat besar atas studi besar-besaran hydroxychloroquine dan chloroquine yang mengakibatkan WHO menunda uji klinis terhadap obat yang tadinya berpotensi bisa menyembuhkan Covid-19 itu.
"Uji terhadap hydroxychloroquine dimulai kembali setelah sebuah telaahan keamanan menemukan tak ada alasan untuk memodifikasi uji coba itu," demikian pernyataan WHO.
Sementara Lancet menyoroti pentingya untuk mempertanyakan riset terkait obat antiviral ini setelah sejumlah ilmuwan menuliskan surat kekhawatiran atas metodologi dan data yang tersedia yang dibeberkan oleh perusahaan farmasi asal Amerika Serikat (AS), Surgisphere.
"Walau audit independen terkait pembuktian dan validitas data telah dilakukan oleh penulis yang tak memiliki hubungan dengan Surgisphere masih dilaksanakan dan hasilnya akan segera keluar, kami menyatakan ungkapan kekhawatiran terhadap pembaca atas fakta sains yang amat serius dan telah menarik perhatian kami," tulis Lancet.
Ungkapan kekhawatiran bukanlah hal yang paling menakutkan, namun dengan mempertanyakan kembali riset merupakan penanda bahwa telah terjadinya masalah. Studi observasi yang merekam data 96 ribu pasien kemudian menyimpulkan bahwa pemberian obat hydroxychloroquine yang lazimnya diberikan untuk perawatan terhadap artritis, dan chloroquine yang adalah obat antimalaria, sama sekali tak memperlihatkan khasiat bagi perawatan bagi Covid-19 dan bahkan semakin meningkatkan peluang kematian pasien dalam masa perawatan di rumah sakit.
"Saat ini kami amat yakin karena (obat itu) sama sekali tak menolong nyawa dari kematian, dan data dari komite pengamatan keamanan telah merekomendasikan agar uji coba bisa dilanjutkan," kata pejabat WHO bernama Soumya Swaminathan dalam sebuah taklimat harian pada Rabu.
Prancis adalah salah satu negara yang menghentikan pemberian hydroxychloroquine untuk mengobati Covid- 19. Hasil studi itu memicu kontroversi baru terkait hydroxychloroquine yang selama ini disarankan oleh sejumlah figur publik seperti Presiden AS, Donald Trump, walau ada kekhawatiran atas efek samping dan minimnya bukti atas keefektifannya.
Masalah Validitas
Pemimpin penulis dari studi ini, Mandeep Mehra, dari Brigham and Women's Hospital di AS, telah menelaah data dari ratusan rumah sakit pada periode Desember hingga April dan membandingkan pasien yang mendapatkan dua obat ini tanpa disertai antibiotik dalam sebuah kelompok yang terkendali. Sejumlah studi menyatakan bahwa hydroxychloroquine sama sekali tak efektif untuk mengobati Covid-19. Dalam sebuah surat terbuka yang dilayangkan pekan lalu, sekelompok ilmuwan mempertanyakan baik metodologi maupun data yang valid atas obat ini. Yang mereka soroti yaitu tak adanya data maupun informasi yang jelas terkait negara maupun rumah sakit yang memberikan data pada perusahaan analisis data kesehatan Surgisphere yang bermarkas di Chicago.
eko/AFP/I-1
Redaktur: Ilham Sudrajat
Penulis: AFP
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.