Telusuri Jejak Masa Lalu Kaum Kolonial di Makam Peneleh
📅 Jumat, 21 Apr 2023, 06:10 WIB | Oleh: Selocahyo Basoeki Utomo S
Doc: Istimewa
Salah satu destinasi wisata cagar budaya favorit di Surabaya adalah Makam Belanda Peneleh. Di lokasi ini kita bisa menyaksikan kompleks pemakaman tertua di Jawa Timur yang asri dan rapi hingga tak heran kerap digunakan untuk para pehobi fotografi sebagai lokasi pemotretan.
Kota-kota pelabuhan di Jawa dikenal kaya dengan berbagai peninggalan sejarah masa penjajahan. Peninggalan ini kerap menjadi tujuan favorit bagi penggemar wisata sejarah.
Pada masa Hindia Belanda, Surabaya, berstatus sebagai ibu kota Karesidenan Surabaya, mencakup daerah yang kini menjadi Kabupaten Gresik, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang. Pada tahun 1926, Surabaya ditetapkan sebagai ibu kota Provinsi Jawa Timur. Sejak saat itu Surabaya berkembang menjadi kota modern terbesar kedua di Hindia Belanda setelah Batavia.
Sebelum Perang Dunia ke-2, di sekitar pusat kota lama Surabaya terdapat banyak bangunan-bangunan rumah toko, yang kebanyakan bertingkat dua. Rumah-rumah toko ini terinspirasi dari tradisi Eropa dan Tionghoa peranakan. Walaupun sebagian telah dibongkar untuk pembangunan baru, masih banyak bangunan-bangunan lama yang dipertahankan sebagai cagar budaya.
Pada masa setelah kemerdekaan Indonesia, pusat perkembangan arsitektur kota Surabaya hanya terpusat di wilayah Jembatan Merah dan sekitarnya,
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu destinasi wisata cagar budaya atau heritage favorit di Surabaya adalah Makam Belanda Peneleh. Tempat yang dikenal pula sebagai makam Kristen Belanda ini adalah salah satu komplek pemakaman tertua di Jawa Timur ini.
De Begraafplaats Peneleh Soerabaja atau Makam Peneleh Surabaya, telah ada sejak tahun 1814. Dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda, komplek ini ditempati tidak kurang dari sekitar 15-25 ribu jasad warga Eropa di Jawa Timur, umumnya dari Surabaya.
Mereka tidak hanya orang Belanda, juga berasal dari negara-negara Eropa seperti Jerman, Inggris, Italia, Armenia, Prancis, Belgia, Austria, Swiss, Norwegia, bahkan Russia.
Sebaiknya Anda baca juga:
Begitu melewati pintu gerbang yang terbuat dari baja tua, pengunjung akan langsung disambut dengan jajaran ribuan nisan dengan berbagai macam ornamen dan arsitektur khas kolonial.
Mengingat lokasi itu banyak digunakan untuk memakamkan para petinggi Hindia-Belanda, sebagian nisan atau bangunan juga dibuat dengan bahan khusus. Seperti batu granit, marmer, dan besi yang ada di bagian nisan bukan spesifikasi standar kala itu.
Sejumlah artefak atau nisan telah dicat ulang dengan warna putih, emas atau hitam agar terlihat menarik. Sementara sebagian besar artefak yang lain tetap dibiarkan dalam keadaan asli, dengan warna agak kusam, beberapa bagian mengelupas, atau sejumlah patung malaikat yang sudah tidak utuh.
Namun kondisi itu justru memberikan sensasi tersendiri, kesan heritage yang lebih kuat. Seolah dari setiap sudut makam bertutur tentang kisah masa lalu dari para penghuni komplek seluas 6,5 hektare itu.
Namun meskipun terlihat berumur, makam kuno ini jauh dari kesan angker. Kompleks tersebut tampak terawat, dikelilingi lahan yang asri, bersih dengan rumput hijau segar yang dipotong rapi. Tak heran lokasi ini juga kerap digunakan untuk para pehobi fotografi.
Destinasi ini relatif mudah dijangkau, terletak di Jalan Makam Peneleh nomor 35 A, hanya berjarak kurang dari satu kilometer dari pusat kota Surabaya. Serunya lagi, pengunjung yang ingin menikmati wisata sejarah tidak dipungut biaya satu rupiah pun, begitu juga jika ada orang yang ingin berziarah.
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!