Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan
Ads

Petani Masih Keberatan HPP Baru

📅 Jumat, 17 Mar 2023, 08:00 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Petani Masih Keberatan HPP Baru Doc: istimewa

JAKARTA - Ketetapan harga pembelian pemerintah (HPP) gabah petani dinilai hanya menguntungkan korporasi besar dan penggilingan besar. Akibatnya, harga beras di tingkat konsumen diperkirakan tetap tinggi.

Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) resmi merevisi HPP gabah kering panen (GKP) di tingkat petani menjadi 5.000 rupian per kilogram (kg) dari semula 4.200 rupiah per kg. Di tingkat penggilingan, GKP ditetapkan 5.100 rupiah per kg.

Kemudian, Gabah Kering Giling (GKG) di penggilingan 6.200 rupiah per kg, sementara di gudang Perum Bulog 6.300 rupiah. Selain itu, Beras di gudang Perum Bulog ditetapkan sebesar 9.950 rupiah.

Namun, Serikat Petani Indonesia (SPI) menganggap ketentuan baru tersebut hanya menguntungkan korporasi besar dan penggilingan besar. Di sisi hilir, konsumen akan mendapatkan harga tinggi.

"Kami mengusulkan HPP di 5.600 karena harga pokok produksi sebesar 5.050 rupiah per kilo gram. Artinya, dengan HPP 5.000 masih di bawah biaya produksi. Petani masih merugi," tegas Ketua Umum SPI, Henry Saragih, di Jakarta, Rabu (16/3).

Selain itu, SPI menilai penetapan harga eceran tertinggi (HET) sangat lebar jaraknya dengan harga HPP. "Misalnya HET di zona 1, beras premium 13.900 rupiah, medium 10.900 rupiah, dan di Bulog 9.950 rupiah.

Selisih antara HPP GKP di petani dengan harga beras di Bulog, apalagi dengan HET medium dan premium, sangat besar.

"Gabah sekarang yang diproduksi petani sudah menggunakan mesin combine, mesin panen yang persentase gabah untuk dijadikan beras sudah pada tingkat 60 persen, kalau dengan mesin perontok yang cuma 55 persen yang semakin jarang dipakai petani. Mayoritas petani sekarang sudah pake mesin combine," paparnya.

Henry menekankan, pemerintah seharusnya juga menerbitkan HPP multilokasi, bukan HPP tunggal. Menurut Henry, jika HET ada premium dan medium, gabah yang dibeli di petani juga harus ada grade harga.

Dia menilai HET dengan grade medium dan premium ini menjadi kesempatan bagi perusahaan besar membeli gabah dengan harga murah dan mengolahnya lalu menjualnya dengan harga mahal.

"Kalau kebijakan HPP ini jadi ditetapkan maka kerugian masih menimpa petani, dan korporasi besar penggilingan beras akan sangat diuntungkan, sisi lain konsumen mendapatkan harga beras yang tinggi dan mahal," tutupnya.

Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Arief Prasetyo Adi, menuturkan, sebelum diputuskan, usulan HPP dan HET terbaru ini telah melewati proses diskusi dan memperhatikan masukan seluruh stakeholder perberasan nasional. Bahkan, penentuannya mempertimbangkan biaya pokok produksi, margin petani, kualitas gabah dan beras, serta dampak kenaikan inflasi.

Jaga Keseimbangan

Arief menegaskan, tujuan utama segera ditetapkan HPP dan HET ini adalah untuk menjaga keseimbangan harga baik di tingkat hulu maupun hilir. "Bulog dan penggilingan padi kecil bisa mendapatkan gabah untuk digiling, serta konsumen mendapatkan beras dengan harga yang wajar. Keseimbangan itu yang terus kita jaga," jelasnya.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google
  • Abu Vulkanik Masih Bisa Menembus Masker N95, Kecuali Diberi Tambahan
    Pantesan negara ga maju2, profesor UI lohhhh , ...
  • BTN Dorong Industri Kopi Indonesia Naik Kelas Lewat Kolaborasi dan Digitalisasi
    Langkah luar biasa dari BTN dalam menginisiasi kolaborasi ...
  • OJK Bubarkan 58 Dana Pensiun, Ada Apa dengan Industri Pensiun RI?
    Meskipun terdapat pembubaran puluhan dana pensiun pemberi kerja, ...
  • Kini Deli Serdang Kembangkan Industri Jamur Menggunakan Elektrifikasi, Bisa Ditiru
    Inisiatif pemanfaatan teknologi elektrifikasi melalui mesin pengaduk media ...
  • Perkuat Daya Saing di Tengah Dinamika Pasar Global, VDNI Pacu Pertumbuhan Berkelanjutan di 2026
    Langkah strategis PT Virtue Dragon Nickel Industry (VDNI) ...
Ekonomi
Telkomsel Gandeng Ariel seb...
Megapolitan
Kodam Jaya Gunakan 147 Wate...
Nasional
Mendikdasmen Ungkap Literas...
Advertisement
Pesan Terakhir Pukul 15.04, Ini Kronologi dan Update Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Selat Sunda

Pesan Terakhir Pukul 15.04, Ini Kronologi dan Update Pencarian Jurnalis Hilang Kontak di Perairan Selat Sunda

09 Sep 2026
Pilihan Pembaca
# 4
# 4
Wapres Sara Duterte Bayar Uang Jaminan
Indeks Berita Populer +
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.