Riset Masih Sekadar Serap Anggaran

Rabu, 26 Feb 2020, 06:41 WIB

Pemerintah menyediakan insentif berupa super tax deduction kepada perusahaan yang terlibat dalam pengembangan SDM bidang pendidikan dan penelitian.

JAKARTA - Kegiatan riset atau penelitian selama ini masih sekadar untuk menyerap anggaran. Jadi, yang penting ada kegiatan, belum berorientasi produk. Hal ini disampaikan Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek/KaBRIN), Bambang Brodjonegoro, di Jakarta, Selasa (25/2).

Ket. Foto: TRANSFORMASI EKONOMI I Menteri Riset dan Teknologi/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional, Bambang Brodjonegoro (kiri) dan Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartanto, di Jakarta, Selasa (25/2). Riset harus bisa menunjang transformasi ekonomi. — Sumber: NUGROHOKORAN JAKARTA/ADEN MARUP

Di sisi lain, anggaran riset dalam negeri terbilang kecil dan masih didominasi pemerintah. Hal ini berpengaruh pada kualitas produk hasil riset. "Orientasi riset sekarang masih sekadar asal ada kegiatan untuk menyerap anggaran," jelasnya.

Terkait hal tersebut, Bambang akan melakukan debirokratisasi dan penyesuaian struktur organisasi Badan Riset dan Inovasi Nasional. Industri harus dipertimbangkan dalam penentuan struktur BRIN. "Struktur organisasi BRIN bukan berdasar yang kita inginkan, tapi harus mempertimbangkan praktik yang sudah berhasil seperti negara-negara lain," katanya.

Menurut Bambang, dunia industri dapat memberi masukan untuk kegiatan-kegiatan penelitian. Industri bisa membaca kondisi pasar, sehingga tahu produk yang dibutuhkan masyarakat.

Lebih lanjut disampaikan, para peneliti di sisi lain mestinya dalam meriset tidak sekadar hobi atau sesuai dengan bidangnya.

"Mereka selama ini dalam meriset meski sesuai dengan keahlian, walau hasilnya tidak dibutuhkan atau tidak urgen," tambahnya. Bambang menyatakan, sudah saatnya kegiatan riset untuk tujuan mengutamakan peningkatan ekonomi. Industri harus mau terlibat lebih jauh dalam pendanaan maupun kegiatan riset

Insentif Pajak

Sementara itu, Menteri Koordinator Perekonomian, Airlangga Hartanto, menyatakan pemerintah menyediakan insentif berupa super tax deduction atau pemotongan pajak super. Insentif tersebut diberikan kepada perusahaan yang terlibat dalam pengembangan SDM di bidang pendidikan dan penelitian.

Ia menyebut, insentif tersebut akan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan (PMK) yang tengah disiapkan. "Untuk kegiatan riset, pemotongan pajaknya nol sampai 300 persen, tapi ada skalanya juga," tambahnya. Airlangga berharap akan muncul SDM yang siap diterjunkan ke berbagai lembaga penelitian. Dengan begitu, Indonesia akan memiliki banyak peneliti yang tersebar di banyak wilayah.

"Insentif ini diharapkan bisa mendorong triple values antara swasta, pendidikan, dan peneliti," pungkasnya. Jadi, BPPT dapat menciptakan inovasi untuk mendukung transformasi ekonomi. Ini bisa terwujud bila ada peningkatan produktivitas, inovasi maupun transfer teknologi jangka menengah."Kami berharap BPPT dapat banyak berkontribusi dalam pelaksanaan transformasi produksi, termasuk fokus pengembangan industri nasional," katanya.

Airlangga mengatakan, selama ini transformasi ekonomi dilakukan atas lima kelompok industri. Mereka adalah industri berorientasi ekspor, hilirisasi industri, industri substitusi impor, industri berbasis kimia, dan industri lainnya. Fokus industri berorientasi ekspor adalah lima sektor prioritas revolusi industri 4.0 yang mempunyai nilai keunggulan kompetitif besar, yaitu sektor makanan minuman, tekstil-pakaian, elektronik, otomotif, dan kimia.

Pada kelompok hilirisasi industri, gasifikasi batu bara menjadi prioritas karena sumbernya melimpah, yaitu sekitar 125,28 miliar ton dalam bentuk sumber daya dan 32,36 miliar ton dalam bentuk cadangan. Namun, pengolahan batu bara menjadi gas belum memberi nilai tambah. Di sisi lain, konsumsi LPG sangat besar, 7,11 juta ton pada 2017. Jumlah itu, 67 persennya harus impor. ruf/G-1

Redaktur: Aloysius Widiyatmaka

Penulis: Muhamad Ma'rup

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.