Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Edisi Weekend Foto Video Infografis
Ekonomi Kreatif

Program Sertifikasi Kompetensi SDM Parekraf Lampaui Target

Foto : ISTIMEWA
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Sejak dilakukannya kick-off Certificate of Tourism Human Resources and Competency Based Standards pada September 2022 lalu, yang mendapat dukungan dari Bank Dunia jumlah SDM yang memiliki kompetensi dibidang pariwisata dan ekonomi kreatif meningkat pesat, bahkan melampai dari target yang ditetapkan dari program sertifikasi tersebut.

Direktur Standardisasi Kompetensi Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekaf), Titi Lestari mengatakan dalam menjalankan program ini pihaknya telah menggandeng telah memverifikasi 40 Lembaga Sertifikasi Profensi (LSP) dan sebanyak 34 LSP telah dinyatakan layak untuk melakukan uji kompetensi di 6 (enam) Destinasi Pariwisata Prioritas (DPP) yaitu Danau Toba (Sumut), Wakatobi (Sultra), Labuan Bajo (NTT), Lombok (NTB), Borobudur -Yogya-Prambanan (Yogya & Jateng), dan Bromo-Tengger-Semeru (Jawa Timur).

Selanjutnya, pihaknya melakukan koordinasi terhadap 34 LSP untuk mengajukan jadwal pelaksanaan uji kompetensi sesuai skema bidang dan pedoman umum yang berlaku.

"Dari 34 LSP untuk melaksanakan uji kompetensi yang dimulai bulan September sampai bulan November. Adapun target yang harus dipenuhi di tahun 2022 pada awalnya ditetapkan sebanyak 18.000 orang, sementara tahun 2023 berjumlah 27.000 orang dengan total seluruhnya 45.000 orang. Namun demikian, pada akhir Oktober 2022 telah direvisi karena telah melampau target dari target 18.000 peserta menjadi 27.000 peserta di tahun 2022, sementara target tahun 2023 menjadi 18.000 peserta," kata Titi dalam Kegiatan Evaluasi Sertifikasi Kompetensi Kemenparekaf di Jakarta, Selasa (6/12).

Ia menambahkan dari data yang ada terkait hasil sertifikasi tersebut cukup mewakili wilayah bagiantengah dan barat di Indonesia. Bagian timur Indonesia target serapan sertifikasi SDM di bidang pariwisata lebih kecil jumlahnya, padahal sektor pariwisata di wilayah tersebut memiliki potensi yang baik.

Lihat misalnya Labuan Bajo,memiliki potensi menyerap tenaga kerja hotel bertaraf internasional seperti JW.Marriot, pemandu wisata, termasuk wisata selam dan sebagainya. Secara kuantitatif, dibutuhkan kedepan ketersediaan asesi yang unggul dan tersertifikasi, serta kualitas asesor yang memberikan uji kompetensi perlu di dorong lebih banyak dengan membandingkan angkatan kerja disektor Pariwisata.

Titi juga mengatakan bahwa pihaknya juga mengeluarkan rekomendasi dari program dan pengaruh bagi pengembangan wisata di Indonesia, diantaranya mempercepat pengakuan industri dan sektor terhadap tenaga kerja pariwisata bersertifikat kompetensi.

Lalu juga memfasilitasi calon tenaga kerja/tenaga kerja Pariwisata untuk mendapatkan sertifikat kompetensi melalui suatu uji kompetensi oleh LSP.

Selain itu, mengoptimalkan pelaksanaan uji dan sertifikasi kompetensi kerja oleh LSP yang berorientasi pada permintaan industri terhadap tenaga kerja berkompeten yang memiliki sertifikat kompetensi.

"Kami juga merekomendasi untuk mempercepat pengakuan industri untuk dilakukan pendekatan pada manajemen yang bergerak di industri pariwisata, untuk membuatkebijakan dengan mempersyaratakan sertifikat kompetensi sebagai persyaratan "wajib" dipenuhi oleh tenaga kerja yang akan melamar.

Selain itu yang tidak kalah pentingnya adalah mapping sdm yang bekerja di bidangpariwisata, mendorong seluruh manajemen yang bergerak di industri pariwisata (semua bidang), untuk melakukan mapping seluruh karyawanyang sudah bekerja untuk mengetahui tenagakerja yang belum tersertifikasi kompetensi," katanya.


Redaktur : andes
Penulis : Mohammad Zaki Alatas

Komentar

Komentar
()

Top