Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video

Tiongkok Mulai Melirik Vaksin Corona Buatan Negara Lain Seperti Vaksin Pfizer dan Moderna Di Luar Sinovac dan Sinopharm Yang Selama Ini Mereka Produksi Sendiri

Foto : Istimewa
A   A   A   Pengaturan Font

China diketahui meramaikan vaksinasi di berbagai belahan dunia termasuk Indonesia dengan mengeluarkan vaksin Covid-19 sendiri yakni Sinovac dan Sinopharm.

Namun, seiring waktu China mengubah taktik dengan membuka kesempatan untuk menggunakan vaksin buatan luar yang bukan dikembangkan di dalam negeri, agar bisa digunakan dalam program vaksinasi di China.

China merupakan salah satu yang tidak menyetujui atau mendistribusikan vaksin COVID-19 yang menggunakan teknologi mRNA di dunia.

Padahal, mRNA terbukti menjadi salah satu alat paling efektif dalam mencegah penyebaran COVID-19.

Dalam laporan media China Caixin, dikatakan bahwa regulator China telah menyelesaikan tinjauan ahli pada vaksin mRNA yang dikembangkan BioNTech.

Vaksin tersebut akan didistribusikan secara lokal melalui Fosun Pharma China.

Di Amerika Serikat, BioNTech bekerja sama dengan Pfizer membuat vaksin ini. Sementara untuk suntikan vaksinnya sedang dalam tahap tinjauan administrasi, dikutip laman Reuters, Senin (19/7/2021).

Kepala Eksekutif BioNTech, Ugur Sahin mengungkapkan semoga vaksin yang dikembangkan pihaknya bisa dapat persetujuan dari otoritas China paling lambat pada Juni.

Vaksin telah ada di jalur memulai produksi uji coba di China pada akhir Agustus. Informasi ini dari Ketua Fosun Pharma, W Yifang pada pemegang saham Rabu lalu yang dikutip Caixin.

Melansir Fortune, Fosun memang masih menunggu persetujuan akhir dari regulator, setelah disetujui Fosun bisa mendistribusikan 100 juta dosis yang didapatkan dari Biontech Desember lalu ke pasar China pada akhir tahun 2021.

Selain itu, jika mendapatkan persetujuan maka membuka kapasitas Fosun untuk memproduksi 1 miliar lebih suntikan vaksin dari Biontech per tahun.

Itu merupakan bagian dari kesepakatan yang dicapai Fosun dan BioNTech pada bulan Mei untuk membuat perusahaan patungan baru di China.

Fosun telah mengajukan permohonan agar vaksin BioNTech disetujui di pasar China mulai November tahun lalu.

Ketika BioNTech dan distributor global lainnya mengumumkan data klinis Pfizer pertama kali yang menunjukkan bahwa vaksin mRNA efektif melawan COVID-19.

Vaksin Pfizer dan BioNTech telah mendapatkan persetujuan dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan terbukti sangat efektif, termasuk terhadap varian Delta.

Kabarnya vaksin akan digunakan sebagai suntikan booster bagi orang yang telah menerima vaksin dengan virus yang dimatikan.

Fortune menyebutkan penundaan persetujuan pada vaksin ini kemungkinan karena pemerintah China ragu dengan kegunaan vaksin mRNA.

Keraguan ini diungkapkan pada awal tahun ini dan mempromosikan alternatif buatan dalam negeri.

Tetapi munculnya varian Delta Covid-19 baru-baru ini mungkin mendorong Beijing untuk mengubah taktik.

Di tengah tingginya penyebaran wabah Covid-19 varian Delta, pemerintah asing tampaknya kehilangan kepercayaan pada kinerja vaksin China dibanding dengan vaksin platform mRNA.

Namun ucapan itu juga tak membalikkan keadaan sikap China pada vaksin mRNA.

Beijing kemungkinan juga sampai pada gagasan vaksin mRNA bisa meningkatkan respon pada pandemi nya sendiri, dibandingkan dengan vaksin mRNA dari perusahaan seperti BioNTech dan Moderna.

Beijing kemungkinan sampai pada gagasan bahwa vaksin mRNA dapat meningkatkan respons pandeminya sendiri, ungkap laman Fortune.

Dikutip dari Global Times yang ikut mengkritik liputan soal suntikan vaksin dari China. Serta mengisyaratkan vaksin dengan platform mRNA berbahaya.

"Promosi vaksin Pfizer skala besar adalah proses berkalnjutan dari pengujian skala besar pada manusia," tulis Global Times.

Lalu, Partai Komunis China, People's Daily menuliskan cerita mengenai hubungan yang belum terbukti kematian di panti jompo Norwegia dan suntikan Pfizer.

Namun akhirnya gerakan anti vaksin mRNA mulai ditinggalkan, misalnya Direktur Jenderal Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit China, Gao Fu menyebutkan harus mempertimbangkan manfaat dari mRNA.

"Setiap orang harus mempertimbangkan manfaat yang dapat diberikan vaksin mRNA bagi kemanusiaan," ungkapnya.

Caixin melaporkan bahwa pihak berwenang berencana untuk menggunakan vaksin BioNTech.

Bukan sebagai alternatif dari vaksin yang diproduksi di dalam negeri, tetapi sebagai vaksin penguat opsional setelah orang mendapatkan rejimen dua dosis vaksin China.

China juga pada akhirnya dapat menambahkan suntikan mRNA dari produsen dalam negeri.

Walvax Biotechnology, merupakan pembuat vaksin swasta yang berbasis di provinsi Yunnan barat daya China.

Perusahaan ini memiliki kandidat vaksin mRNA terkemuka di China dan sedang menunggu izin untuk memulai uji coba Tahap III akhir.

"Saya percaya China benar-benar perlu memiliki vaksin mRNA sendiri. Teknologi vaksin ini telah terbukti efektif. Saya sangat berharap bisa diluncurkan di tanah Tiongkok." ucap Dr Tong Xin, direktur pengembangan penelitian di Walvax.




Editor : Fiter Bagus
Penulis : Aris N

Komentar

Komentar
()

Top