• Home
  • navigasi panah1
  • Rona
  • panah2
  • Potensi Kuliner Nusantara ...

Potensi Kuliner Nusantara di Industri 4.0

Rabu, 11 Sep 2019, 01:00 WIB

Era digital mampu membuka peluang besar dalam bisnis, tidak terkecuali bagi para pengusaha kuliner Nusantara.

Dalam roadmap Making Indonesia 4.0 yang dicanangkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) beberapa waktu lalu, salah satu yang menjadi fokus adalah sektor makanan dan minuman. Untuk itu, Asosiasi Perusahaan Jasaboga Indonesia (APJI) sebagai salah satu bagian dalam industri tersebut mendorong para pelaku industri makanan dan minuman (kuliner) untuk bersiap memasuki era industri 4.0.

Ket. Foto: — Sumber: Istimewa

Ketua Panitia Rakernas V APJI, Siti Radarwati mengatakan, untuk menyiapkan para pelaku bisnis kuliner menyongsong industri 4.0, APJI menyelenggarakan Rakernas APJI 2019 dan Fertival Jajan Pasar serta Pameran industri Jasa Boga pada 13-15 September 2019 di Bali.

"Bali dipilih sebagai tempat Rakernas karena Bali merupakan tujuan wisata terpopuler di Indonesia maupun mancanegara dengan kekhasan seni budayanya yang turut mempengaruhi industri jasa boga. Harapannya, industri jasa boga Nusantara akan lebih dikenal lagi oleh masyarakat dunia," ujar dia di Jakarta, kemarin.

Dia menjelaskan, APJI akan mendorong industri jasa boga secara berkelanjutan meningkatkan kualitas menuju kesejahteraan para anggotanya dengan membangun sinergitas antara pemerintah, pelaku usaha dan supporting usaha kuliner yang bertujuan meningkatkan perekonomian para anggota.

"Kami harus siap menghadapi industri 4.0 ini. Apalagi, saat ini anggota APJI terdiri dari berbagai skala usaha, dengan sebagian besar adalah pelaku usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM) yang tersebar di seluruh Indonesia," lanjut Siti.

Kemudian salah satu yang perlu dipersiapkan adalah transformasi digital. Sebagai salah satu misi dari APJI yakni meningkatkan pengetahuan manajemen usaha yang terus menerus dikembangkan, dengan teknik dan metode yang mutakhir, sehingga mempunyai daya saing tinggi.

"Apalagi saat ini bisnis kuliner yang menempati posisi penting di Indonesia. Sehingga APJI perlu berperan aktif untuk turut mendorong para anggotanya memberikan kontribusi terhadap dunia kuliner Tanah Air dalam hal pelestarian kuliner Indonesia dan pemberdayaan UKM dengan membina mereka di bidang jasa boga," tutur dia.

Cenderung Semakin Kompetitif

APJI menegaskan kemajuan teknologi menjadi peluang bagi industri kuliner dalam negeri untuk berkembang, khususnya untuk produk kuliner asli daerah.

Ketua Umum APJI Rahayu Setiowati menambahkan seiring perkembangan teknologi digital 4.0, sektor industri menjadi cenderung semakin kompetitif, termasuk di industri kuliner. Hal tersebut seharusnya dapat dimanfaatkan dalam rangka mendorong pengembangan industri kuliner lokal.

Berdasarkan data Euromonitor International, saat ini jumlah total pasar layanan makanan (food service) di Indonesia tumbuh sebesar 9 persen per tahun, dengan nilai mencapai 844,35 triliun rupiah pada 2019, di mana 90 persen merupakan restoran independen, termasuk UMKM.

Data tersebut menunjukkan, dengan berkembangnya dunia digital sebanyak 15 juta pelaku UMKM, termasuk di bidang kuliner kini sudah mulai bertransformasi ke ranah digital dengan rata-rata kenaikan omzet sekitar 80 persen.

Rahayu menekankan, para pelaku UMKM kuliner harus mulai bisa melihat peluang di era digital bagi usaha yang dimilikinya. "Ingat, makanan khas daerah mampu menjadi unggulan di negeri sendiri, juga mancanegara. Sudah saatnya kita melek peluang, agar dapat bersaing di era globalisasi," ujarnya.

Berdasarkan catatan APJI, dari sekitar 20.000-an anggota di 24 provinsi di Indonesia, sekitar 60 persen sudah melakukan transformasi digital. Yang paling sederhana seperti sudah bisa melayani metode pembayaran digital. Sisanya masih dalam proses, sebab kebanyakan dari mereka merupakan pelaku UMKM dengan skala bisnis yang masih kecil. "Kami juga sudah mengagendakan untuk melakukan roadshow ke daerah-daerah, supaya anggota APJI yang lainnya juga bisa segera melakukan transformasi digital agar tidak ketinggalan," ujar Rahayu.

Untuk menyongsong era teknologi ini, pihaknya tidak bisa bergerak sendiri. Oleh sebab itu, APJI akan melakukan konsolidasi di internal dan melakukan sinergi dengan pihak lain guna memasarkan produk-produk kuliner asli Indonesia.

"APJI ke depan juga akan bersinergi dengan Kadin bersama instansi terkait seperti Kementerian Pariwisata, Kementerian Koperasi dan UMKM, Bekraf, perbankan, dan BUMN serta instansi pemerintah terkait lannya dalam rangka sinergitas program untuk membantu pelaku usha kuliner di seluruh tanah air ini untuk dapat mengembangkan pasarnya lebih luas dan dan kreatif," jelas dia.

Ajang pameran kuliner yang digelarnya bertaraf internasional, diharapkan melalui pameran ini kuliner Indonesia semakin populer, dan makin diketahui lebih luas kepada dunia internasional. ima/R-1

Pemasaran Digital

Bisnis kuliner di Indonesia terus tumbuh. Perkembangan bisnis kuliner ditunjang teknologi digital, sehingga pelaku usaha bisa dengan bebas memasarkan bisnisnya melalui platform daring. Di samping itu, para pelaku kuliner diharapkan juga memiliki strategi pemasaran yang apik dalam memperkenalkan menu contohnya melalui media sosial.

Di kesempatan yang berbeda, Ussy Sulistiawaty, selebriti sekaligus pemilik usaha kuliner Bakoel Ussy mengaku sangat memanfaatkan platform digital. Ia pun percaya promosi di platform digital saat ini tidak dapat terpisahkan dari strategi pemasaran yang dijalankan.

"Selain lebih cepat dan efisien, saya juga dapat langsung berinteraksi dengan para pelanggan dan mendapatkan banyak masukan yang berharga untuk perkembangan usaha saya di masa mendatang," paparnya.

Ussy mengaku dirinya baru sadar bahwa sosial media adalah platform yang efektif untuk berjualan. "Tak hanya ajang promosi, media sosial akan lebih efektif jika orang tersebut bisa melakukan food story telling. Hal tersebut sangat efektif meningkatkan penjualan," terang istri aktor Andhika Pratama itu.

Sementara itu, Vita Datau, Ketua Tim Percepatan dan Pengembangan Wisata Kuliner dan Belanja Kemenpar, sekaligus Ketua Indonesia Gastronomy Network menjelaskan, pengusaha kuliner Nusantara harus memiliki kemampuan dan akses lebih dalam menggunakan media promosi digital. "Artinya, selain pemahaman mengenai digital marketing yang baik, para pengusaha kuliner Nusantara perlu memahami keunggulan hidangannya dan mampu menceritakannya dengan baik kepada konsumen melalui platform daring," tuturnya.

Kekuatan pada media sosial dalam strategi pemasaran bisnis kuliner terletak pada kombinasi antara visual dan narasi yang kuat untuk menghasilkan konten yang menarik dalam melakukan promosi di platform daring itu. "Pelaku usaha kuliner harus memiliki konten yang bagus untuk pemasaran. Yang namanya kulineran tidak hanya memuaskan mata. Tetapi juga butuh menyentuh dan merasakan atau experience," ungkap Vita. ima/R-1

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.