Kawal Pemilu Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Kinerja Semester II-2023

Perlu Kerja Keras Capai Target Pertumbuhan 5,3%

Foto : Sumber: BPS - KJ/and - KORAN JAKARTA/ONES
A   A   A   Pengaturan Font

JAKARTA - Pemerintah harus bekerja keras pada semester II-2023 agar bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan sebelumnya 5,3 persen pada tahun ini. Perlunya kerja keras itu karena pada semester I-2023, baik di triwulan I maupun kuartal II, belum mencapai target tersebut.

Laju pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester-I 2023 sebesar 5,11 persen secara tahunan atau year on year/ yoy, menurun dibandingkan semester I-2022 sebesar 5,25 persen. Sementara secara triwulanan, laju pertumbuhan ekonomi triwulan II-2023 sebesar 5,17 persen yoy, sedikit lebih tinggi dari triwulan I-2023 sebesar 5,04 persen.

Peneliti Indef, Eko Listyawan, dalam keterangannya di Jakarta, Selasa (8/8), mengatakan meskipun meningkat, pertumbuhan triwulan II-2023 lebih rendah dari capaian periode yang sama tahun 2022, yaitu 5,46 persen. Selain itu, capaian pertumbuhan ekonomi sampai dengan semester I-2023 juga masih di bawah target asumsi makroekonomi APBN 2023 sebesar 5,3 persen.

Sementara itu, Peneliti Ekonomi Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan pemerintah masih punya dua triwulan lagi untuk mencapai pertumbuhan akumulatif 5,3 persen sepanjang 2023.

"Memang diperlukan langkah untuk mencapai target tersebut, misalnya menjaga tren pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang sebenarnya sudah relatif pada tren yang positif sampai dengan triwulan kedua kemarin. Masalahnya, kalau bicara di kuartal ketiga dan keempat salah satu hal yang kemudian perlu diantisipasi adalah dampak dari El Nino yang bisa berpengaruh terhadap kondisi inflasi di paruh kedua 2023," kata Rendy.

El Nino, jelasnya, akan berdampak pada peningkatan inflasi dan kalau tidak ada langkah mitigasi pemerintah maka kenaikan inflasi inilah yang kemudian bisa berpotensi menekan konsumsi rumah tangga," katanya.

Selain itu, kalau melihat kondisi ekspor yang mulai mengalami perlambatan juga perlu menjadi perhatian, dengan kondisi ekonomi global yang saat ini dipenuhi ketidakpastian dan harga komoditas yang relatif lebih rendah dibandingkan tahun lalu maka pertumbuhan ekspor bisa menghabiskan tren pertumbuhan melemah di paruh kedua 2023 ini.

"Ada pos lain yang kemudian perlu didorong untuk mengompensasi perlambatan pertumbuhan ekspor seperti investasi dan juga belanja pemerintah," katanya.

Untuk belanja pemerintah, dia menilai pemerintah punya ruang untuk mendorong belanja pemerintah bisa tumbuh lebih tinggi mengingat APBN sampai dengan semester pertama 2023 itu mencatatkan pertumbuhan yang positif.

Terlampau Tinggi

Terpisah, pengamat ekonomi Universitas Indonesia (UI), Teuku Riefky, mengatakan sebetulnya pertumbuhan ekonomi tidak mengalami kendala, hanya target pemerintah saja yang terlampau tinggi.

"Target tersebut yang relatif tinggi dan belum di-update dengan mencerminkan kondisi perekonomian saat ini," kata Riefky.


Redaktur : Vitto Budi
Penulis : Fredrikus Wolgabrink Sabini

Komentar

Komentar
()

Top