Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Liverpool, Pusat Perdagangan Budak di Eropa

📅 Jumat, 10 Mei 2024, 06:10 WIB | Oleh:
Liverpool, Pusat Perdagangan Budak di Eropa Doc: afp/ Paul ELLIS

Selama lebih dari 100 tahun Liverpool telah menjual sebanyak 1,1 juta budak dari Afrika. Hasil penjualan budak ini digunakan untuk membangun kota, mengubahnya dari kota pelabuhan kecil tersebut menjadi kota metropolitan yang berkembang pesat pada akhir abad ke-18.

Ketika berada di Liverpool, wisatawan akan menemu nama nama jalan seperti Bold Street, Earle Street, Tarlton Stres, dan Cunliffe Street. Siapa mereka? Ya, mereka adalah pedagang budak terkenal ketika sistem ini belum dihapus.

Jalan-jalan ini tersebut bahan diabadikan dalam laguPenny Laneoleh The Beatles, sebuah band rock yang berasal dari kota itu. Penny dikaitkan dari nama pemilik kapal budak James Penny. Namun penyelidikan yang dilakukan oleh International Slavery Museum menemukan tidak ada bukti sejarah yang mendukung hubungan tersebut.

Untuk mengingatkan kembali akan sejarah kelam Liverpool, pada 2020 dewan kota Liverpool melakukan kontekstualisasi jalan-jalan yang ada dengan nama-nama pedagang budak itu, namun tidak akan menghapusnya. Mereka akan memberi pencerahan penting tentang sejarah terkenal kota tersebut yang dikenal sebagai salah satu pelabuhan perdagangan budak terbesar di dunia.

Antara 1696 dan 1807 ketika Inggris menghapuskan perdagangan budak, para pedagang Liverpool secara paksa mengangkut 1,3 juta orang Afrika. Mereka pria, perempuan, dan anak-anak dikirim ke Amerika melintasi Samudra Atlantik. Sekitar 180.000 orang dari mereka tewas di Jalur Tengah (Middle Passage) yang mematikan selama penyeberangan.

Jalur Tengah adalah tahap perdagangan budak Atlantik dimana jutaan orang Afrika yang diperbudak diangkut ke Amerika sebagai bagian dari perdagangan budak segitiga. Kapal-kapal berangkat dari Eropa menuju pasar Afrika dengan membawa barang-barang manufaktur, yang kemudian diperdagangkan dengan budak oleh penguasa negara-negara Afrika dan pedagang budak Afrika lainnya.

Sedangkan Jalur Pertama (First Passage) adalah perjalanan paksa para budak Afrika dari rumah mereka di pedalaman. Mereka ditangkap oleh suku lain atau oleh anggota suku mereka sendiri, di bawa ke pelabuhan Afrika tempat mereka dipenjarakan hingga dijual dan dimuat ke kapal.

Jalur Terakhir adalah perjalanan budak dari pelabuhan pendaratan di benua Amerika menuju perkebunan atau tujuan lain di mana mereka akan dipekerjakan. Jalur Tengah melintasi Atlantik bergabung dengan Jalur Pertama dan Jalur Terakhir.

Kapal budak mengangkut para budak melintasi Atlantik. Hasil penjualan budak kemudian digunakan untuk membeli produk seperti bulu dan kulit, tembakau, gula, rum, dan bahan mentah,yang akan diangkut kembali ke Eropa untuk melengkapi perdagangan segitiga tersebut.

Nicholas Radburn, dosen Sejarah Dunia Atlantik 1500-1800 di Universitas Lancaster dan David Eltis, profesor emeritus Sejarah di Universitas Emory, pernah menulis hal ini dalam lamanThe Conversationpada 4 Maret 2020 lalu. Sebagai editor database 36.000 perjalanan perdagangan budak, termasuk 5.000 perjalanan yang berangkat dari Liverpool, keduanya sangat menyadari perlunya menggambarkan skala perdagangan budak yang sangat besar namun melakukannya tanpa mengabaikan orang-orang Afrika yang diperbudak.

Untuk mencapai tujuan tersebut, Radburn dan Eltis menciptakan dua alat digital yang menunjukkan mengapa perdagangan budak tumbuh begitu besar. Seperti diketahui bahwa perdagangan ini telah memperkaya pedagang di kota-kota seperti Liverpool, dan meningkatkan kesengsaraan yang dialami para budak di Jalur Tengah.

Skala perdagangan budak transatlantik bisa sangat besar. Ini dimulai pada 1520, ketika Spanyol pertama kali membawa tawanan ke Karibia langsung dari Afrika. Kegiatan ini baru berakhir 350 tahun kemudian ketika setidaknya 40.000 kapal yang berlayar dimana hampir semua kekuatan Eropa dan Amerika terlibat dalam perdagangan tersebut.

"Kapal-kapal ini secara paksa mengangkut 12,5 juta orang yang diperbudak ke pelabuhan-pelabuhan Afrika yang membentang sepanjang 3.000 mil garis pantai. Armada tersebut menurunkan 10,7 juta orang yang selamat di koloni-koloni Amerika yang secara geografis lebih luas," tulis keduanya.

Migrasi Paksa

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Nasional
Dongkrak Kedatangan Turis, ...
Rona
Sering Melotot Belum Tentu ...
Daerah
RSUD Prambanan Ada Bau-bau ...
Daerah
Siswa Jalani Ujian Kenaikan...

Antisipasi Kemarau, Masa Tanam Dipercepat

35 menit yang lalu | Fajar Alim M

Ekonomi
Antisipasi Kemarau, Masa Ta...
Daerah
Cukup Bagus Hasil Penanaman...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

Murid Korban Kebakaran di Kemayoran Dapat 100 Paket School Kit dan Trauma Healing dari Kemendikdasmen

03 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.