Riset: 8 dari 10 Guru Besar di Indonesia Terindikasi Menerbitkan Artikel di Jurnal ‘Predator’
📅 Kamis, 14 Nov 2024, 15:30 WIB | Oleh: Tim Penulis
Doc: The Conversation/Shutterstock
Yulinda Nurul Aini, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN); Dwiyanti Kusumaningrum, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), dan Mochammad Wahyu Ghani, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN)
Serangkaian skandal yang melibatkan publikasi di jurnal ‘predator’ mengguncang dunia akademis Indonesia selama beberapa tahun terakhir, terutama pada periode 2021-2023.
Fenomena ini tidak hanya mencoreng reputasi individu dosen yang terlibat, tetapi juga menciptakan krisis kepercayaan terhadap institusi pendidikan tinggi dalam negeri di mata nasional maupun internasional.
Jurnal ‘predator’ adalah jurnal berorientasi profit yang proses penerbitannya tidak melalui proses peninjauan ilmiah yang bisa dipertanggungjawabkan. Sebanyak 23% akademisi Indonesia telah terindikasi menerbitkan tulisan ilmiahnya di jurnal yang terindikasi ‘predator’ sejak 2015.
Sebaiknya Anda baca juga:
Rentetan skandal ini semakin terbukti lewat kajian jurnalistik Tempo pertengahan tahun 2024, yang menemukan bahwa sebagian besar guru besar di Indonesia terindikasi membayar puluhan juta untuk bisa menerbitkan karya ilmiahnya dalam jurnal ‘predator’.
Puncak dari skandal tersebut adalah ketika 11 guru besar di Universitas Lambung Mangkurat di Kalimantan Selatan, terbukti menyiasati syarat untuk bisa diangkat menjadi guru besar dengan menerbitkan tulisannya di sejumlah jurnal ‘predator’.
Skandal ini mengungkap sisi gelap dari tekanan akademis yang dihadapi oleh para dosen serta celah dalam sistem evaluasi kinerja akademis yang ada.
Sebaiknya Anda baca juga:
Salah satu faktor utama yang mendorong dosen atau calon guru besar untuk terlibat dengan jurnal ‘predator’ adalah tekanan untuk memenuhi persyaratan kenaikan pangkat dan jabatan fungsional. Sebab, publikasi ilmiah merupakan salah satu indikator utama dalam penilaian kinerja dosen di Indonesia.
Jejak guru besar di jurnal ‘predator’
Untuk menelisik hal ini, kami melakukan survei terhadap 18 dari 198 Perguruan Tinggi (PT) di Indonesia, yang terdiri dari Perguruan Tinggi Negeri (PTN), Perguruan Tinggi Kementerian/Lembaga (PTKL), dan Perguruan Tinggi Agama (PTAN).
Dari 18 PT tersebut, kami mengambil sampel 158 guru besar dengan 4.742 artikel jurnal terindeks Scopus untuk ditelusuri kredibilitasnya. Hasilnya, 8 dari 10 Guru Besar di Indonesia pernah menerbitkan artikel di jurnal ‘predator’, dengan 1.363 artikel atau hampir 30% dari sampel terbit di jurnal-jurnal terindikasi ‘predator’.
Hasil penelusuran kami menunjukkan fakta-fakta sebagai berikut:
1. Demografi pengguna jurnal ‘predator’
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!