Gerakan Politik Komunisme

Rabu, 04 Okt 2017, 01:00 WIB

Oleh Yusa Djuyandi

Dalam sejarah dunia, komunisme menjadi salah satu ideologi besar yang tumbuh dan berkembang di banyak negara. Ideologi ini muncul sebagai pesaing paham liberalis dan kapitalis. Karl menganggap keduanya berkontribusi atas kemunculan ketidakadilan atau penindasan kaum penguasa dan pengusaha terhadap pekerja (buruh-petani). Marx menentang kapitalisme dan liberalisme untuk menciptakan sebuah keadilan dan keseimbangan dalam tatanan masyarakat. Namun, untuk memunculkan keduanya, tidak boleh ada kelas sosial (Classless society).

Ket. Foto: — Sumber: koran jakarta/ones

Bagi Marx, kapitalisme sebuah wajah mengerikan yang telah membentuk kelas-kelas dalam masyarakat. Ini memunculkan alienasi (keterasingan) terhadap kelompok masyarakat kecil atau kelas ketiga. Pertumbuhan kapitalisme itu sendiri tidak dapat dilepaskan dari revolusi industri yang membuka peluang para pemilik modal berlomba-lomba menanamkan uang untuk memperoleh keuntungan besar. Namun sayang, ini kemudian dilakukan dengan cara menekan upah buruh.

Mereka juga menambah jam kerja buruh dengan waktu istirahat singkat. Para buruh juga diharuskan bekerja dengan cepat dan upah minim. Kondisi inilah yang kemudian membuat Marx dan kawannya, Frederich Engels, mencetuskan sebuah gagasan tentang The Communist Manifesto dengan slogan "Seluruh Pekerja Bersatu."

Manifesto komunis merupakan gagasan untuk meruntuhkan kapitalisme. Gagasan ini mengadung unsur politis karena hendak mewujudkan sebuah sistem baru yang ingin meniadakan kelas penghisap dan merebut kekuasaan tertinggi. Untuk mewujudkan perubahan sistem dan mencapai kekuasaan oleh kaum buruh, diperlukan pertentangan kelas. Para buruh harus melawan kaum borjuis atau pengusaha.

Bentuk-bentuk perlawanan buruh bermacam-macam seperti demonstrasi sampai mendorong revolusi besar-besaran. Pertentangan kelas dan perlawanan buruh demi mencapai kekuasaan juga menegaskan pemikiran Marx terkait teori konflik. Teori ini menegaskan, guna memperolah kepentingan sebesar-besarnya, konflik tidak terelakkan.

Revolusi, konflik, dan pertentangan kelas dalam komunisme menjadi alat mewujudkan masyarakat tanpa kelas. Dengan kata lain, untuk melawan penindasan kaum borjuis, tidak ada cara lain, kecuali lewat kekerasan. Inilah yang kemudian membuat komunis menjadi musuh nyata kelompok-kelompok kapitalis saat itu. Marx menentang eksploitasi, penindasan, dan paksaan. Namun, akhirnya membenarkan juga cara kekerasan dan paksaan untuk mencapai tujuan pemikirannya.

Persaingan dan pertentangan antara kaum kapitalis dan komunis pada perkembangannya bukan lagi hanya di level gagasan, tapi dalam konflik politik. Keduanya berebut pangaruh di beberapa wilayah dunia yang berujung kontak fisik atau perang. Komunisme sebagai sebuah ideologi pada saat itu diwakili Uni Soviet dan Tiongkok. Sedang kapitalis-liberalis diwakili Inggris dan Amerika Serikat.

Perkembangan ideologi komunis di Rusia meletus pasca-Revolusi Bolshevik tanggal 7 November 1917. Peristiwa ini juga diyakini sebagai awal perkembangan komunis internasional. Pasca-Revolusi Bolshevik, komunisme menyebar luas ke negara-negara lain melalui imperialisasi. Sedangkan Tiongkok baru menjadi sebuah negara komunis pada abad ke-20, ketika tahun 1949 Partai Komunis Tiongkok meraih kekuasaan. Meski demikian ada perbedaan mendasar komunis Tiongkok dan Soviet. Basis perjuangan partai komunis Soviet adalah buruh, sedangkan Tiongkok petani.

Kekuatan komunisme Rusia dan Tiongkok dianggap ancaman langsung negara-negara kapitalis liberal karena kedua ideologi saling bersaing memperebutkan kekuasaan politik. Cara-cara kekerasan komunis untuk memperoleh kekuasaan tidak menjadikan komunisme lebih baik ketimbang kapitalisme dan liberalisme. Kini pun, meski sebagian kalangan meyakini komunis telah hancur, aktivitas persaingan masih terjadi di antara negara yang pernah terlibat perang dingin.

Indonesia

Jauh sebelum masa kemerdekaan kekuatan komunisme sebenarnya telah muncul di Indonesia. Ini ketika Mei 1920 di Semarang, Indische Sociaal Democratische Vereeniging (ISDV) berubah nama jadi Perserikatan Komunis Hindia. Kelahiran Komunisme Indonesia tak bisa dilepaskan kehadiran orang-orang buangan politik Belanda dan mahasiswa-mahasiswa lulusannya yang berpandangan kiri. Di antaranya Sneevliet, Bregsma, dan Tan Malaka. Saat itu PKI lahir sebagai sebuah gerakan yang menentang kolonialisme Hindia Belanda, namun dibubarkan karena memberontak.

Pascakemerdekaan, komunisme Indonesia pernah menjadi sebuah kekuatan politik besar. Pada Pemilu tahun 1955 Partai Komunis Indonesia (PKI) berhasil menduduki peringkat keempat. PKI juga menjadi salah satu mitra politik Presiden Soekarno yang berslogan Nasakom (nasionalisme, agama, dan komunisme). Namun di tengah kebesarannya, komunisme Indonesia juga identik dengan kekerasan dalam mencapai tujuan. Contoh, peristiwa Madiun tahun 1948 saat Muso, tokoh komunis, memproklamasikan Republik Soviet Indonesia. Dia memberontak sampai menewaskan Gubernur Jawa Timur RM Suryo, Moewardi, beberapa polisi, dan tokoh agama.

PKI sebagai kekuatan politik berseberangan dengan kelompok militer dan agama. Bahkan kemudian diyakini menjadi pemicu konflik politik yang berujung pada pembunuhan enam jenderal pada 30 September 1965. Antara PKI dan militer serta kelompok agama memiliki jurang pemikiran. Komunis berorientasi dan tujuannya sendiri atas negara Indonesia. Begitu pun dengan militer dan kelompok agama.

Adakalanya komunis berhasil menyusup tubuh militer, namun terbaca. Begitu juga komunis pernah masuk ke dalam organisasi agama seperti Sarekat Islam (SI) dan memecah dua: SI Putih pimpinan HOS Tjokroaminoto dan SI Merah pimpinan Semaoen. SI merah berlandaskan asas sosialisme-komunisme.

Peristiwa G30S membuat PKI diburu dan dihilangkan dari panggung politik Indonesia. Organisasi dan partai Islam melihat ideologi komunis bertentangan dengan Pancasila, terutama sila pertama. Maka, dia dianggap anti-Tuhan atau atheis. Sedangkan bagi kelompok militer, aktivitas PKI dapat membahayakan negara dan ideologi bangsa.

Meski komunis dianggap telah bubar, terutama seiring jatuhnya Uni Soviet dan terbukanya ekonomi Tiongkok, bukan jaminan, benar-benar mati di Indonesia. Seperti digambarkan Anthony Giddens, komunisme dan sosialisme sebenarnya belum mati. Meskipun pernyataan Giddens ini dapat diperdebatkan, setidaknya dari persitiwa masa lalu, bangsa Indonesia harus tetap waspada terhadap kemungkinan tetap eksisnya komunisme.

Penulis Dosen Ilmu Politik Universitas Padjadjaran

Redaktur: Redaksi Koran Jakarta

Penulis: Tim Koran Jakarta

PT. Berita Nusantara
© Copyright 2017 - 2026 Koran Jakarta ®
All rights reserved.