Perlu Dibiasakan Sambut Tahun Baru dengan Doa berlangsung aman
Selasa, 02 Jan 2018, 06:00 WIBBerbagai kegiatan di Tanah Air dilakukan untuk menyambut pergantian tahun 2017 ke 2018. Biasanya acara-acara yang bernuansa kemeriahan diselenggarakan komunitas-komunitas masyarakat. Tanpa komando pun warga menyambut tahun baru dengan kegiatan suasana yang merah dan identik dengan petasan, terompet, dan kembang api.
Sebelum saatnya tiba menit-menit pergantian tahun, warga berbondong-bondong menuju lokasi yang dinilai tepat untuk kegiatan tersebut. Jalanan pun padat, bahkan macet karena animo masyarakat menyambut pergantian tahun demi sebuah kenangan. Warga tidak sayang mengeluarkan uang untuk membeli terompet, petasan, dan kembang api.
Kini selain hiruk-pikuk kemeriahan menyambut pergantian tahun, tidak sedikit warga yang memilih mengisi menit-menit akhir tahun dan awal tahun dengan doa bersama. Kalau kemeriahan merata di semua wilayah, kegiatan doa bersama juga dilakukan warga dan jajaran pemerintah daerah di Indonesia.
Sebut saja kegiatan doa bersama dilakukan Pemerintah Provinsi Jawa Timur (Jatim) saat malam Tahun Baru 2018 di depan Kantor Gubernur Jatim, Jalan Pahlawan, Surabaya. Istilah yang digunakan adalah istigasah. Kegiatan diisi dengan salawat dan hadrah dari Ikatan Seni Hadrah (Ishari) dari enam daerah di Jatim, yaitu Pasuruan, Jombang, Mojokerto, Surabaya, Gresik, dan Sidoarjo.
Kegiatan yang sama juga diselenggarakan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim). Selain pimpinan umat Islam, beberapa pimpinan umat agama lain juga hadir dan Gubernur Awang Farouk melakukan doa bersama di ujung tahun 2017.
Makna kegiatan ini adalah bersyukur atas berkah selama ini sekaligus memohon keberkahan pada 2018. Doa bersama berlangsung di Taman Tepian Mahakam, Jalan Gajah Mada Samarinda. Doa dipimpin para tokoh agama Hindu, Buddha, Kristen, Katolik, dan Islam.
Gubernur Awang Farouk mengundang warga Kaltim untuk bersama-sama melepas akhir tahun 2017 dengan doa agar Kaltim tetap kondusif, aman, dan damai menuju Tahun Baru 2018. Melalui doa bersama diharapkan suasana kondusif dan keberkahan yang diterima daerah ini sepanjang 2017, bisa dipertahankan bahkan meningkat 2018.
Awang Farouk berharap meningkatnya pertumbuhan ekonomi di masa mendatang serta tetap terjalinnya hubungan harmonis antaragama. Dengan itu semua, diharapkan Kaltim lebih maju dan rakyatnya sejahtera. Tak lupa, panitia menyiapkan sajian berbagai makanan tradisional.
Introspeksi Diri
Awang berharap masyarakat menyambut momen pergantian tahun ini dalam suasana gembira, namun tetap sejuk, damai, dan tidak berlebihan. Momentum pergantian tahun ini juga diharapkan sebagai introspeksi diri untuk membuat perubahan lebih baik pada 2018.
Sementara itu doa bersama dilakukan di Pusdai Jalan Diponegoro dan Masjid Al Ukhuwah Jalan Wastukencana Kota Bandung. Wali Kota Bandung Ridwan Kamil, Wakil Wali Kota Bandung Oded M Danial, dan Sekretaris Daerah Kota Bandung Yossi Irianto bersama ribuan warga Kota Bandung bermuhasabah di masjid tersebut.
Muhasabah itu dihadiri ribuan jemaah yang mengikuti kajian dari Ustad Evi Effendi. Kajian itu dilanjutkan dengan dzikir bersama dan diakhiri dengan salat subuh berjamaah. "Tahun 2018 adalah tahun terakhir kepemimpinan saya dan Mang Oded, berharap mudah-mudahan semua janji yang belum tuntas sudah bisa hadir," ujar Ridwan Kamil.
Sedangkan pergantian tahun di Paroki Santo Antonius Padua Bidaracina Jakarta dilakukan dengan devosi kepada Hati Kudus Yesus. Pastor Kepala Paroki Santo Antonius Padua Bidaracina, Romo Blasius Sumaryo SCJ memimpin upacara devosi yang dimulai pukul 23.00.
Devosi diakhiri tepat saat pergantian tahun dengan berkat dari Romo Sumaryo. Pada devosi tutup tahun ini, Romo Sumaryo berharap agar tahun 2018 dapat diisi oleh umat Katolik setempat dengan hidup yang lebih berkualitas dengan aktif hidup menggereja.
Devosi berfokus kepada Hati Yesus yang maha kudus yang melambangkan kasih Kristus yang menebus dosa manusia. Dari catatan yang ada, praktik devosi ini telah dimulai sekitar tahun 1000 atau pada zaman St Anselmus dan St Bernard (1050- 1150) dan juga telah dianjurkan oleh banyak orang kudus di abad pertengahan, seperti St Albertus Agung, St Catherine dari Siena, St Fransiskus dari Sales, dan juga para Benediktin, Dominikan, dan Carthusian. Namun Santa yang paling sering diasosiasikan dengan devosi Hati Kudus Yesus adalah St Margaret Mary Alacoque (1647- 1690). n tgh/SM/eko/Ant/N-3
Redaktur: Marcellus Widiarto
Penulis: Antara, Henri pelupessy
PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.