Penyelesaian Kasus Stunting Tidak Sesuai Target
📅 Kamis, 15 Jun 2023, 00:04 WIB | Oleh: Tim Redaksi
Doc: Sumber: Kementerian Kesehatan – Litbang KJ/and - K
»Perlu ada reorientasi pembangunan agar lebih inklusif dan lebih pro poor.
» Alokasi anggaran untuk stunting justru habis untuk rapat dan perjalanan dinas.
JAKARTA - Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) mengungkapkan penyelesaian kasus stunting di 378 daerah di Indonesia tidak sesuai dengan target dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024.
Kepala BPKP, Muhammad Yusuf Ateh, dalam Rapat Koordinasi Pengawasan Internal di Jakarta, mengungkapkan target yang belum sesuai target itu karena perencanaan dan penganggaran di daerah belum optimal.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Penyelesaian kasus stunting tidak sesuai target RPJMN pada 378 daerah, serta kualitas ruang kelas sekolah masih perlu ditingkatkan pada 241 daerah provinsi, kabupaten/kota," kata Ateh dalam sambutan Rapat Koordinasi Pengawasan Internal (Rakornas Wasin) 2023 di Jakarta, Rabu (14/6).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang hadir dalam kesempatan itu mengaku geram dengan penggunaan anggaran yang tidak jelas atau absurd di kementerian/lembaga dan pemda.
Jokowi menggambarkan kalau seandainya terdapat anggaran sebesar 10 miliar rupiah untuk penanganan tingkat kekurangan gizi kronis (stunting), seharusnya delapan miliar rupiah di antaranya untuk program yang berorientasi hasil dan dapat menurunkan stunting, seperti pemberian makanan penuh nutrisi bagi masyarakat. Namun kenyataannya, banyak anggaran yang tersalurkan untuk belanja pegawai, perjalanan dinas, dan lainnya.
Sebaiknya Anda baca juga:
"Saya baru saja minggu yang lalu saya cek di APBD di Mendagri. Coba saya mau lihat 10 miliar rupiah untuk stunting, saya cek, perjalanan dinas tiga miliar rupiah, rapat tiga miliar rupiah, penguatan pengembangan dua miliar rupiah. Yang benar-benar beli telur itu tak ada dua miliar rupiah. Kapan stunting-nya akan selesai kalau caranya seperti ini. Ini yang harus diubah semuanya," kata Presiden.
Belum Ada Perubahan
Ahli Pembangunan Sosial dan Kesejahteraan, Fisipol UGM, Hempri Suyatna, mengatakan masih banyaknya kasus stunting menunjukkan belum ada perubahan mendasar dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) yang andal.
Pembangunan dengan mengandalkan pembiayaan utama dari APBN ternyata masih terus saja berpihak kepada kaum konglomerat dan meninggalkan rakyat terbawah.
"Perlu ada reorientasi pembangunan agar lebih inklusif (dalam), lebih pro poor. Keberpihakan negara terhadap masyarakat marginal masih minim dan ini terlihat jelas betapa pembayaran bunga obligasi rekap puluhan triliun selama puluhan tahun itu tidak pernah dipertanyakan, padahal rakyat terbawah sangat memerlukannya," kata Hempri.
Dengan angka stunting 24,4 persen maka hal itu berarti setiap 4 bayi lahir, 1 di antaranya stunting. Kondisi tersebut dinilai cukup mencederai citra Indonesia dengan kapasitas perekonomian yang sudah masuk dalam kelompok 20 negara (G-20).
Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas.
Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".
Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.
Komentar (0)
Belum ada komentar.
Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!