Nasional Mondial Ekonomi Megapolitan Olahraga Rona The Alun-Alun Kupas Splash Wisata Perspektif Wawancara Foto Video Infografis
Sejarah Pangan

Lembah Indus, Tempat Pertanian Padi Bermula

Foto : Wikimedia
A   A   A   Pengaturan Font

Kawasan Lembah Indus menjadi awal bagi pertanian padi yang dikembangkan pada lebih dari 2000 SM lalu. Yang berbeda, mereka juga mengembangkan pola tanam polikultur, dengan menanam gandum, jelai, dan kacang-kacangan ketika musim dingin tiba.

Peradaban Indus yang berlangsung antara 2800 SM - 1800 SM, merupakan sebuah peradaban kuno yang hidup sepanjang Sungai Indus. Peradaban yang berkembang di Kota Mohenjo Daro dan Harappa saat ini berada di wilayah Pakistan dan India barat.

Para arkeolog mengungkapkan peradaban Lembah Indus merupakan peradaban kuno paling luas yang ditemukan setelah situs peradaban Mesopotamia dan Mesir. Pada tahun 1980 peradaban Lembah Indus ditetapkan sebagai situs warisan dunia oleh UNESCO.

Lembah Indus menjadi awal bagi pertanian padi. Penelitian yang dipublikasikan pada 2016 menyebutkan pertanian padi dimulai dari wilayah tersebut. Bahkan sistem pertanian tersebut telah dikembangkan jauh lebih awal dari yang diperkirakan sebelumnya yaitu 2000 sebelum masehi (SM) di Tiongkok.

Bukti awal penggunaan padi telah diketahui dari situs Lahuradewa di lembah tengah Gangga, namun telah lama diperkirakan bahwa pertanian padi domestikasi baru mencapai Asia selatan menjelang akhir era Indus, ketika padi lahan basah hadir di Tiongkok pada periode tersebut.

Sebuah tim peneliti yang dipimpin oleh arkeolog Universitas Cambridge menemukan bukti adanya padi peliharaan di Asia selatan sejak 430 tahun sebelum 2000 SM. Temuan tim ini, yang diterbitkan dalamJournal of Archaeological Sciencedan jurnalAntiquity, juga menegaskan bahwa para petani di Indus adalah orang-orang paling awal yang menggunakan strategimulti-croppingdi kedua musim.

Mereka menanam tanaman padi,millet, dan kacang-kacangan selama musim panas. Sebaliknya pada musim dingin menanam gandum, jelai dan kacang-kacangan. Praktik menanam tanaman berbeda ini bahkan masih berlangsung sampai sekarang.

"Sifat dan waktu domestikasi padi serta perkembangan budidaya padi di Asia selatan masih banyak diperdebatkan," kata para penulis dari Universitas Cambridge dikutip dariScience News. "Di Asia selatan bagian utara saat ini terdapat kesenjangan yang signifikan antara bukti paling awal mengenai eksploitasi padi liar dan bukti paling awal mengenai pemanfaatan padi hasil budidaya. Peradaban Lembah Indus, juga dikenal sebagai peradaban Harappa, berkembang dan menurun selama periode tersebut, dan terdapat perdebatan mengenai apakah beras diadopsi dan dieksploitasi oleh populasi Indus selama periode tersebut," imbuh para peneliti.

Para peneliti menemukan bukti proses domestikasi yang sepenuhnya terpisah di Asia selatan kuno, kemungkinan besar didasarkan pada spesies liarOryza nivaraatau beras merah dimana spesies padi ini dikenal kaya serat, vitamin dan mineral.

"Hal ini mengarah pada pengembangan lokal dari pertanian padi lokalOryza sativa indicayang merupakan perpaduan pertanian 'lahan basah' dan 'lahan kering' sebelum beras Tiongkok yang benar-benar 'lahan basah',Oryza sativa japonicahadir sekitar tahun 2000 SM," kata salah satu penulis utama Dr Jennifer Bates, dari Departemen Arkeologi dan Antropologi di Universitas Cambridge.

"Walaupun padi lahan basah lebih produktif dan dipraktikkan sebagian besar ketika diperkenalkan dari Tiongkok, temuan kami tampaknya menunjukkan bahwa sudah ada budaya produksi beras yang berkelanjutan dan bertahan lama di India sebagai tambahan dari penanaman musim panas di musim dingin peradaban Lembah Indus," lanjut dia.

Terkait Kondisi Lingkungan

Tim tersebut menyaring jejak butiran kuno di sisa-sisa beberapa desa Indus dalam beberapa mil dari situs yang disebut Rakhigari. Kota-kota Indus kuno yang baru-baru ini digali kemungkinan memiliki populasi sekitar 40.000 jiwa ketika itu.

Selain bahan pokok gandum dan jelai di musim dingin, serta kacang-kacangan di musim dingin seperti kacang polong danvetch. Para arkeolog juga menemukan bukti adanya tanaman musim panas seperti padi hasil budidaya,millet, dan kacang-kacangan tropis,urad, danhorsegram.

Hasil penanggalan radiokarbon mendapatkan informasi absolut pertama tanggal multi-tanam di Indus pada 2890-2630 SM untukmilletdan kacang-kacangan musim dingin, 2580-2460 SM untukhorsegram, dan 2430-2140 SM untuk padi.

Milletadalah sekelompok biji-bijian berukuran kecil, yang sekarang paling umum digunakan untuk pakan burung. Tanaman lain adalah kacangurad, kerabat kacang hijau, yang sering digunakan dalam jenisdhalIndia yang populer saat ini.

Berbeda dengan bukti di wilayah lain, lokasi desa di sekitar Rakhigari mengungkapkan bahwa tanaman musim panas tampaknya jauh lebih populer dibandingkan tanaman gandum musim dingin. Hal ini terkait dengan kondisi lingkungan yang ada.

"Hal ini mungkin disebabkan oleh variasi lingkungan di wilayah peradaban sebelumnya. Di dataran Ghaggar-Hakra yang tergenang air secara musiman, di mana pola curah hujan dan vegetasi yang berbeda-beda akan mendukung diversifikasi tanaman yang berpotensi menciptakan budaya pangan lokal di suatu wilayah tertentu," para ilmuwan menjelaskan.

"Berbagai hasil panen ini mungkin telah diangkut ke kota. Pusat-pusat perkotaan mungkin berfungsi sebagai tempat meleburnya produk-produk dari petani setempat, serta daging dan rempah-rempah, dan bukti adanya rempah-rempah telah ditemukan di tempat lain di kawasan ini," kata Dr Bates.

Meskipun belum diketahui tanaman apa yang dikonsumsi di Rakhigarhi, sangat mungkin bahwa perekonomian dari tanaman pangan berkelanjutan di zona Indus dicapai melalui penanaman berbagai jenis tanaman dan pilihannya adalah jenis tanaman dipengaruhi oleh kondisi lokal.

"Mungkin juga terjadi perdagangan dan pertukaran hasil panen antar populasi yang tinggal di wilayah berbeda, meskipun gagasan ini masih harus diuji. Sistem yang beragam seperti itu mungkin cocok untuk memitigasi risiko perubahan iklim," kata salah satu penulis utama Dr Cameron Petrie, juga dari Departemen Arkeologi dan Antropologi di Universitas Cambridge.

Menurut Petrie, masyarakat saat ini bisa saja berpindah dari pola tanam monokultur ke polikultur. Seperti diketahui sistem ini dapat membantu dalam mengendalikan populasi hama, meningkatkan populasi musuh alami dan meningkatkan karbon organik tanah dan sifat kimia tanah.

"Mungkin saja pertanian monokultur saat ini dapat belajar dari keanekaragaman tanaman lokal masyarakat Indus 4.000 tahun yang lalu," kata dia. hay/I-1


Redaktur : Ilham Sudrajat
Penulis : Haryo Brono

Komentar

Komentar
()

Top