Iklan — Scroll ke bawah untuk melanjutkan

Kembali Menelusuri Sejarah Kampung dan Keroncong Tugu

📅 Sabtu, 30 Sep 2023, 05:25 WIB | Oleh:
Kembali Menelusuri Sejarah Kampung dan Keroncong Tugu Doc: ANTARA/Aprillio Akbar
Ket. Warga keturunan Portugis menyalakan lilin saat ziarah ke makam anggota keluarga saat malam Natal di kompleks Gereja Protestan Indonesia Barat (GPIB) Tugu, Semper Barat, Cilincing, Jakarta Utara, Selasa (24/12/2019). Ziarah tersebut menjadi tradisi keluarga keturunan Portugis di Kampung Tugu menjelang Hari Raya Natal.

Bagi masyarakat Jakarta mungkin banyak dengan Kampung Tugu atau Keroncong Tugu. Musik keroncong Tugu dalam lagu Oud Batavia mengalun merdu membelai syahdu gendang telinga pada awal 50 peserta Walking Tour tiba di Kampung Tugu, Jakarta Utara.

Untuk memperingati Hari Pariwisata Sedunia, 50 peserta diundang mengikuti kegiatan Walking Tour di Kampung Portugis Tugu oleh Suku Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Kota Jakarta Utara berkolaborasi dengan Wisata Kreatif Jakarta, akhir September ini.

Andre Juan Michiels, keturunan warga negara Portugis generasi ke-10 yang tergabung dalam grup musik Krontjong Toegoe, menceritakan bahwa mereka adalah grup musik yang berdiri sejak 1988. Grup ini masih lestari sampai kini. Berangkat dari sejarah panjang, musik asli Indonesia yang lahir di kawasan berjuluk Kampung Portugis itu masih bisa dinikmati hingga sekarang.

Ini termasuk laguOud Bataviayang menceritakan tentang Batavia tempo dulu. Digambarkan suatu suasana masa lalu yang membuat penulis lagunya terkesan hingga terinspirasi menciptakan syair-syair unik dalam bahasa campuran Melayu dan Belanda.

Selesai bernyanyi, Andre pun coba mengenalkan sejarah Kampung Tugu yang merupakan salah satu kampung tertua Jakarta. Kampung ditempati nenek moyangnya (generasi pertama warga negara Portugis) sejak tahun 1661. Kaum Mardijkers (tawanan perang Belanda yang dimerdekakan dan dibawa ke Batavia) kemudian membuka lahan dan bercocok tanam, menangkap ikan, hingga berburu.

Adapun bukti sejarah bahwa Kampung Tugu tertua di Jakarta, antara lain terlihat dari keberadaan gedung Gereja Tugu, Cilincing, Jakarta Utara. Gedung tersebut terakhir dibangun kembali tahun 1747 oleh tuan tanah Belanda, Justinus van der Vinch, karena sempat rusak. Namun pembangunan kembali gedung itu tetap mempertahankan mimbar dan jendela yang masih autentik.

Hingga kini, Gereja Tugu masih bertahan dan digunakan sebagai tempat peribadatan masyarakat Tugu dan sekitarnya. Gedung gereja masih menghadap ke timur, bukan ke Jalan Raya Tugu di sisi utara. Hal itu karena dulu akses ke Kampung Tugu dari saluran Kali Gomati. Pada zaman itu, sungai tersebut merupakan akses utama masyarakat Tugu.

Kali Gomatidibangun abad V masa Kerajaan Tarumanegara di bawah kekuasaan raja ketiga, Purnawarman. Panjang Kali Gomati 6.112 tumbak atau sekitar 12 kilometer, selesai dibangun setelah digarap selama 21 hari. Selesai pembangunan Kali Gomati, Raja Purnawarman membuat Prasasti Tugu, yang kini tersimpan di Museum Nasional Indonesia (Museum Gajah) yang baru terbakar.

Prasasti Tugu diukir dengan huruf Pallawa dan sempat membuat terkesan Kaisar Naruhito dan Permaisuri Masako saat berkunjung ke Museum Nasional Indonesia Juni 2023 lalu. Prasasti Tugu menceritakan jejak sejarah manusia Nusantara yang menjaga lingkungan, khususnya pada tata kelola air. Kali Gomati kala itu dibangun untuk mengairi sawah dan mencegah banjir. Namun seiring perjalanan waktu, berkembang menjadi sarana lalu lintas perdagangan dan pelayaran antardaerah.

Kampung yang menyimpan sejarah masa lalu Jakarta itu masih bisa dinikmati hingga kini. Dari perjalanan sejarah Kampung Tugu itu hendaknya membuat warga belajar, betapa penting menjaga tradisi agar tetap lestari hingga nanti.

Peserta Walking Tour sebanyak 50 orang tersebut terdiri dari unsur komunitas,vlogger, pelajar, Abang None Jakarta Utara, dan sejumlah unit kerja perangkat daerah terkait.

Kasudin Parekraf Kota Jakarta Utara Shinta Nindyawati menyatakan bahwa generasi saat ini harus bangga bahwa Jakarta Utara memiliki kekayaan yang luar biasa, mulai dari sejarah, budaya, kearifan lokal mengelola air. Krontjong Toegoepun merupakan cikal bakal pertumbuhan musik keroncong di Indonesia. Jadi, kawasan Kampung Tugu, yang merupakan bangunan cagar budaya, harus dilestarikan.

Like, Share, Comment:

Komentar (0)

Belum ada komentar.

Kirim

Silakan login via Google untuk dapat memberi komentar!

Google Login dengan Google

Megapolitan
Jelang Pertunjukkan Teater ...
Daerah
Pemprov Jawa Timur Catat Po...
Nasional
Keren, Unika Atma Jaya Masu...
Daerah
BPJS Kesehatan Edukasi Pold...
  • Hunian Tamiang 4 Ditarget Rampung Juni 2026, Menteri PU Pastikan Tepat Waktu
    Preview komentar:
    Di bukit tempurung,kota kualasimpang,Dana perabot,ekonomi dan jadub aja ...
  • 39,7 Ton Sampah Diangkat dari Kali Sabi Tangerang
    Preview komentar:
    Bukan hanya di C2, C3 juga banyak yg ...
  • Jangan Asal Upload KTP dan NIK! Diskominfo Tangerang Peringatkan Risiko Penyalahgunaan Data.
    Preview komentar:
    Jika Pak RT meminta photovopy KK, guna pendataan, ...
Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

Wakil Menteri Imipas Silmy Karim Ditahan KPK

04 Jun 2026
Pilihan Pembaca
Indeks Berita Populer +
Advertisement
logo kj
Kami mendeteksi AdBlocker di browser anda


Website kami bergantung pada iklan untuk terus dapat menghadirkan jurnalisme berkualitas. Dukung kami dengan mengijinkan iklan tampil di browser anda.

Silakan non-aktifkan AdBlocker dengan cara:
- Klik ikon AdBlock pada area ekstensi browser (di bagian pojok kanan atas).
- Lalu klik pilihan untuk menonaktifkan atau pilihan "Don't run on this website / on this page".

Setelah itu Refresh / Muat Ulang halaman ini.